Perputaran Ekonomi Libur Nataru Dorong Ekraf Sumbang Rp24,46 Triliun ke PDB Nasional

0
52
Perputaran Ekonomi Libur Nataru Dorong Ekraf Sumbang Rp24,46 Triliun ke PDB Nasional
Perputaran Ekonomi Libur Nataru Dorong Ekraf Sumbang Rp24,46 Triliun ke PDB Nasional (Dok Foto: Kemenekraf)
Pojok Bisnis

Momentum libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 memberi dorongan besar bagi sektor ekonomi kreatif, terutama melalui peningkatan perputaran ekonomi libur Nataru yang meluas ke berbagai daerah. Data Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan sektor ekraf memberikan kontribusi langsung sebesar Rp 24,46 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari total tambahan PDB nasional Rp 48,56 triliun sepanjang periode liburan tersebut. Temuan ini memperlihatkan bagaimana momen liburan akhir tahun yang selalu ditunggu masyarakat menjadi salah satu katalis pertumbuhan konsumsi nasional.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa dampak ekonomi selama masa libur panjang tidak berhenti sebagai fenomena musiman. Menurutnya, pola lonjakan aktivitas yang terlihat sepanjang Nataru mengindikasikan adanya potensi besar yang bisa dirancang menjadi strategi berkelanjutan, terutama jika seluruh ekosistem ekonomi kreatif terus diperkuat dari hulu hingga hilir.

“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif mampu menjadi bagian penting dari fondasi perputaran ekonomi libur Nataru, bukan sekadar ikut terdorong oleh lonjakan konsumsi,” ujar Teuku Riefky dalam acara paparan kinerja pada Jumat, 9 Januari 2026. Ia menyebutkan bahwa integrasi program kreatif dengan agenda wisata dan rekreasi tahunan akan memperluas peluang bagi pelaku industri di berbagai wilayah.

Tren Belanja Liburan Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif

Kajian terbaru Kementerian Ekraf mengonfirmasi adanya perubahan perilaku masyarakat yang semakin tertarik pada produk kreatif dalam berbagai kategori. Kuliner, fesyen, kriya, serta layanan berbasis hiburan mengalami peningkatan permintaan signifikan. Jenama lokal di berbagai daerah juga merasakan dampak langsung melalui kenaikan penjualan, terutama di destinasi wisata yang padat pengunjung.

PT Mitra Mortar indonesia

Google Trends mencatat lonjakan minat masyarakat terhadap kuliner pada 28 Desember 2025, diikuti peningkatan pencarian terkait hotel pada 31 Desember 2025 menjelang pergantian tahun. Sementara itu, pada 25–26 Desember 2025, minat terhadap aktivitas hiburan keluarga—termasuk bioskop—berada pada level tertinggi. Pola konsumsi ini memperlihatkan bahwa ekraf memiliki keterkaitan kuat dengan ritme liburan masyarakat, sehingga pemetaan kebutuhan menjadi elemen penting bagi pelaku usaha untuk menyiapkan stok dan strategi promosi.

Survei kinerja usaha yang dilakukan kementerian juga menunjukkan bahwa 76,93 persen pelaku ekraf mengalami kenaikan penjualan selama masa liburan, sementara 73,08 persen mencatat peningkatan keuntungan. Mayoritas merupakan pelaku berskala mikro yang bergerak di subsektor kuliner, fesyen, dan kriya. Kenaikan ini menegaskan bahwa perputaran ekonomi libur Nataru tidak hanya menggerakkan sisi konsumsi, tetapi juga memperkuat dasar usaha mikro dalam memperluas pasar.

Kontribusi Subsektor dan Peluang Penguatan Ekosistem

Pengeluaran wisatawan selama libur panjang sebagian besar dialokasikan untuk transportasi dan akomodasi. Namun, belanja produk kreatif seperti makanan, cinderamata, dan ritel mencapai rata-rata Rp 858 ribu per orang. Angka ini mempertegas sisi permintaan yang terus tumbuh dalam rantai konsumsi wisata, sehingga memperluas peluang penguatan kapasitas bagi pelaku ekraf.

Dari aspek kontribusi PDB, subsektor kuliner menempati porsi terbesar dengan nilai Rp 19,9 triliun. Fesyen berada di posisi kedua dengan Rp 3,9 triliun, disusul subsektor kriya senilai Rp 0,24 triliun. Pemerintah menilai data tersebut menjadi dasar penting untuk memperkuat rantai pasok, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas akses pembiayaan agar pelaku kreatif dapat merespons lonjakan permintaan secara optimal.

Menteri Teuku Riefky menekankan bahwa keberhasilan ekraf selama Nataru harus dijadikan fondasi untuk pengembangan program jangka panjang. “Jika momentum puncak liburan dapat dioptimalkan melalui Pasar Ekraf dan penguatan ekosistem terintegrasi, maka kontribusinya bukan hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkukuh daya saing jenama lokal,” ujarnya.

Dengan tren konsumsi yang semakin berpihak pada produk kreatif, pemerintah menilai perputaran ekonomi libur Nataru akan terus menjadi salah satu mesin penggerak sektor ini. Hal tersebut membuka ruang pengembangan yang lebih besar bagi para pelaku usaha menuju tahun-tahun berikutnya.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan