
Dolar AS melemah tipis pada awal pekan, Senin (1/12/2025), seiring pasar global terus mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat menjelang pertemuan penting Federal Reserve bulan ini. Pergerakan mata uang Negeri Paman Sam itu berlangsung hati-hati, dipengaruhi kombinasi ekspektasi pemangkasan suku bunga serta sederet data ekonomi yang menunjukkan perlambatan.
Menurut laporan Investing.com pada Selasa (2/12/2025), indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun sekitar 0,2 persen ke posisi 99,25. Penurunan tipis ini terjadi setelah pelaku pasar memperbesar spekulasi bahwa The Fed semakin dekat pada keputusan memangkas suku bunga, seiring tanda-tanda tekanan inflasi yang mulai mereda dan laju pertumbuhan ekonomi yang tidak sekuat sebelumnya.
Dalam beberapa hari terakhir, harga pasar uang bahkan menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga seperempat poin mencapai hampir 88 persen pada pertemuan The Fed 9–10 Desember—melonjak dari sekitar 40 persen hanya sepekan lalu. Pergeseran ekspektasi ini menjadi faktor signifikan yang membuat dolar AS melemah di pasar global.
Sementara itu, dinamika politik ikut menambah ketidakpastian. Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa ia telah menentukan pilihannya untuk Ketua Federal Reserve berikutnya, meski belum mengungkapkan nama. Laporan yang beredar menyebut tiga kandidat tengah dipertimbangkan: penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, serta petahana Christopher Waller. Hassett disebut menjadi kandidat terkuat, meski dirinya merespons secara santai dengan mengatakan siap jika memang diberi amanah.
Pergeseran Kepemimpinan The Fed dan Respons Pasar Global
Perubahan kursi Ketua The Fed menjadi perhatian besar karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah analis menilai Trump berpotensi memilih sosok yang lebih dekat secara pandangan politik, terutama terkait seruannya yang berulang agar The Fed menurunkan suku bunga secara lebih agresif. Jika skenario itu terwujud, pasar mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan bernada dovish, yang pada akhirnya dapat semakin menekan kinerja dolar dan membuat dolar AS melemah lebih panjang.
Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan memberikan pernyataan publik dalam agenda terpisah, namun sebagai bagian dari masa pra-pertemuan, ia diperkirakan tidak akan menyampaikan sinyal baru mengenai arah suku bunga.
Di sisi lain, yen Jepang menguat sekitar 0,15 persen setelah Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyebut bahwa bank sentral akan mempertimbangkan secara hati-hati “pro dan kontra” kenaikan suku bunga dalam pertemuan 18–19 Desember. Pernyataan tersebut dianggap pasar sebagai sinyal bernada hawkish, memperkuat peluang Jepang melakukan pengetatan lanjutan setelah sebelumnya keluar dari kebijakan suku bunga negatif.
Penguatan yen juga didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang, yang mencerminkan meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut.




