Rp 25 Juta/Bulan dari Telur Semut Rangrang

0
2279
kroto (dok bebeja.com)

Saat orang lain mengeluh terhadap keberadaan semut rangrang atau semut merah yang menyerang tanamannya, Marya Ulfa yang akrab dipanggil Ulfa justru menikmati rezeki dari hewan kecil ini atau sering ia sebut “si merah”.

Hal itu tak lain karena semut rangrang bisa menghasilkan telur berupa campuran larva dan pupa yang biasa disebut kroto. Semut rangrang memiliki ciri membuat sarang pada pohon. Tubuh semut rangrang lebih besar dan perilakunya lebih agresif daripada semut lainnya.

Semut rangrang atau Oecophylla smaragdina menghasilkan kroto yang terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena kroto populer sebagai umpan ikan, dan makanan tambahan untuk meningkatkan kicauan burung.

Para penggemar burung memberi kroto yang kaya protein dan vitamin untuk burung peliharaannya, demi kepuasan mereka mendengarkan kicauan burung yang merdu, atau untuk menyiapkan burung mengikuti lomba burung pedendang.

Awal perkenalan Ulfa dengan kroto dimulai sejak dua tahun lalu, ketika ia mengamati banyak pemelihara burung di daerah Pati Jawa Tengah membutuhkan kroto sebagai pakan. Ulfa langsung tertarik karena menurut pengamatannya kroto memiliki prospek usaha yang bagus.

Kebetulan sang paman, Anis Pristiyo sudah lebih dulu membudidayakan kroto dan menawarkan usaha kroto ini kepadanya. Sekitar awal tahun 2010, Ulfa membudidayakan kroto dengan terlebih dahulu mencari indukannya yaitu semut rangrang di alam.

Pertama kali Ulfa menggunakan media bambu untuk memelihara semut rangrang, tetapi ia kemudian merasa kesulitan pada waktu panen kroto yang dihasilkan oleh semut rangrang  tersebut karena kroto ada di dalam bambu sehingga sulit mengambilnya.

“Bambu harus dipecahkan terlebih dahulu dan akibatnya kroto susah ditangani,” cetusnya.

Ulfa kemudian mengikuti pelatihan budidaya kroto dalam media toples di Yogyakarta selama 1 bulan dengan 4 kali pertemuan. Mulai dari sana Ulfa serius mendalami usaha ini dengan modal awal yang dikeluarkan waktu itu sekitar Rp 3 juta.

Modal tersebut ia gunakan untuk mengikuti pelatihan budidaya kroto sebesar Rp 1 juta, dan sisanya untuk membeli peralatan dan perlengkapan usaha. Dari situlah sedikit demi sedikit usahanya berkembang hingga sekarang. Lokasi budidaya kroto ini awalnya dilakukan di rumah pamannya yang terletak di daerah Dk.Lebak Kulon Rt 04/07 Ds.Sukolilo Pati Jawa Tengah, selanjutnya dikembangkan di rumahnya di Bogor Jawa Barat.

Di salah satu ruangan rumahnya, ia membuat 5-8 rak bambu ukuran 1×2 meter untuk menampung toples sekitar 100-150 buah per rak.  Menurut Ulfa untuk budidaya kroto tidak boleh dilakukan di tempat terbuka yang terkena sinar matahari langsung atau kehujanan, namun sebaiknya di dalam ruangan.

Prospek dan Persaingan

Wanita kelahiran tahun 1988 ini menilai kroto akan menjadi komoditi yang menjanjikan. Pasalnya dengan meningkatnya bisnis ikan hias dan bisnis burung tentunya kebutuhan kroto akan meningkat. Apalagi persediaan semut rangrang penghasil kroto di alam bebas semakin terbatas.

Banyaknya kebutuhan kroto di pasaran yang meningkat membuat pencari kroto di alam bebas semakin kesulitan. Bahkan di daerah Jawa Tengah sudah ada aturan dari Pemda setempat dilarang untuk mencari kroto di alam bebas. Maka dengan ternak kroto di dalam media toples ini memberikan cara yang mudah dengan hasil yang menggiurkan. Selain itu pelaku usaha ini masih tergolong minim, yang akan membuat usaha ini semakin cerah ke depannya.

Dari segi persaingan, Ulfa tak menganggapnya sebagai kendala berat. Saat ini persaingan datang dari pelaku usaha pakan alami lainnya seperti ulat, namun kroto juga menjadi pakan alami yang mengandung vitamin serta protein.

Harga

Kroto yang dijual Ulfa berupa larva seharga Rp 10-15 ribu/ons dan Rp 135-150 ribu/kg. Harga tersebut untuk pasar daerah Jawa Timur,  sedangkan di luar Jatim harga bisa naik sekitar 10%. Kelebihan kroto yang dibudidaya Ulfa mempunyai hasil kroto yang berkualitas dengan ciri kroto tidak menggumpal, berbutir bersih seperti beras dan kadar air sedikit sehingga sangat bagus untuk pakan burung. Kroto yang berkadar air tinggi seperti yang terdapat di alam karena faktor cuaca, bisa memberi dampak negatif jika dijadikan pakan burung karena bisa mengakibatkan suara burung menjadi serak.

Tak hanya kroto, Ulfa juga menjual semut rangrang (bibit penghasil kroto) seharga Rp 75 ribu/toples ukuran 1 liter dan Rp 165 ribu/toples ukuran 5 liter.

Pemasaran.

Sejak awal usaha Ulfa tidak mengalami kesulitan apapun dalam memasarkan kroto karena ia langsung menawarkan ke peternak burung dan ke pasar-pasar burung di daerah Jawa Timur. Bahkan sekarang konsumen yang datang mencari. Berapa pun stok kroto yang ada pasti habis diserbu pelanggan. Selain itu ia melakukan promosi lewat website.

“Sekarang yang menjadi pelanggan saya dari kalangan pengepul, dan saya mempunyai lima orang pengepul atau distributor tetap yang tersebar mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat,” tutur Ulfa.

Untuk pemesanan, para pembeli biasa menelepon Ulfa terlebih dahulu. Namun tak jarang juga pembeli langsung mendatangi lokasi penjualan di rumahnya. Saat ini, Ulfa tak hanya bertindak sebagai pembudidaya, tetapi juga berperan sebagai pengepul dengan berpartner dengan sesama pembudidaya yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ulfa menerapkan ketentuan minimum order untuk pembelian bibit penghasil kroto (semut rangrang) minimal sebanyak 50 toples akan mendapat potongan harga sekitar 10% dan untuk pembelian kroto tidak ada batas minimal, berapa pun dilayani. Tetapi khusus luar kota, minimal pembelian 10 kg kroto akan diberikan diskon 10%.

Pengiriman ke luar daerah diberikan penambahan harga yang disesuaikan dengan jarak. Ulfa mengemas kroto menggunakan besek/kotak anyaman bambu berukuran 20×30 cm, dan untuk pengiriman jarak jauh besek bambu tersebut dibungkus dalam kardus dan ditutup rapat.

Disinggung soal kapasitas penjualannya, Ulfa mengaku mampu menjual kroto sampai 100 kg per bulan, dan tak jarang hampir kewalahan memenuhi permintaan. Cara mengatasinya ia bermitra dengan 10 peternak semut rangrang (bibit penghasil kroto) yang tersebar di wilayah Jatim dan Jateng, dengan pelanggan sampai ke Kalimantan, Sumatera, dan Bali.

Dengan kapasitas penjualan kroto per bulan sebanyak 100 kg seharga Rp 135 ribu-Rp 150 ribu/kg dan 100-150 toples bibit kroto seharga Rp 75-165 ribu per toples ukuran 1 atau 5 liter, maka Ulfa bisa meraih omset hingga Rp 25,5 juta per bulan dengan keuntungan sekitar 66% atau sekitar Rp 17 juta per bulan.

Ulfa ingin ke depan memperluas wilayah pemasarannya hingga tingkat nasional. Kini ia sedang memperbesar usaha untuk menjangkau pemasaran di daerah Jabotabek dan Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.