Untung Besar dari Bisnis Budidaya Lobster Air Tawar

0
4080
Budidaya lobster air tawar (dok agronet.co.id)

Memiliki warna biru yang cerah disertai bentuk tubuh yang terlihat kekar dan anggun menjadikan lobster air tawar menarik dijadikan hiasan untuk aquarium. Tetapi dengan kandungan protein yang tinggi dan kolesterol lebih rendah dari lobster air laut, lobster ini pun sangat cocok dikonsumsi sehingga bisa menggantikan posisi lobster air laut yang sangat mahal.

Ciri yang paling membedakan, lobster air laut memiliki 5 pasang kaki, sedangkan lobster air tawar ini hanya memiliki 4 pasang kaki, yang mana kaki ke-5 berbentuk capit.

Beberapa jenis lobster air tawar yang dibudidayakan, yakni Red Claw (Cherax quadricarinatus) dan Cherax destructor. Yang paling banyak dibudidaya saat ini adalah jenis Red Claw karena rasanya lebih enak dengan ciri-ciri yang sangat khas pada capitnya yang berwarna merah, khususnya untuk jenis lobster jantan. Bobot maksimal lobster jenis ini bisa mencapai 800 gr dan bisa bertahan hidup sampai 5 tahun.

Lobster air tawar mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak tahun 2000. Lobster ini berasal dari Australia tepatnya Queensland. Dengan penampilannya yang cantik, awalnya lobster ini memang baru dijadikan sebagai hiasan di aquarium. Karena manfaat dan rasa gurih yang tidak jauh berbeda dengan lobster air laut, maka lobster ini lambat laun dikonsumsi.

Apalagi jika hanya dijadikan hiasan di aquarium perputaran penjualannya akan sangat lambat, sedangkan pasokan pembenihan berlebih, sehingga banyak masyarakat yang beralih membudidayakan keluarga udang ini untuk konsumsi sehingga perputaran permintaan sangat cepat.

Prospek dan Persaingan

Pemeliharaan yang mudah dan tahan terhadap penyakit menjadikan lobster air tawar lebih unggul dibandingkan lobster air laut, Udang Vaname, maupun Udang Windu. Di antara pembenihan dan pembesaran lobster air tawar, usaha pembesaran memiliki prospek yang lebih bagus. Saat ini menurut Cuncun pelaku usaha pembenihan lebih banyak dibandingkan usaha pembesaran, yang tentu akan berdampak pada over suplai benih,  padahal benih lobster bisa dibilang merupakan produk setengah jadi.

Namun usaha pembesaran membutuhkan lahan yang cukup luas sehingga modal yang dibutuhkan juga cukup besar. Dari kenyataan yang ada, orang yang mempunyai modal besar banyak berlokasi di kota besar, sedangkan di kota besar lahan sudah begitu padat. Mau tidak mau, usaha ini harus dilakukan di pinggiran kota besar.

Di samping itu usaha pembesaran juga membutuhkan pengawasan dalam pemeliharaan kolam, sehingga pemilik bisa bekerja sama dengan masyarakat pinggiran kota untuk menjalankan usaha tersebut. Bentuk kerja sama bisa berupa mitra/petani plasma atau dengan pengangkatan pegawai.

Untuk mengembangkan usaha lobster di Indonesia menurut Cuncun sebenarnya pemerintah sudah berupaya membantu masyarakat dengan memberikan dana pinjaman pada calon peternak sekitar Rp 40 juta/orang.

Sayang karena banyak calon peternak yang tidak memiliki pola pikir menjadi wirausaha, maka usaha itu pun gagal akibat tidak sedikit calon pelaku yang justru menyalahgunakan dana yang diberikan, misalnya untuk membeli kendaraan atau belanja kebutuhan rumah tangga.

Di luar itu ada juga perusahaan pakan dan benih yang memanfaatkan peternak dengan memberikan harga pakan dan benih yang sangat tinggi. Untuk itu menurut Cuncun, sebelum dibukanya usaha budidaya lobster sebaiknya masyarakat diberikan informasi, pengetahuan dan pelatihan tentang usaha dan cara budidaya lobster.

Pemasaran

Gusman Muhammad Ramdan, (Pemilik Walkamin Indonesia/pelaku ekspor-impor lobster air tawar) mengatakan, bahwa pasokan lobster air tawar Indonesia baru memenuhi sekitar 50% jumlah permintaan nasional dan 4-5% permintaan ekspor. Beberapa negara yang kerap memesan lobster dari Indonesia, yakni Korea, Jepang, dan Singapura.

Sedangkan permintaan nasional lebih banyak berasal dari Jakarta dan Bali. Para pelaku pembenihan biasanya langsung menjual benihnya ke usaha pembesaran, tetapi ada juga pelaku kecil yang menjual benihnya pada supplier. Pada usaha pembesaran, lobster akan dijual langsung pada restoran atau seperti biasa melalui supplier/pengepul terlebih dahulu.

Saat ini harga benih mencapai Rp 2.200/ekor (ukuran 2” umur 2 bulan), sedangkan lobster siap konsumsi (ukuran 100 gr/5-6”) di tingkat petani mencapai Rp 90 ribu/kg, tingkat supplier Rp 125 ribu/kg, dan di tingkat eceran mencapai Rp 150-220 ribu/kg.

Packaging yang baik dan ekonomis untuk pengangkutan benih lobster yakni dengan menggunakan box styrofoam. Di dalamnya, gunakan lapisan busa tipis basah yang telah diperas, kemudian letakkan benih lobster di atasnya, lapisi lagi dengan busa tipis basah yang telah diperas begitu seterusnya sampai 5 lapis.

Lebih Untung Pembibitan Lobster

Keuntungan usaha pembenihan lebih besar dibandingkan usaha pembesaran. Hal itu terlihat dari usaha pembesaran lobster air tawar yang dilakukan oleh Budi Lewiyanto (pemilik Buana Intisarana Farm) yang mendapat untung 30% dan pembenihan yang dilakukan Fahdiansyah Rambe (Islamic Lobster Center) meraup untung sampai 81%. Usaha pembenihan juga bisa diawali dengan modal yang lebih kecil.

Sebagai contoh, untuk menghasilkan benih sebanyak 1.000-2.000 ekor ukuran 2” cukup menggunakan tempat seluas 1×1,5 m dan akan memberikan omset senilai Rp 2,2 juta setelah proses pembenihan lobster air tawar selama 6 bulan, sedangkan usaha pembesaran dengan luasan dan waktu panen yang hanya selisih 1 bulan lebih cepat, akan menghasilkan lobster air tawar siap konsumsi sebanyak 1 kg saja (berisi 10-15 ekor) dengan harga Rp 200 ribu/kg saat dipanen setelah 5 bulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.