Sedot Omset Ratusan Juta dari Es Cendol Elizabeth Bogor

0
5611
es cendol (dok stagramer.com)

Siapa tidak kenal es cendol?. minuman yang satu ini banyak diminati masyarakat karena rasanya yang manis dan sensasi segar ketika diminum. Lantaran banyak penikmatnya, gerai penjaja es cendol tidak pernah sepi dari pembeli.

Salah satunya adalah Slamet Ikhwan yang mengusung brand Es Cendol Elizabeth Bogor yang memulai usahanya sejak 1998 lalu. Menurut Slamet, kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya, terlebih jika melihat awal usahanya yang hanya mengikuti sang kakak H. Rohman di Bandung yang merupakan pencetus es Elizabeth ini.

Melambungnya nama Es Cendol Elizabeth Bogor tidak lepas dari kegigihan Slamet mempertahankan kualitas rasa produknya. Selain itu dengan berbagai promosi yang dilakukan mulai dari mulut ke mulut, hingga tidak pernah absen mengikuti berbagai event besar yang diadakan baik di Kota Bogor maupun Jakarta membuat nama Es Cendol Elizabeth Bogor banyak dikenal.

Berbahan Alami

Slamet menjamin es cendol buatannya lebih sehat karena menggunakan bahan-bahan alami, misalnya saja untuk pewarna cendol Slamet lebih memilih menggunakan daun suji sebagai pengawet alaminya dari pada menggunakan pengawet buatan. Walau memiliki daya tahan yang lebih singkat hanya tiga hari, namun pemilihan penggunaan daun suji ini bertujuan agar aman dikonsumsi semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Untuk harganya, kami menjual satu cup es cendol itu dengan harga Rp 6 ribu,” jelasnya

Tak hanya itu, ia juga menggunakan bahan alami sebagai pewangi cendol dari daun padan bukan dari pewangi buatan. Sedangkan untuk bahan pemanis Slamet menggunakan gula merah khas Surade, Sukabumi yang diambil langsung dari tempat produksinya.

“Gula merah asal Surade ini memang terkenal dengan cita rasa manisnya lebih legit namun tidak meninggalkan rasa pahit pada gulanya, makannya keluarga saya sudah mempercayakan gula ini sebagai pemanisnya,” ungkapnya.

Cendol buatan Slamet juga memiliki tekstur yang kenyal namun tetap lembut. Karena Slamet menggunakan dua jenis tepung, yakni tepung beras dan tepung sagu. Tepung beras sebagai bahan utama berfungsi menghasilkan tekstur padat, sedangkan tepung sagu bisa menciptakan sensasi kenyal saat dikunyah.

Kemitraan

Sejak resmi buka, sudah banyak masyarakat yang meminta kerja sama sebagai mitra, hal ini tidak terlepas karena prospeknya cukup bagus. Namun untuk kemitraan baru ditawarkan Slamet pada Desember 2009.

Bagi yang tertarik menjadi Mitra, investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 8 juta. Dengan investasi tersebut, Mitra akan mendapatkan berbagai keperluan usaha seperti booth/gerobak, perlengkapan seperti termos dan lain-lain serta yang paling menarik dari kontrak kerja sama ini tidak ada batasnya atau berlaku seumur hidup.

“Kita juga memberikan produk cendol untuk jualan perdana sebanyak 50 gelas,” jelasnya.

Dalam kerja sama ini Mitra tidak dikenakan biaya royalti maupun biaya lainnya. Dari pembelian paket tersebut Mitra sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk berjualan, Hanya saja Mitra perlu menyiapkan karyawan dan tempat usaha strategis seperti contohnya di mal atau tempat keramaian lainnya.

Diakui Slamet, yang mengikat antara Mitra dan pusat terutama untuk Mitra yang berada di Jabodetabek ialah pembelian bahan baku yaitu satu paket yang terdiri atas cendol, santan dan gula yang bisa digunakan untuk 10 gelas dengan harga Rp 16 ribu.

Sementara untuk cup, Mitra tidak wajib membeli dari kantor pusat. Namun demikian, cup yang dipakai sebaiknya tetap disesuaikan dengan standar pusat. “Kami mempunyai cup dengan merek Es Cendol Elizabeth, namun kami tidak mewajibkan Mitra beli cup dari kami. Mitra usaha bisa membeli dari luar,” katanya.

Balik Modal

Slamet mengatakan Mitra Es Cendol Elizabeth bisa balik modal dalam waktu 1-5 bulan, dengan asumsi sehari mampu menjual minimum 50 porsi Es Cendol atau mendapatkan pemasukan sebesar Rp 300 ribu per hari. Artinya dalam satu bulan omset yang diperoleh sebesar Rp 9 juta dengan laba bersih hingga 50%.

Slamet menjanjikan, dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan mitra sudah bisa balik modal. “Itu tergantung jumlah penjualan juga. Ada mitra kita yang balik modal hanya dalam waktu satu bulan,” klaimnya.

Slamet menyadari saat ini banyak usaha sejenis dengan konsep serupa mulai meramaikan persaingan. Namun ia mengatakan setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing, tinggal bagaimana kita menjaga mental untuk tetap mau berusaha.

Karena itu, Slamet mengimbau Mitranya tidak menjadikan persaingan sebagai hambatan, jadikan pesaing sebagai cambuk untuk bekerja lebih giat dan keras lagi karena memang Es Cendol Elizabeth memiliki keunggulan dibanding yang lain.

Prospek dan Kendala

Tidak banyak kendala yang dihadapinya dalam menjalankan usaha ini. Hanya saja masalah keuletan seorang Mitra dalam mengembangkan usaha ini kadang menjadi hambatan mereka dalam mengembangkan usahanya.

Dilihat dari prospeknya sendiri Slamet mengaku usaha Es Cendol ini masih sangat menjanjikan karena selain karena usaha kuliner sangat dibutuhkan banyak orang, Es Cendol juga merupakan minuman favorit terutama sebagai teman berbuka puasa seperti pada bulan Ramadhan saat ini.

“Prospek sangat bagus hal tersebut bisa dilihat dari jumlah omset dari usaha saya yang mencapai Rp 150 juta dan jumlah Mitra saya yang saat ini mencapai 300 mitra tersebar di Jabodetabek dan Banten,” jelas Slamet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.