Peran pedagang mi dan bakso dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan kembali mendapat perhatian pemerintah. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menilai keberadaan asosiasi usaha menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat daya saing pelaku UMKM sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi antar skala usaha di Indonesia.
Hal itu disampaikan Maman saat menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Pengusaha Mi dan Bakso Indonesia (Apmiso) DKI Jakarta dalam ajang Inabuyer B2B2G Expo 2026 di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, visi besar pemerintah saat ini adalah menciptakan keadilan ekonomi yang lebih merata, terutama bagi pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Dalam konteks tersebut, pedagang mi dan bakso dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang apabila didukung oleh organisasi usaha yang kuat dan solid.
Maman menjelaskan, asosiasi usaha bukan hanya menjadi tempat berkumpul para pelaku UMKM, tetapi juga berfungsi sebagai sarana memperluas jaringan bisnis, meningkatkan kapasitas usaha, hingga membuka akses pembiayaan yang lebih mudah.
Ia mencontohkan kolaborasi yang dibangun antara Apmiso dengan sektor perbankan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kerja sama seperti ini diyakini mampu membantu pedagang mi dan bakso memperoleh modal usaha dengan akses yang lebih terjangkau.
“Kalau asosiasi berjalan kuat, maka kemampuan usaha anggotanya juga akan semakin besar. Dukungan pembiayaan hingga kemitraan usaha bisa lebih mudah terbentuk,” ujar Maman dalam sambutannya.
Asosiasi Dinilai Jadi Jembatan UMKM dan Pemerintah
Selain memperkuat akses modal, pemerintah juga menilai keberadaan asosiasi sangat penting sebagai penghubung antara pelaku UMKM dan pembuat kebijakan. Dengan adanya komunikasi yang terstruktur, aspirasi para pelaku usaha bisa lebih cepat tersampaikan kepada pemerintah.
Menurut Maman, kondisi di lapangan sering kali membutuhkan kebijakan yang spesifik dan sesuai kebutuhan usaha kecil. Karena itu, asosiasi seperti Apmiso diharapkan mampu menjadi representasi suara para pedagang mi dan bakso di berbagai daerah.
Ia menambahkan, sinergi antara asosiasi, koperasi, dan lembaga keuangan berpotensi mempercepat pertumbuhan ekonomi sektor UMKM. Pemerintah pun mendorong terciptanya kolaborasi yang berkelanjutan agar pelaku usaha kecil semakin naik kelas.
“Kami ingin asosiasi menjadi ruang yang mampu mempercepat pengembangan usaha anggota, termasuk menciptakan peluang ekonomi baru,” katanya.
Maman juga menegaskan bahwa sektor kuliner tradisional seperti mi ayam dan bakso memiliki peluang besar untuk berkembang hingga pasar internasional. Menurutnya, penguatan organisasi usaha dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas promosi produk kuliner lokal ke tingkat global.
UMKM Kuliner Seperti Pedagang Mi dan Bakso Didorong Naik Kelas
Sementara itu, Dudung Abdurachman yang juga menjadi pembina Apmiso menilai kolaborasi antar pelaku usaha dan pemerintah menjadi kunci penting dalam memperkuat UMKM nasional.
Ia mengatakan masih banyak tantangan yang dihadapi pedagang mi dan bakso, mulai dari akses permodalan, stabilitas harga bahan baku, hingga pengembangan usaha. Karena itu, asosiasi diharapkan dapat menjadi wadah penyelesaian berbagai persoalan tersebut.
Dudung berharap pengurus Apmiso mampu menampung berbagai aspirasi anggota dan menyampaikannya kepada pemerintah secara aktif. Dengan begitu, berbagai program pemberdayaan UMKM bisa lebih tepat sasaran.
Pemerintah sendiri terus menargetkan sektor UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Dukungan terhadap usaha kuliner rakyat dinilai penting karena sektor ini memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi dan dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Ke depan, pemerintah berharap keberadaan asosiasi seperti Apmiso tidak hanya memperkuat solidaritas antar pelaku usaha, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan berdaya saing tinggi bagi para pedagang mi dan bakso di seluruh Indonesia.
