Momentum Ramadan Dimanfaatkan untuk Mendorong Konsumsi Produk Sendiri

0
141
Momentum Ramadan Dimanfaatkan untuk Mendorong Konsumsi Produk Sendiri
Momentum Ramadan Dimanfaatkan untuk Mendorong Konsumsi Produk Sendiri (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat selama bulan Ramadan menjadi salah satu penggerak penting bagi roda perekonomian nasional. Permintaan terhadap berbagai kebutuhan harian, terutama makanan, minuman, hingga pakaian menjelang Idulfitri, turut mendorong perputaran usaha mikro, kecil, dan menengah. Dalam momentum ini, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk lebih banyak memilih Produk Sendiri sebagai bagian dari upaya memperkuat industri dalam negeri.

Sejalan dengan itu, Kementerian Perindustrian kembali menggelar Bazaar Lebaran 2026 yang berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di Plasa Pameran Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mempermudah masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus memperkenalkan berbagai Produk Sendiri hasil industri nasional kepada publik yang lebih luas.

Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian, M. Rum, menjelaskan bahwa bazaar ini bukan sekadar agenda tahunan menjelang Hari Raya. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah promosi bagi industri dalam negeri, khususnya sektor agro dan produk konsumsi yang memiliki peran besar dalam menopang perekonomian.

Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini masyarakat semakin terdorong untuk mengenal sekaligus menggunakan Produk Sendiri yang diproduksi oleh pelaku industri nasional. Dengan begitu, rantai produksi dalam negeri dapat terus bergerak dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

PT Mitra Mortar indonesia

Industri Agro Jadi Penopang Ekonomi

Sektor industri agro selama ini menjadi salah satu pilar utama industri pengolahan nasional. Pada tahun 2025, sektor ini tercatat menyumbang sekitar 52,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas serta memberikan kontribusi sebesar 9 persen terhadap PDB nasional. Pertumbuhan sektor ini juga mencapai 4,95 persen sepanjang tahun tersebut.

Dari sisi perdagangan internasional, industri agro mencatatkan kinerja yang cukup kuat. Nilai ekspor sektor ini mencapai sekitar USD78,77 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar USD21,19 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan sektor agro menghasilkan surplus hingga USD57,58 miliar.

Selain kontribusi terhadap perdagangan, sektor ini juga memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Realisasi investasi industri agro pada 2025 mencapai sekitar Rp191,7 triliun dan mampu menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025. Capaian ini memperlihatkan bahwa sektor agro masih menjadi salah satu bidang industri yang menarik bagi investor sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Memasuki tahun 2026, optimisme pelaku industri juga masih terlihat dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada pada level 54,02. Angka ini menunjukkan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi, termasuk dalam meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.

Hilirisasi Dorong Nilai Tambah Industri

Pemerintah juga terus memperkuat struktur industri melalui program hilirisasi berbasis sumber daya alam. Strategi ini bertujuan menghubungkan sektor hulu dan hilir dalam satu ekosistem industri yang saling mendukung, sehingga mampu menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Melalui pendekatan klaster industri berbasis wilayah, sejumlah komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, dan sagu diarahkan untuk diolah menjadi berbagai produk turunan. Produk tersebut mencakup sektor pangan, farmasi, kosmetik, hingga bioenergi. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas dalam negeri secara signifikan.

Dalam sektor makanan dan minuman, pelaku industri juga telah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadan. Tingkat utilisasi industri makanan dan minuman saat ini berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang biasanya sekitar 60 persen.

Melalui kegiatan Bazaar Lebaran, pemerintah berharap masyarakat semakin mengenal kualitas Produk Sendiri sekaligus menjadikannya pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dukungan terhadap Produk Sendiri dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat industri nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

Bazaar Lebaran Kementerian Perindustrian tahun ini diikuti sekitar 80 perusahaan yang terdiri dari industri besar, menengah, serta pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Berbagai produk ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari minyak goreng, gula, roti, kopi, susu, yoghurt, cokelat, hingga makanan siap saji dan frozen food.

Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan produk nonpangan seperti kertas, tisu, minyak atsiri, porselen, batik, kerajinan kulit, hingga busana muslim. Keberagaman produk tersebut menunjukkan potensi besar industri nasional sekaligus memperkuat kampanye penggunaan Produk Sendiri di tengah masyarakat.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan