Satu Bulan Berjalan, Koperasi Merah Putih Mulai Rasakan Dampak Nyata

0
252
Satu Bulan Berjalan, Koperasi Merah Putih Mulai Rasakan Dampak Nyata
Satu Bulan Berjalan, Koperasi Merah Putih Mulai Rasakan Dampak Nyata (Foto/Kemenpar)
Pojok Bisnis

Tahun 2025 menandai babak baru kebangkitan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Dampak Koperasi Merah Putih mulai terlihat sejak peringatan Hari Koperasi Ke-78 yang digelar Senin, 21 Juli 2025 lalu, ketika Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka resmi meluncurkan program nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Program ini disebut sebagai simbol lahirnya kembali semangat gotong royong dengan wajah yang lebih modern, transparan, dan berbasis digital. Kehadiran koperasi yang terhubung dengan sistem digital diharapkan mampu menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan di tingkat desa maupun kelurahan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menekankan bahwa kelahiran 80.000 Koperasi Merah Putih tidak hanya sekadar rebranding, melainkan bentuk keberanian negara untuk mengembalikan koperasi pada fungsi utamanya. Menurutnya, koperasi dengan perencanaan yang matang dan pendekatan kreatif dapat berdampak signifikan pada berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, hingga pariwisata.

“Kami yakin keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat mendorong kolaborasi antarpelaku usaha di destinasi wisata sekaligus mengintegrasikan ekosistem lokal. Petani, pengrajin, penyedia akomodasi, kuliner, dan pemandu wisata bisa saling mendukung dalam satu sistem ekonomi yang sehat dan adil,” ujar Widiyanti.

PT Mitra Mortar indonesia

Apa Dampak Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Wisata?

Meski baru sebulan lebih berjalan, manfaat KDMP mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya di Desa Wisata Tamanmartani, Sleman, DI Yogyakarta, yang ditunjuk sebagai desa percontohan nasional. Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, menjelaskan koperasi ini resmi beroperasi sejak 16 Juni 2025 dan kini telah memiliki 895 anggota.

Di Tamanmartani, KDMP menjalankan empat unit usaha sekaligus, yaitu klinik dan apotek, simpan pinjam, sembako, serta sarana produksi pertanian. Keempat unit ini bisa langsung berjalan sejak awal operasional.

“Meski masih terus kami sempurnakan, baik dari sisi tenaga maupun komoditas dagang, respons masyarakat sangat positif,” kata Mawardi.

Selain itu, koperasi juga berperan sebagai agregator untuk memasarkan produk UMKM lokal. Produk-produk dari desa wisata dipasarkan langsung kepada wisatawan, sehingga pelaku usaha tidak perlu berjuang sendiri. “Kami menerima berbagai produk dari UMKM desa. Wisatawan yang datang ke Tamanmartani tidak hanya belajar bertani atau beternak, tetapi juga bisa membeli hasilnya di koperasi,” ujarnya.

Akses Modal dan Dukungan untuk Sektor Pariwisata

Mawardi menambahkan, koperasi juga membuka akses modal lebih mudah bagi pelaku pariwisata, misalnya pemilik homestay atau pengrajin. Pinjaman dapat diajukan melalui koperasi yang bekerja sama dengan perbankan, termasuk fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Bu Menteri saat berkunjung ke sini memberi arahan agar bisa bekerja sama dengan BNI. Jadi teman-teman pelaku wisata yang butuh modal bisa memanfaatkan koperasi sebagai jembatan,” jelasnya.

Dana pinjaman itu dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari renovasi homestay, pembangunan fasilitas wisata, hingga peningkatan kualitas produk kuliner. Dengan begitu, para pelaku usaha bisa lebih berdaya saing.

Pengelola Bidang Wisata Bumdes Tamanmartani, Pandu Cahyo Gustoro, menambahkan koperasi berkolaborasi dengan Bumdes dan Pokdarwis dalam menyusun paket wisata. Mulai dari belajar membatik, jemparingan, hingga berkunjung ke Lumbung Mataraman, seluruh kegiatan itu dipromosikan bersama oleh KDMP. “Alhamdulillah, program ini sudah mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Pandu.

Harapan Pelaku UMKM

Pelaku UMKM lokal, Prima Sintalia, mengaku sudah merasakan manfaat KDMP. Ia bisa membeli barang lebih murah di koperasi untuk dijual kembali di toko kelontong miliknya. “Misalnya beli telur, di koperasi bisa lebih murah. Jadi selain saya untung, masyarakat juga dapat harga lebih terjangkau,” ungkapnya.

Prima berharap koperasi dapat menjaga ketersediaan stok barang sembako dan produk lainnya agar masyarakat terus mendapatkan harga terbaik. “Respons masyarakat sangat positif, semoga KDMP bisa berkembang lebih besar dan konsisten memberi manfaat,” tuturnya.

Dengan berbagai dampak positif yang mulai terlihat, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi bukti bahwa koperasi tetap relevan di era modern. Tak hanya menjaga semangat gotong royong, koperasi juga membuktikan diri sebagai fondasi ekonomi digital berbasis kerakyatan yang menjanjikan.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan