Simping: Camilan Tradisional Purwakarta yang Melegenda

Semula simping hanya terdiri dari satu rasa, yaitu kencur, saat ini bermetamorfosis menjadi berbagai ukuran dan rasa.

0
136
Pedagang sedang menyiapkan simping yang ingin dipasarkan. (Dok: Ayopurwakarta.com)

Apa panganan khas Purwakarta yang paling tersohor? Sate maranggi. Ya, bisa jadi banyak orang yang menyebut sate maranggi sebagai makanan khas Purwakarta. Tapi tahu kamu selain sate maranggi, di Purwakarta juga ada panganan lain yang tak kalah fenomenal. Namanya simping.

Simping merupakan makanan sejenis kripik berbahan dasar tepung tapioka yang diberi aneka bumbu dan rempah. Simping tersedia dengan beragam varian, mulai rasa original yaitu rasa kencur, keju, dan manis.

Simping sangat mudah dijumpai di Purwakarta, terutama ketika memasuki daerah yang menjadi sentra pembuatan dan penjualannya, yaitu Kampung Kaum, Jalan Baing Marzuki, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta Kota. Tempat ini hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari alun-alun Kota Purwakarta.

Simping merupakan Penganan Raja dalam Sejarah Purwakarta, penganan yang menurut para tetua sudah ada sejak zaman kerajaan Sunda dahulu.

Menurut hikayat simping merupakan penganan kesukaan para bangsawan. Bapak H Engkun, yang diketahui sebagai keturunan bangsawan Purwakarta, mengkomersilkan simping pertama kali di daerah kaum.

Berawal dari wilayah Kaum yang letaknya tidak jauh dari kantor Bupati Purwakarta, tempat produksi simping sekarang terdapat pula di daerah Pasawahan hingga Wanayasa. Bahkan sekarang terdapat hampir 300 pengrajin simping yang masih berproduksi hingga saat ini. Tidak sulit mencari produsen simping. Jika sedang beruntung tidak hanya membeli produk, kita bahkan dapat melihat proses produksinya yang cukup unik.

Yang menarik, tak banyak warga Purwakarta yang mengetahui asal usul nama simping ini. Namun menurut beberapa versi dari para penjual simping, nama simping berasal dari kata sumping (datang).

Semula simping hanya terdiri dari satu rasa, yaitu kencur, saat ini bermetamorfosis menjadi berbagai ukuran dan rasa. Untuk simping asin ada rasa keju, gurih, udang dan pedas. Untuk simping manis, mulai dari rasa coklat, strawbery, pandan hingga durian dan susu, juga mulai dapat ditemui.

Adapun proses pembuatan simping dapat dikatakan cukup mudah dan bahan yang digunakan juga mudah diperoleh. Bahan utama pembuatan simping terdiri dari campuran tepung terigu, tapioka, santan kemudian ditambah berbagai macam rasa. Selanjutnya adonan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bulat tipis dan dimatangkan dengan cara dipanggang menggunakan alat khusus.

Sehingga jika mengkonsumsi dalam jumlah besar, penganan ini tidak akan membuat kolesterol naik, karena proses pembuatannya tidak menggunakan minyak sehingga aman dikonsumsi siapa pun.

Harga simping per bungkus dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau yaitu dengan harga Rp.5.000 – 11.000 saja. Sebagai pelengkap, penganan simping itu bisa dibawa pulang dengan menggunakan dus dengan menambah Rp.10.000 atau jika menggunakan travel bag hanya menambah Rp.5.000 yang didesain khusus oleh Pemkab Purwakarta.

Saat ini simping tidak hanya di produksi di Purwakarta, tetapi juga di daerah lain seperti Karawang dan tidak kalah rasanya dengan simping hasil produksi Purwakarta.

Namun di tengah nama simping yang kini banyak dikenal di berbagai daerah sebagai makanan khas Purwakarta. Justru usaha simping semakin sulit untuk dipertahankan. Itu terjadi karena mahalnya harga bahan baku seperti tepung tapioka yang semula hanya Rp.70.000 per lima puluh kilogram, kini sudah di atas Rp.400.000 belum lagi bahan lain seperti rempah dan buah-buahan karena perasa dalam simping menggunakan bahan alami tanpa perasa buatan.