Gunakan 33 Jenis Bumbu, Sate Mak Buyuang Eksis Sejak 1945

0
163

Pondok Sate Padang Mak Buyuang sudah ada sejak tahun 1945. “Saat itu usaha ini dirintis alm. Kakek bpk. Zainul Abidin di Batu Sangkar kemudian diturunkan ilmunya ke Papa H. Zainal Efendi, M.Pd. Untuk cabang Pangkal Pinang sendiri berdiri sejak 18 September 2014 sampai sekarang,” ujar Edo Duanda Putra, penerus dan pemilik Pondok Sate Mak Buyuang.

Edo mengatakan modal awal untuk memulai usaha saat itu sekitar Rp 25 juta yang digunakan sewa tempat Rp 15 juta, membeli kursi, etalase, peralatan masak, bumbu-bumbu, bahan baku serta renovasi. Enam tahun berjalan, usaha sudah berkembang hingga memiliki 3 cabang

“Alhamdulilah perkembangan untuk saat ini dinikmati saja, kita berencana tapi tetap Allah yang menentukan. Jadi mengalir seperti air, tapi tetap berinovasi,” ujarnya.

33 Bumbu

Salas satu keistimewaan Sate Mak Buyuang, terletak pada cita rasa khas bumbu yang digunakan secara turun temurun sejak sang kakek. Jadi bukan resep coba-coba tapi sudah teruji. “Bumbu untuk masak saja ada 33 jenis lho,” tandas Edo.

Inilah salah satu kunci mengapa pelanggan selalu kangen akan rasa Sate Mak Buyuang . “Dulu awal dari kakek hanya 9 jenis, tapi anak-anak beliau yaitu Papa menambah ramuan menjadi 33 biar rasanya selalu dikenang,” tegas alumnus Fakultas Peternakan IPB ini.

Selain Sate Padang ada juga nasi Goreng Khas Minang, Mie Goreng Khas Minang, Mie Rebus Khas Minang, Soto Padang, Teh Telur, Teh Tarik Mak Buyuang yang ditawarkan dengan harga Rp 12 ribu sampai Rp 23 ribu saja pelanggan dijamin sudah puas.

Edo menyebut dari satu Pondok Sate Mak Buyuang bisa menghasilkan omset Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta tiap harinya. Dengan 3 cabang, tentu omset yang dihasilkan cukup membuat dompet penuh terisi. “Kita ambil untung nggak besar karena banyak masih pakai bumbu yang masih kirim dari Solok Sumbar. Ya kira-kira bersihnya sekitar 30%,” sambung Edo.

Home Delivery

Selama pandemi ini, Edo menegaskan jka di Bangka Belitung tidak ada PSBB melainkan lockdown. Karena itu kebijakan tersebut sangat terasa bagi usaha yang dilakoninya. Namun agar dapur tetep ngebul, Edo tak patah arang. Ia pun berupaya agar 7 orang karyawannya tidak sampai dirumahkan. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan jualan secara online. “Kamu dirumah saja, jika terkenang Sate Mak Buyuang biar kami yang anter,” imbuhnya.

Ke depan Edo berharap bisa mengembangkan usaha Pondok Sate Mak Buyuang, termasuk memberikan karyawan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, jujur, loyal dan mau berkembang untuk mandiri. “Saya akan usahakan cari jalan untuk mereka bisa usaha sendiri dengan brand yang sama,” pungkas Edo yang telah memiliki rumah dan kendaraan dari usahanya tersebut.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.