Tawarkan Konsep One Stop Shopping Produk Fesyen 

0
153
Produk kerajinan ekspor (dok inacraftnews.com)

Valentina Taroreh merintis usaha  di bidang fesyen kreatif, tepatnya saat krisis moneter karena memang ia hobi dengan produk fesyen. Berbeda dengan pelaku usaha lain yang biasanya fokus pada satu jenis produk fesyen, Valentina menyediakan produk one stop shopping untuk kebutuhan wanita, dari mulai tas wanita, sepatu wanita, pakaian wanita, aksesoris, yang semuanya handmade karena dikerjakan dengan bantuan tangan seperti pemasangan batu alam pada tas.

Wanita yang sempat belajar fesyen di kursus Esmodia saat awal usahanya, mengaku membuat konsep one stop shopping karena ingin memberikan banyak pilihan termasuk memenuhi keinginan wanita yang membeli produk menyesuaikan warnanya dengan produk lain sehingga tidak perlu dibeli di lain tempat. Hal ini juga sekaligus sebagai strategi pemasaran karena bila satu produk kurang permintaannya,  bisa ditunjang penjualan produk lain.

Produk-produk dengan brand Bless milik Valentina, terutama tas, sudah mendapat pesanan dari konsumen luar negeri, sedangkan pakaian dan sepatu hanya dijual di pasar lokal saja karena untuk membuatnya harus menyesuaikan ukuran pemakai jadi lebih rumit prosesnya. Valentina juga baru saja mendapat buyer dari Korea dan Arab yang memesan clutch bag (tas pesta) masing-masing 500  buah. Untuk produk yang diekspor ini dikemas menggunakan butiran styrofoam (Plastik bentuk butiran halus bahan polystirene) di bagian dalam tas, dan bagian luar tas dibungkus dengan kain suede (kain yang menyerupai kulit suede yang dibalik dan disamak pada bagian dalamnya, sehingga tampak seperti beludru).

Di tengah ketatnya persaingan bisnis fesyen, produk Valentina bisa menembus konsumen luar negeri karena ia rajin mengikuti pameran di luar negeri. Untuk ikut pameran di luar negeri produknya didaftarkan ke Departemen Perindustrian atau Departemen Perdagangan di bagian Perdagangan Luar Negeri  kemudian akan dinilai dan bila lolos baru bisa ikut pameran ke luar negeri secara free, hanya membayar biaya akomodasi. Selain pameran di luar negeri, Valentina juga mengikuti pameran di beberapa provinsi hingga luar Jawa seperti Palembang.

Strategi lain untuk memperkenalkan merek Bless lewat kerja sama dengan media massa wanita sehingga produknya dikenakan oleh para model yang dimuat di media tersebut, seperti Majalah Femina, Her World, Cosmopolitan, Nova, dan lainnya. Ia juga melakukan strategi jemput bola dengan menawarkan produk ke teman-teman arisan yang  banyak di antaranya adalah pimpinan bank, beberapa istri wakil Dubes, dan lainnya sehingga harus luwes dalam pergaulan.

Selain itu yang tak kalah penting adalah dari produk itu sendiri. Diakui Valentina bahwa ciri khas produk merek Bless dengan kisaran harga Rp 250 ribu – 5 juta ini terutama pada penggunaan batu alam untuk aplikasi tas dan sepatu. Permainan warna batu-batu alam dikombinasikan dengan kristal swarovski, disesuaikan dengan warna bahan sehingga merupakan satu kesatuan yang tampil eksotis dan terkesan mewah.

Untuk baju biasanya menggunakan bahan kain Satin Silk, atau kain Raw Silk, dengan kombinasi aplikasi sulam pita, bordir, payet motif bunga dan kupu-kupu. Baju yang dibuat lebih  condong ke pakaian muslim dan pakaian pesta. Sedangkan untuk tas saat ini konsumen lebih suka exotic leather dari kulit ular atau buaya. Namun ada juga dari bahan kulit ular, domba, kambing, sapi, kulit ikan pari dengan aplikasi batu alam di bagian atas tas.

“Konsumen luar negeri lebih suka model tas yang simpel, dari batu yang digunakan tidak terlalu meriah, hanya berupa bros saja, berbeda dengan konsumen dalam negeri lebih suka yang penuh batu-batuannya dan warnanya lebih variatif dari warna ungu, pink, hijau,” jelasnya.

Saat ini Valentina juga membuat produk tas dari bahan anyaman daun pandan dan pegangannya (handle tas) dari kulit ular. Hal ini dilakukan untuk memperkecil pemakaian bahan kulit ular atau buaya yang bahan bakunya tak banyak di pasaran. “Saya suplai dari pemasok kulit ular atau buaya asal Sumatra,” cetusnya.

Desain produk juga selalu berubah 2 minggu sampai 1 bulan sekali, dan dalam pembuatan produk  tidak dilakukan dalam jumlah massal. Produk dengan desain baru juga dibuat dulu sampelnya dalam jumlah sedikit hanya 5-10  buah untuk melihat reaksi pasar. “Paling banyak saya buat 1 desain hanya 10 pcs, itu pun harus ada perbedaan misalnya dari warna batuannya atau aplikasi lainnya seperti bordir dan payet karena produk saya lebih ke arah personal touch,” ujar Valentina yang  desainnya berkiblat ke majalah fesyen luar negeri yang kemudian dimodifikasi sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.