Sukses Ekspor ke Jepang 100 Ribu Tangkai Daun Pakis Leather

0
71
dok: sugengharijad.blogspot.com

 

Tanaman pakis memang telah lama dikenal oleh masyarakat. Jenisnya pun bermacam-macam, ada Pakis Kelabang (Neprolepis Exaltata), Pakis Emas atau Monyet, Sikas Biru (Cairnsiana atau Glen Idle Blue) dan Leather Leaf. Di antara berbagai jenis tanaman pakis tersebut, ada jenis pakis yang digunakan bagian tangkai daunnya saja sebagai daun potong, yaitu Leather Leaf yang banyak dibutuhkan untuk dekorasi di pesta, misalnya untuk rangkaian bunga. Karena jenis tanaman pakis yang digunakan untuk rangkaian bunga hanya dari  jenis Leather Leaf saja, maka peluang pasarnya pun cukup besar, sehingga cukup diminati pasar  lokal, hingga luar negeri. Tanaman Pakis Leather Leaf memiliki ciri-ciri mirip helaian daun cemara ini memiliki warna hijau pekat dengan bentuk daun bergerigi ternyata menarik perhatian banyak kalangan.

Karena itulah Siswanto tertarik ikut membudidayakan pakis jenis Leather Leaf sejak tahun 2005. Pria lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Pertanian tahun 1985 ini di awal usahanya menyewa kebun seluas 2 Ha dari penduduk sekitar seharga Rp 8,8 juta. Kini, luas kebun yang disewa Siswanto bertambah menjadi 5,5 Ha. Kebun tersebut berada di daerah Gekbrong, Cianjur, Jawa Barat. Leather Leaf ia tanam di kebun seluas 5 Ha, daun Ruscus dan Asparagus di lahan seluas ½ Ha.

“Tanaman yang saya budidayakan memang fokus ke Leather Leaf, sedangkan Ruscus  sebagai tanaman tambahan saja. Sementara Asparagus karena sering rontok, jadi saat ini belum saya jual,” tutur Siswanto. Pengetahuan mengenai Leather Leaf ia peroleh secara otodidak dengan membaca materi yang berhubungan dengan Leather Leaf dari buku dan internet.

Ketika memulai usaha, Siswanto mengeluarkan modal sebesar Rp 60 juta/Ha untuk membuat bangunan yang digunakan untuk menaungi seluruh kebun. Siswanto membuat pondasi bangunan dari bambu ditutup dengan paranet dengan kerapatan jaring 75%.

Prospek Usaha. Saat ini, pelaku budidaya Leather Leaf sudah mulai banyak, terutama di daerah Lembang, Cisaat, Sukabumi, dan Semarang. Siswanto berpendapat bahwa usaha budidaya Leather Leaf masih akan bagus ke depannya. Apalagi pemerintah sedang gencar meningkatkan ekspor tanaman hias ke berbagai negara. “Saat ini, Leather Leaf masih banyak peminatnya. Namun, semua usaha pasti akan ada surutnya, apalagi tanaman hias. Tanaman hias tergantung dari selera masing-masing. Jika sekarang sedang booming Leather Leaf, maka beberapa tahun mendatang selera kegemaran tanaman hias akan berubah lagi dan begitu seterusnya,” ungkap Siswanto.

Produk. Siswanto menjual tanaman hias Leather Leaf, Ruscus, dan Asparagus. Leather Leaf hasil kebun Siswanto dijual dengan harga Rp 500-700/tangkai. Untuk yang diekspor, harga yang ditawarkan Rp 600-800. Harga tersebut berlaku untuk ukuran S, M, L, dan XL. Yang membedakan antara keempat ukuran tersebut adalah berdasarkan panjang pendeknya tangkai dan lebar tangkai daun. Leather Leaf ukuran S dengan ukuran panjang dari pangkal tangkai daun ke ujung daun 20 cm dan  lebar tangkai daun 20 cm (20×20 cm), ukuran M = 30×30 cm, ukuran L = 40×40 cm, dan ukuran XL = 45×45 cm. Sedangkan Ruscus ia jual dengan harga Rp 750/tangkai.

Dalam sebulan, Siswanto mampu menjual hingga 300 ribu tangkai daun Leather Leaf, 100 ribu tangkai di antaranya dijual di pasar lokal dan sisanya diekspor ke Jepang. Siswanto mengaku bahwa jalur ekspor ke Jepang ia dapatkan dari browsing di internet dan hasil rekomendasi dari seorang rekannya. Pendapatan dari Leather Leaf sekitar Rp 200 juta dan dari Ruscus sekitar Rp 7,5 juta atau rata-rata total omset per bulan sekitar Rp 207,5 juta, dengan keuntung bersih 78%.

Bibit. Bibit Leather Leaf  bisa menggunakan bagian rhizome (bagian umbi tanaman yang ada di dalam tanah). Bibit tersebut kemudian diperbanyak dengan cara memotong sebagian dari rhizome Leather Leaf  yang akan ditanam. Dari satu tanaman Leather Leaf  bisa  menghasilkan 2-3 rhizome.

Siswanto mengaku bibit Leather Leaf  berupa rhizome yang kini ia budidayakan tidak dibeli secara khusus dari luar negeri namun  dari tanah yang disewanya dimana  dulunya lokasi tanah tersebut  merupakan kebun Leather Leaf.

Pemasaran. Pada awal usaha, Siswanto menawarkan Leather Leaf ke florist yang ada di Jakarta. Kini, Siswanto tidak merasa kesulitan untuk menjual produknya karena ia sudah mempunyai pelanggan tetap. Pelanggan tetap Siswanto diantaranya adalah Pasar Bunga di Rawa Belong Jakarta Barat dan florist-florist di daerah Jakarta Selatan. Selain itu, ia juga mempunyai florist yang ia beri nama Equal Florist. Florist ini terletak di daerah Blok M Jakarta Selatan.

Ekspor.  Adapun untuk standar ekspor Leather Leaf  harus mempunyai sertifikat aman dari pemerintah. Untuk itulah setiap akan mengekspor Leather Leaf, ia mengundang perwakilan dari Dinas Pertanian Bogor untuk memeriksa apakah produknya sudah memenuhi standar. Selain itu daun juga harus simetris dan tegak lurus atau tangkainya tidak boleh bengkok, daun tidak berspora, dan berwarna hijau pekat. Biasanya permintaan ekspor juga berlaku untuk semua ukuran tangkai daun Leather Leaf seperti halnya pasar lokal.  Sedangkan untuk penjualan di pasar lokal persyaratannya agak mudah, misalnya daun tidak harus simetris atau lurus. Namun, yang terpenting daun dalam keadaan tidak cacat, misal ada daun yang rusak atau patah dari tangkainya. Yang masuk ke pasar lokal adalah tangkai daun Leather Leaf  yang tidak masuk klasifikasi ekspor, jadi tidak ada minimal pembelian.

Pembayaran secara cash untuk pembelian lokal dan ekspor. Dalam sebulan, Siswanto bisa mengirim ke konsumen hingga 6 kali dan 2 kali di antaranya dikirimkan ke Jepang. Pengiriman ke Jepang tiap 2 minggu sekali sebanyak 100 box atau kardus tiap kirim  yang mana satu kardus berisi 1.000 tangkai daun Leather Leaf atau mencapai 100 ribu tangkai daun Leather Leaf per bulan.

Pengiriman. Leather Leaf yang siap jual  berupa bagian tangkai daun beserta rangkaian daun yang dibungkus dalam plastik berlubang berisi 100 bungkus plastik tiap kardus. Leather Leaf yang sudah dipanen dapat bertahan 10-14 hari. Cara penempatannya juga cukup sederhana, yaitu dengan cara ditumpuk saja. Setelah dimasukkan ke dalam kardus, Leather Leaf siap dikirim ke tujuan. Yang harus diperhatikan adalah jangan sampai daun Leather Leaf terlipat, karena jika sampai terlipat atau ada daun yang rusak, Leather Leaf tidak laku untuk dijual.

Armada yang digunakan untuk mengirim berupa mobil box yang disewa Siswanto dari seorang rekannya. Untuk pengiriman, Siswanto tidak menggunakan cooler karena jarak tempuh ke konsumen (dari Cianjur ke Jakarta) tidak membutuhkan waktu lama. Lain halnya untuk pengiriman ke Jepang, sistem yang dipakai adalah FOB (Free on Board) shipping point. “Jadi saya hanya mengantarkan sampai di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang atau di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, untuk selanjutnya pihak pembeli dari Jepang yang mengurus semuanya,” ungkap Siswanto. Packaging untuk lokal dan ekspor tidak ada perbedaan. Hal ini dikarenakan untuk pengiriman secara ekspor Siswanto hanya mengirimkannya sampai di pelabuhan. Untuk teknis pengiriman selanjutnya pihak konsumen asal Jepang yang mengurusnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.