Puluhan Juta dari Bisnis Bantal Handmade Karakter Lucu

0
110

 

Perkenalan Ade Wulandari dengan produk handmade dimulai saat ia bekerja di PT Smartfren Telecom. Ia tertarik pada karya salah satu rekannya yang hobi membuat aplikasi sarung bantal dan goodie bag sendiri. “Waktu itu saya pesan ke dia, cuma nggak dibikin-bikin sama dia karena kesibukannya,” ujar wanita kelahiran Jakarta 24 April 1981 ini. Merasa sulit mencari penjual atau produsen yang memproduksi produk serupa pada saat itu, Ade memutuskan untuk membuat sendiri. Dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan katun jepang dan katun lokal bermotif dan berwarna cerah, Ade juga coba mempelajari teknik-teknik jahit dan cara menempel serta menyambung bahan kain melalui buku, majalah, dan berselancar di internet.

Ulang tahun pertama anaknya tahun 2009, menjadi cikal bakal Ade menekuni usaha produk bantal dan goodie bag handmade. Bermaksud untuk memberikan sesuatu yang beda di acara ulang tahun anaknya, Ade membuat 30 buah goodie bag berbentuk baju. Tak dinyana Ade malah kebanjiran order setelahnya. “Sesudah acara tersebut saya iseng pajang produk handmade itu di Facebook. Nggak disangka banyak yang nanya dan akhirnya pesen ke saya, cuma waktu itu karena masih meraba-raba dan belum punya penjahit andalan, jadi belum berani ngambil order yang banyak,” papar ibu satu orang putri ini.

Modal awal yang dikeluarkan Ade pertama kali Rp 300 ribu yang digunakan untuk membeli bahan katun, benang, jarum, lem dan lainnya. Sementara urusan jahit diserahkan kepada tukang jahit langganan yang berlokasi tidak jauh dari kediamannya. “Total modal yang dikeluarkan sama ongkos jahit dan sulam itu sekitar Rp 700 ribuan,” kata Ade. Seiring berjalannya waktu, Ade mulai berani menerima order banyak dan mulai mendapatkan penjahit, namun karena posisinya sebagai karyawan dan ibu rumah tangga membuatnya tidak bisa menerima semua pesanan.

Melihat usahanya yang semakin berkembang, 1 November 2011, Ade resmi resign dari pekerjaannya agar lebih fokus mengurusi usahanya. Ia juga menambahkan modal usaha Rp 4 juta untuk membeli sebuah mesin jahit digital yang digunakan untuk melakukan finishing dan menyambung kain.

Variasi Produk. Produk bantal yang dibuat Ade cukup unik, karena proses pembuatan semuanya dilakukan handmade dan tidak diproduksi secara massal sehingga kesan eksklusif tetap terjaga. Bentuk yang ditawarkan bermacam-macam, namun Ade lebih sering membuat bantal bentuk persegi yang diaplikasikan dengan gambar-gambar lucu dan imut seperti gambar hewan, mobil, pesawat, karakter kartun jepang berukuran 30 x 30 cm, 40 x 30 cm, dan 40 x 40 cm dan yang paling besar 70 x 70 cm.

Ada juga yang dikreasikan dalam bentuk buku, yang diberi aplikasi seperti sampul atau cover buku, bagian dalamnya pada kain bantal ada yg diberi aplikasi berupa tulisan, gambar, atau cetakan foto di atas kain sehingga bantal meyerupai album foto. Ada juga yang menyerupai  surat lengkap dengan amplopnya, serta bantal berbentuk cupcake.

Biasanya untuk mencari ispirasi untuk bentuk dan gambar bantal Ade mencarinya melalui selancar di internet, atau buku-buku luar negeri yang dibeli melalui situs www.amazon.com. “Saya selalu mengusahakan desain baik bentuk maupun gambar yang saya gunakan berbeda dengan yang lain. Mungkin untuk saat ini sudah mulai banyak yang membuat bantal serupa, tapi keunggulan bantal buatan saya adalah penggunaan bahan katun untuk semua bagian dan cara saya memadu-padankan warna dan motif bahan tersebut,” jelas istri dari Eros Syah Warongan ini. Ade menjual bantal persegi buatannya dengan harga antara Rp 60 – 65 ribu per bantal. Sementara bantal bentuk lainnya seperti bantal buku, bantal cupcake, bantal cinta, bantal surat, dan bentuk lainnya dijual dengan harga antara Rp 125 – 150 ribu.

Untuk mengurangi risiko usaha, Ade menerapkan sistem pre order meskipun ia juga melayani pembelian secara retail, sehingga ia tidak harus banyak bersepekulasi membuat stok produk dalam jumlah besar. Dengan pemesanan minimal 1 lusin, Ade baru akan mulai belanja dan mengerjakan orderan jika konsumen telah membayar uang muka 50% dari harga total yang disepakati dan pelunasannya bisa dilakukan setelah barang jadi dan siap dikirim. “Harga juga menyesuaikan, untuk pemesanan 1 lusin saya kasih harga Rp 55 ribu per pcs,” tutur Ade.

Bahan Baku. Bahan dasar yang digunakan adalah bahan katun Jepang dengan warna-warna cerah seperti merah muda, biru muda, kuning, dan sebagainya yang memiliki motif standart sehingga bisa didapatkan dengan mudah di setiap pasar seperti motif polos dan polkadot. Sementara untuk aplikasinya bisa menggunakan katun lokal atau katun Jepang namun yang menjadi prioritas adalah warna, dan motif yang unik.

Biasanya Ade membeli bahan-bahan tersebut di Pasar Tanah Abang, Pasar Mayestik, dan seputaran kawasan Asemka Jakarta Pusat dengan harga bervariasi. Untuk bahan katun lokal harganya Rp 20 ribu per meter, dan katun Jepang sekitar Rp 25 – 40 ribu per meter, namun Ade lebih sering menggunakan katun Jepang. Untuk bahan-bahan pelengkapnya seperti kain puring sebagai lapisan bahan dasar biasanya Ade membeli per gulung (60 yard/90 cm) seharga Rp 160 – 170 ribu, kain fishin (kain keras) seharga Rp 150 ribu per roll (100 yard) dan untuk isi bantal menggunakan dakron yang biasa dibeli per karung (20 kg) seharga Rp 500 ribu. “Biasanya saya beli bahan katun dasar itu bisa 20 meter sekali beli, dan katun untuk aplikasi paling banyak per motif itu 2 meteran,” jelas ibunda dari Keisha Mori Warongan.

Ade mengatakan, satu meter bahan katun dan puring bisa menghasilkan 3 bantal ukuran 30 x 30 cm, dan 1 kg dakron bisa menghasilkan 5 bantal dengan ukuran yang sama. Saat ini Ade mengaku mendapatkan omset Rp 25 juta per bulan baik dari bantal dan goodie bag, sedangkan produksi bantalnya sendiri mencapai 200-300 pcs setiap bulannya dengan omset sekitar Rp 10,5 juta. Keuntungan yang diperoleh Ade dari penjualan bantal tersebut sekitar 40% dari omset.

Kendala. Permasalahan yang kerap muncul pada usaha yang ditekuni Ade adalah sumber daya manusianya. Keterbatasan tukang jahit memang terkadang menghambat deadline pemesanan. “Kadang pemesanan yang nggak bisa di undur seperti acara ulang tahun, tukang jahit itu nggak ngerti kalau kita dikejar deadline. Jadi agak stress juga nge-push mereka. Kalaupun mereka paksakan hasilnya ada aja yang kurang bagus, jadi saya harus bongkar lagi,” katanya.

Selain SDM, masalah bahan baku juga terkadang menjadi masalah. Ade mengatakan biasanya untuk motif-motif tertentu, 3–4 bulan sudah tidak ada di pasaran. Untuk permasalahan ini Ade akan mencoba memadu-padankan motif-motif lain untuk dikombinasikan dengan bahan dasar. “Jadi misalkan konsumen maunya dengan nuansa pink, kuning, dan hijau, nah saya coba agar tidak keluar dari nuansa tersebut,” imbuhnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.