Bali Bebaskan Visa Kunjungan untuk Beberapa Negara

(Ilustrasi: pexels/ Jannet Serhan)

Denpasar – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali meskipun jumlah rata-rata saat ini sudah mencapai 9.000 orang per hari. Salah satu upayanya adalah membebaskan visa kunjungan.

Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun pada acara seminar bertajuk “Bali Move On” yang digelar di Denpasar, Minggu, menyampaikan pihaknya pun mengusulkan adanya penambahan negara yang mendapat fasilitas visa on arrival (VoA) dan membebaskan beberapa negara dari biaya (fee) visa kunjungan wisata tersebut.

“Sampai sekarang ada ditambah 72 negara (yang mendapat fasilitas visa on arrival), dan kami mengusulkan untuk memberi fee bebas kunjungan untuk sembilan negara di Asia. Mudah-mudahan ini membantu percepatan wisatawan datang ke Bali,” kata Kadispar Bali saat membacakan sambutan Gubernur Bali I Wayan Koster saat acara, Minggu (21/8).

Di luar ruang seminar, dia menyampaikan jumlah 9.000 kunjungan wisman per hari sebenarnya telah memenuhi target yang dicanangkan sampai akhir 2022, tetapi angka itu masih belum mencapai jumlah kunjungan saat masa sebelum pandemi Covid-19.

“Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sekarang ini rata-rata mencapai 9.000 per hari dengan jumlah 23 maskapai penerbangan. Jadi, belum (cukup), baru (mencapai hampir) setengahnya karena sebelum pandemi rata-rata 20.000 sampai dengan 25.000 per hari,” kata Tjok Bagus.

Di luar kunjungan wisatawan asing, kunjungan wisatawan domestik di Bali rata-rata mencapai 15.000 per hari. Kadispar Bali menyebut puncak kunjungan terjadi saat libur Lebaran, mengingat saat itu jumlah wisatawan domestik mencapai 18.000 sampai dengan 20.000 orang.

Dalam sesi seminar, Anggota Tim Monev Percepatan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Aat Surya Safaat mengusulkan beberapa langkah strategis untuk membangkitkan pariwisata di Bali.

“Genjot pariwisata di Bali dengan program-program promosi yang menarik, yang tidak hanya melibatkan pelaku industri, tetapi juga masyarakat Bali secara luas,” kata Aat saat sesi seminar.

Ia juga mengusulkan agar produk pariwisata yang ditampilkan berorientasi pada pariwisata berkelanjutan.

“Kemajuan pembangunan pariwisata tidak boleh merusak keindahan alam dan keaslian budaya di Bali,” kata dia.

Sementara itu, untuk pemerintah, Aat meminta instansi terkait agar memastikan akses ke destinasi wisata terjangkau untuk masyarakat.

“Pastikan tiket pesawat tidak mahal ke Bali, dorong pandemi segera menjadi endemi, dan beri pelaku wisata insentif,” kata Aat.