Bisnis Berbasis Hobi Jadi Potensi di Masa Pandemi

0
10

Adanya peraturan work from home dan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi membuat aktivitas kerja, belajar, dan beristirahat berpusat di rumah. Hal ini menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan, yang membuat banyak orang merasakan kejenuhan, stres, hingga tidak mampu mengelola emosinya dengan baik.

Banyak orang kemudian mencoba berbagai macam hobi sebagai bentuk stress coping mechanism (mekanisme pengelolaan stres). Selain untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan, memiliki hobi secara psikologis juga dipercaya dapat menjaga kesehatan mental di masa pandemi.

Pilihan hobi seperti memasak, membuat kerajinan tangan, berkebun, bermain dengan hewan peliharaan, menjadi hal yang lebih sering dilakukan saat ini. Perusahaan perencanaan media dan marketing Comscore melakukan survei ke 10,000 konsumen di Amerika, dan menemukan 56% memasak lebih sering, dan 37% bermain dengan hewan peliharaan lebih lama dari sebelum pandemi.

Di Indonesia, hobi seperti bersepeda, mengoleksi tanaman hias, dan mendekorasi rumah kian diminati. Salah satu start-up agri teknologi di Indonesia melaporkan adanya kenaikan pengguna sebesar 20,000 pengguna selama pandemi. Saat pandemi memberikan tantangan ekonomi di sektor mikro dan makro, hal sebaliknya justru dialami oleh bisnis produk berbasis hobi.

Peluang Scale-Up yang Tak Boleh Dilewatkan

Perusahaan penyedia layanan web-hosting Niagahoster menilai, peluang yang hadir ini harus dimanfaatkan agar tidak hanya menjadi tren yang cepat berlalu. Melalui Head of Brand & Market Development, Ayunda Zikrina, Niagahoster menekankan pentingnya pemilik bisnis produk hobi ini merencanakan ulang strategi pemasaran dan penjangkauan pelanggan agar mendapatkan keuntungan dengan maksimal.

“Para pemilik bisnis harus meninjau kembali keunikan produk dan kanal-kanal promosi yang digunakan. Pastikan melakukan proses promosi yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan dan tren orang di masa pandemi. Dengan begitu, bisnis Anda akan lebih dikenal orang.” ungkap Ayunda Zikrina.

Salah satu bisnis tanaman buah Tanaman Mart asal Cikarang, Bekasi mengaku mengalami pertumbuhan sebesar 57% di masa pandemi, hingga bulan Oktober 2020. Menurut Co-Founder Tanaman Mart, Ceppy Indra Bestari, selain karena tren hobi berkebun di tengah masyarakat urban, proses inovasi dan campaign produk yang cukup getol dilakukan oleh Tanaman Mart juga berpengaruh dalam mendorong pertumbuhan pendapatan.

“Peluang ini tidak boleh dilewatkan. Beberapa produk baru, seperti kelengkeng merah, pohon mangga lima jenis, kami promosikan khusus dan luncurkan selama pandemi” ucap Ceppy.

Go Online Masih Jadi Kunci

Karena interaksi tatap muka dibatasi, memaksimalkan pemasaran secara digital masih sangat relevan digunakan oleh pemilik bisnis. Kementerian Koperasi dan UMKM mencatat adanya kenaikan transaksi digital sebesar 25% selama pandemi.

Di Niagahoster, persentase pertumbuhan jumlah pemilik bisnis yang memiliki website naik sebesar 32,96% di bulan April 2020 dari bulan sebelumnya. Peningkatan jumlah pemilik bisnis yang go online ternyata sejalan dengan meningkatnya volume pencarian online di mesin pencari saat pandemi.

Google melaporkan pencarian dengan kata kunci “how to” (bagaimana cara) meningkat signifikan. Bahkan kata kunci “how to make dalgona coffee” (bagaimana cara membuat dalgona coffee) dan “how to make kimchi” (bagaimana cara membuat kimchi) naik 4,200% di bulan April.

Tanaman Mart secara khusus memanfaatkan tren ini dengan memaksimalkan website sebagai sarana penjangkauan pelanggan. Melalui riset kata kunci dan update konten dengan rutin, Tanaman Mart mendominasi kata kunci di beberapa pencarian populer tentang hobi berkebun, penjualan bibit, dan lainnya.

“Orang menggunakan handphone dan (melakukan) browsing lebih lama saat pandemi, karena (mereka beraktivitas) di rumah. Kami memanfaatkan itu dengan selalu hadir di mesin pencari. (Jadi) kalau mereka searching tentang berkebun, cari bibit tanaman buah, toko (online) kami akan muncul.” kata Ceppy.

Ceppy mengungkapkan, saat ini penting bagi pemilik bisnis berbasis hobi untuk berinvestasi memiliki laman online, website. Selain dapat menampilkan katalog foto dan harga yang lengkap, pelanggan juga akan lebih mudah menemukan toko online saat Google-ing.

Ayunda Zikrina menambahkan, membuat website toko online dapat dimulai dengan membuat halaman sederhana yang memuat informasi produk, lokasi penjualan, dan harga. Saat ini, kita dimudahkan dengan banyaknya pilihan tema murah bahkan gratis, hingga fitur otomatis langsung install yang dapat digunakan oleh pemilik bisnis tanpa latar belakang teknis sekalipun.