Peran Perempuan di Dunia Startup dan Teknologi

peran perempuan
Doc Rukita

Berkembangnya teknologi dan perkembangan media saat ini diimbangi oleh berkembangnya dunia startup, termasuk di Indonesia. Namun dalam perkembangan dunia teknologi industri ini masih terbelenggu stigma atas peran perempuan dalam dunia ini. Padahal kesetaraan gender dalam dunia pekerjaan termasuk bisnis ini juga diperlukan.

Meski sudah ada program yang berupaya memutuskan stigma rantai ketidaksetaraan itu, beberapa diantaranya sudah tidak aktif ataupun hiatus. Padahal program ini turut serta membantu mendorong perempuan Indonesia untuk mau berkarya dalam dunia startup.

Dilansir dari laman Tech in Asia, ada 11 program akselerator yang mendapatkan dukungan dari sektor swasta. Dari 11 program tersebut, 6 aktif, 2 hiatus dan 3 sudah tidak aktif lagi. Kebanyakan program yang aktif tersebut, mendapatkan dukungan berupa akses ke jaringan bisnis, keahlian bisnis dan dukungan bisnis. Sedangkan untuk bantuan berupa bantuan dana langsung, belum ada program aktif yang memberikan bantuan ini.

Sebenarnya bantuan dana langsung ini sudah terdapat pada program Founders Institute Jakarta: Female Founder Fellowship dan Investing in Women Asia: Impact Investing. Sayangnya, kedua program ini saat ini masih hiatus alias masih ditunda.

Semakin banyak bentuk dukungan, semakin menunjukkan bentuk dukungan dari sektor swasta atas peran perempuan dalam dunia startup, terutama para perempuan yang menjadi founder startup. Jika dukungan sektor swasta semakin besar, tentu semangat untuk para perempuan dalam pengembangan startup mereka juga begitu besar.

Dalam laporan Angel Investment Network Indonesia (Angin) yang dirilis pada 2019, perempuan Indonesia disebut masih menghadapi tantangan dalam memulai bisnis terutama dalam aspek sosiokultural, akses permodalan dan informasi, serta program pendampingan yang dapat membantu mereka secara menyeluruh.

Selain laporan tersebut, Tech in Asia juga memberikan catatan jika salah satu hambatan penting yang menghubungkan kesemuanya adalah faktor norma sosial budaya. Stereotipe gender masih lazim dilakukan di Indonesia, meski masalah ini tidak terlalu menonjol di wilayah perkotaan.

Beragam nama-nama program pemberdayaan kewirausahaan wanita sempat berjalan sebelum 2020. Namun pada masa pandemi, beberapa program tak lagi dilanjutkan, dan ada juga yang mengalami pergantian nama.

Meskipun begitu, menurut Puput Hidayat Associate Vice President of Product Tokopedia, dalam hal kesetaraan gender di tempat kerja sektor teknologi di Indonesia relatif lebih progresif.

“Sektor teknologi di Indonesia relatif lebih progresif dalam mendukung keragaman gender di tempat kerja. Perusahaan teknologi telah memelopori penerapan tempat kerja dan budaya inklusif. Peningkatan pemberdayaan perempuan dalam bentuk menunjuk perempuan untuk jabatan eksekutif, mendorong lebih banyak wanita untuk melamar posisi pimpinan, dan mempromosikan sektor teknologi di kalangan pelajar dan mahasiswa,” kata Puput Hidayat.

Sedangkan Hilda Kitti Vice President of Marketing Tokopedia merasa masih ada mitos yang mengakibatkan kesenjangan gender di tempat kerja. Karena mitos itulah yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dan membuat bias ketika orang meninjau bakat dari seorang perempuan.

“Ya, masih ada mitos kurang berdasar di masyarakat. Hal tersebut merupakan residu dari sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan, menimbulkan bias ketika orang meninjau bakat perempuan.

====

Baca berita menarik lainnya di berempat.com