Melirik Cuan Bisnis Waralaba Apotek dan Depot Obat Herbal

0
3170
Peluang bisnis apotek (dok docplayer.info)

Bagi yang tertarik membuka usaha apotek maupun penjualan obat herbal namun tidak memiliki gambaran tentang usaha ini tidak perlu khawatir. Pasalnya banyak pelaku usaha apotek dan penjualan obat herbal yang menawarkan kerja sama baik dalam bentuk waralaba maupun dalam bentuk investor.

Seperti yang coba ditawarkan Griya Farma menawarkan 2 paket investasi, yaitu Tipe Enterpreneur senilai Rp 375 juta dan Tipe Investor sebesar Rp 450 juta, sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 30 juta yang berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang dengan membayar franchise fee kembali. Yang membedakan kedua paket tersebut, Tipe Enterpreneur akan dikelola oleh Terwaralaba sendiri dengan ketentuan 100% profit menjadi hak milik Terwaralaba. Sedangkan Tipe Investor dikelola oleh Pewaralaba (pemilik merek) dengan profit sharing sebesar 50:50 dan untuk paket Tipe Investor ini akan mendapatkan cadangan operasional senilai Rp 50 juta.

Selain kerja sama konvensional seperti yang sudah banyak ditawarkan beberapa pelaku usaha apotek, Apotek Syariah Pratiwi, mencoba menawarkan konsep kerja sama yang berbeda. Usaha apotek yang berkantor pusat di Banda Aceh ini mencoba menawarkan kerja sama dengan konsep syariah. Dalam konsep ini baik pusat maupun Mitra/Terwaralaba akan menikmati keuntungan yang adil.

Menurut Agusnaidi, pemilik, investasi yang ditawarkan dalam kerja sama syariah ini sebesar Rp 200 – 400 juta, sudah termasuk desain interior-eksterior, renovasi, stok obat, perlengkapan sistem informasi komputer (IT), modal kerja untuk 3 bulan pertama, perizinan, training karyawan dan perekrutan apoteker, serta franchise fee sebesar Rp 50 juta untuk masa kerja sama 5 tahun. Jika masa kerja sama berakhir, Mitra bisa membayar kembali biaya franchise fee sebesar Rp 25 juta sebagai biaya perpanjang untuk lima tahun mendatang.

Menguntungkan

Walaupun investasi yang dibutuhkan pelaku usaha bisa dibilang besar, namun karena permintaan akan obat-obatan sangat tinggi maka hal tersebut dapat terbayar dengan keuntungan dan balik modal yang tidak terlalu lama. Seperti, Apotek FiTT yang menargetkan Mitra bisa balik modal dalam waktu sekitar dua tahun.

Dengan keuntungan 10-15% yang didapat per obat untuk obat yang dijual bebas dan 20%-30% untuk obat resep, manajemen Apotek FiTT menargetkan Mitra bisa mendapatkan keuntungan Rp 2,5 juta-Rp 3 juta per hari. “Dengan asumsi tersebut Mitra bisa balik modal dalam waktu yang di tentukan,” jelas Atu Kurnia.

Tidak jauh berbeda dengan Apotek FiTT, pelaku usaha lainnya yaitu Griya Sehati Alami juga menargetkan Mitra bisa mendapatkan keuntungan Rp 10 juta per hari dengan asumsi balik modal dalam waktu sekitar 6 bulan.

Agar mencapai balik modal yang di asumsikan, pengamat marketing Alexander S. Mulya mengingatkan bahwa lokasi adalah hal utama dalam usaha ini. Karena itu, pelaku usaha bisa memilih lokasi di perumahan atau di dekat Rumah Sakit.

Selain itu, dengan maraknya usaha ini di berbagai kota besar di Indonesia, membuat pelaku usaha harus melakukan ekspansi ke beberapa daerah baik Kotamadya maupun Kabupaten Kota. Karena masih jarang yang masuk sampai ke daerah-daerah, padahal potensinya sangat besar, maka bisnis apotek ini sangat berpeluang dikembangkan di daerah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.