Harga Telur di Tingkat Peternak Turun Beruntun, Bapanas Dorong Penyerapan Lewat Program MBG

0
30
Harga Telur di Tingkat Peternak Turun Beruntun, Bapanas Dorong Penyerapan Lewat Program MBG
Harga Telur di Tingkat Peternak Turun Beruntun, Bapanas Dorong Penyerapan Lewat Program MBG (Dok Foto: Bapanas)
Pojok Bisnis

Pergerakan Harga Telur kembali menjadi perhatian pemerintah setelah komoditas pangan tersebut mencatatkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Di satu sisi kondisi ini menguntungkan konsumen, namun di sisi lain mulai menekan pendapatan peternak yang harus menjual hasil produksinya dengan harga lebih rendah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan telur ayam ras mengalami deflasi sebesar 4,29 persen pada April 2026 dan meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei 2026. Penurunan harga di tingkat konsumen tersebut sejalan dengan melemahnya harga jual yang diterima peternak di berbagai daerah.

Pemerintah menilai kondisi tersebut perlu segera ditangani agar keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen tetap terjaga. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah terus berupaya menjaga Harga Telur pada level yang wajar tanpa membebani masyarakat.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang mampu memenuhi kebutuhan telur ayam ras secara mandiri harus memastikan peternak memperoleh keuntungan yang layak. Jika harga terus merosot, dikhawatirkan semangat produksi peternak akan menurun dan berdampak pada pasokan di masa mendatang.

PT Mitra Mortar indonesia

Data pemantauan Bapanas memperlihatkan harga telur di tingkat peternak sempat mencapai rata-rata Rp27.236 per kilogram pada Maret 2026. Namun angka tersebut terus menurun menjadi Rp25.719 per kilogram pada April, kemudian Rp24.688 per kilogram pada Mei, dan kembali turun menjadi sekitar Rp24.424 per kilogram pada awal Juni.

Harga Telur Perlu Dijaga agar Rantai Pasok Tetap Sehat

Pemerintah menegaskan bahwa stabilisasi Harga Telur harus dilakukan dari dua sisi sekaligus, yakni di tingkat produsen maupun konsumen. Tujuannya agar peternak tetap memperoleh margin usaha yang sehat, sementara masyarakat masih bisa mendapatkan telur dengan harga yang terjangkau.

Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan hasil produksi peternak melalui berbagai program, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya ini dinilai dapat membantu menyerap pasokan yang melimpah sekaligus menjaga stabilitas Harga Telur di tingkat peternak.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah Jawa Timur yang dikenal sebagai sentra produksi telur nasional. Dalam waktu dekat, pemerintah akan memfasilitasi pertemuan antara pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha, dan asosiasi peternak guna mempercepat penyerapan produksi telur lokal.

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah, koperasi, serta organisasi peternak terus diperkuat untuk menciptakan tata kelola distribusi yang lebih baik. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga Harga Telur tetap stabil dan menciptakan iklim usaha yang sehat bagi peternak.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan pasokan. Pemantauan stok dan harga akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan kebutuhan pangan tetap tersedia dengan harga yang terkendali di seluruh wilayah Indonesia.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan