Raup Ratusan Juta dari Peyek Kepiting

0
342
Peyek kepiting (dok oleholehetam.files.wordpress.com)

 

Peyek, siapa yang tidak mengenal kudapan tradisional satu ini. Pasalnya Peyek sangat mudah ditemui hampir disetiap daerah di Indonesia. Namun siapa sangka jika cemilan yang sudah sangat merakyat ini mampu mendatangkan pundi-pundi keuntungan hingga ratusan juta lewat tangan kreatif Filsa Budi Ambia yang menciptakan varian Peyek Kepiting dengan merek dagang Kampoeng Timoer.

Dikatakan Filsa ide untuk membuat peyek kepiting lantaran melihat Balikpapan yang terkenal akan hasil lautnya terutama kepiting untuk di ekspor ke luar negeri. Sayang tidak semua kepiting lolos quality control untuk di ekspor seperti jumlah capit dan kaki yang kurang. Hal tersebut tentu membingungkan para peternak kepiting mau dijual kemana kepiting rijek tersebut. “Dari situ saya berpikir untuk mengolah kepiting rijek tersebut menjadi olahan kepiting kering berupa cemilan yang tahan lama,” ujarnya.

Untuk mendirikan Kampoeng Timoer pada 2013 Filsa mengaku harus merelakan cincin kawin yang dijual seharga Rp 100 ribu sebagai modal untuk memproduksi Peyek Kepiting Kampoeng Timoer. Uang tersebut Filsa gunakan untuk membeli bahan baku tepung bumbu dan daging kepiting, sedangkan untuk produksi Filsa memanfaatkan peralatan masak yang ada dirumah dan menghasilkan 20 pcs Peyek Kepiting. “Saat itu saya benar-benar tidak punya modal lagi,” terangnya.

Oleh Filsa Peyek Kepiting tersebut di-packing semenarik mungkin dan dijual ke teman-temannya. Diluar dugaan, Peyek Kepiting buatannya banyak disukai oleh teman-temannya, dan pesanan mulai banyak berdatangan. Kini Filsa mengaku mampu memproduksi sekitar 1000pcs Peyek Kepiting Kampoeng Timoer  dalam sehari dengan omset mencapai ratusan juta per bulan.

Banyak Varian Rasa

Jika biasanya Peyek diberikan isian berupa kacang, ikan teri, atau udang, maka lain halnya dengan Kampoeng Timoer yang menawarkan Peyek Kepiting. Sebagai orang asli Purwokerto, tentu tidak sulit bagi Filsa untuk mempelajari cara membuat peyek. Meski begitu Filsa mengaku butuh waktu 3 bulan untuk uji coba resep sampai mendapatkan komposisi yang pas.

Menurut Filsa sebenarnya komposisi bumbu Kampoeng Timoer hampir sama dengan Peyek Kacang yang dijual di pasar-pasar tradisional di Pulau Jawa. Hanya saja Filsa memperkuat lagi bumbunya sehingga rasanya menjadi lebih enak. Untuk isian Filsa menggunakan daging kepiting rajungan yang dikukus terlebih dulu sebelum diambil bagian dagingnya saja. “Sedangkan kulitnya saya kirim ke Jawa sebagai pakan ternak,” ujarnya.

Tidak seperti Peyek pada umumnya yang memiliki ukurann besar-besar, Filsa sengaja menyesuaikan ukurannya menjadi seukuran snack agar dapat dinikmati kapan pun dan di mana pun. Selain itu Filsa juga menggunakan kemasan dari karton dan alumunium foil food grade, yang menjadikan Peyek Kepiting Kampoeng Timoer mampu bertahan hingga 5 bulan.

“Biasanya kepiting diolah menjadi makanan berat yang masa kadarluarsanya singkat. Jika kita bisa memproduksi olahan kepiting yang tahan lama tentu peluangnya akan sanggat besar sekali,” terangnya.

Kampoeng Timoer menawarkan peyek kepiting dengan berbagai varian rasa Kepiting Original, Kepiting Lada Hitam, dan Kepiting Pedas dengan 2 macam ukuran yaitu kemasan 40 gram dan 85 gram. Harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau yaitu mulai dari Rp 15-27 ribu/pcs tergantung pilihan rasa dan ukuran yang diinginkan.

Pernah Bangkrut

Sebelum sukses mengembangkan Kampoeng Timoer seperti sekarang ini, Filsa pernah mengalami kebangkrutan di dunia usaha, tidak hanya sekali melainkan berkali-kali. Usaha peyek sendiri bukan barang baru bagi Filsa, pasalnya Filsa sempat menjual peyek kacang namun kurang mendapat respons dari masyarakat.

Sebelumnya Filsa juga pernah menggeluti usaha kuliner dengan membuka usaha ayam goreng, sayang usahanya tersebut tidak seperti yang diharapkan sehingga harus berujung pada kebangkrutan. Setelah usaha ayam goreng, Filsa sempat mencoba peruntungannya di usaha masrtabak mini yang lagi-lagi harus bangkrut.

Bahkan Filsa juga pernah menjadi korban penipuan investasi bodong sebesar Rp 125 juta serta meninggalkan hutang yang cukup banyak. Pada saat itu Filsa mengaku telah memiliki seorang anak.”Anak saya menangis minta susu, disitulah titik balik saya sadar. Akhirnya saya jual cincin kawin saya untuk membeli susu dan kebutuhan hidup lainnya, sisa uang Rp 100 ribu saya gunakan untuk usaha peyek kepiting,” kisahnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.