Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memperketat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mulai pekan depan, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah diwajibkan mencantumkan batas waktu konsumsi pada setiap wadah makanan atau Ompreng MBG yang dibagikan kepada para siswa.
Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah penting untuk memastikan makanan yang diterima peserta didik tetap aman dikonsumsi. Menurutnya, informasi waktu konsumsi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi panduan langsung di lapangan bagi guru dan siswa.
“Mulai minggu depan, kami mewajibkan setiap ompreng diberi tanda atau peringatan mengenai batas waktu konsumsi,” ujar Sudaryono dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Antara, Minggu (9/8/2026).
Ia menekankan bahwa peran tenaga pendidik sangat krusial dalam pengawasan aturan tersebut. Guru diminta bersikap tegas apabila makanan dalam Ompreng MBG sudah melewati waktu yang tertera. Dalam kondisi tersebut, makanan tidak diperbolehkan lagi untuk dikonsumsi oleh siapa pun, termasuk siswa maupun guru.
Ompreng MBG Punya Batas Aman Konsumsi
Sudaryono menjelaskan bahwa makanan dalam program MBG disiapkan dalam kondisi segar tanpa bahan pengawet. Karena itu, terdapat batas waktu tertentu yang harus diperhatikan agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
Ia menyebut, secara umum makanan matang memiliki rentang aman konsumsi sekitar empat jam setelah proses memasak. Jika melewati waktu tersebut, risiko penurunan kualitas hingga potensi gangguan kesehatan dapat meningkat.
“Ini makanan yang benar-benar fresh, tidak menggunakan pengawet, sehingga ada jendela waktu aman untuk dikonsumsi,” jelasnya.
Selain penegasan soal waktu konsumsi, BGN juga mengimbau agar siswa tidak membawa pulang makanan dari program MBG. Makanan diharapkan langsung dihabiskan di sekolah sesuai ketentuan yang berlaku.
Sudaryono menambahkan, kebiasaan membawa pulang makanan berpotensi menimbulkan risiko keracunan. Dalam sejumlah kasus di daerah, dampaknya bahkan tidak hanya dialami siswa, tetapi juga anggota keluarga di rumah setelah makanan ikut dikonsumsi.







