Perubahan gaya hidup mulai terlihat jelas di kalangan generasi muda, terutama dalam pola Konsumsi Minuman Manis yang kini cenderung menurun. Generasi Z atau Gen Z, yang saat ini menjadi kelompok demografis terbesar di Indonesia, menunjukkan pergeseran preferensi yang cukup signifikan, termasuk dalam kebiasaan konsumsi harian mereka.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah Gen Z di Indonesia mencapai sekitar 74,93 juta jiwa atau hampir 28 persen dari total populasi. Tidak hanya besar secara jumlah, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini juga memiliki pengaruh ekonomi yang kuat. Sekitar 66 persen di antaranya telah memiliki kemandirian finansial, menjadikan mereka segmen pasar yang sangat potensial.
Secara global, daya beli Gen Z bahkan diproyeksikan menyentuh angka US$ 12 triliun pada 2030. Kondisi ini membuat pelaku usaha, terutama sektor UMKM, perlu mencermati perubahan perilaku mereka, termasuk tren Konsumsi Minuman Manis yang kini tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu.
Tren Penurunan Konsumsi Harian Minuman Manis
Hasil survei yang dilakukan oleh Jakpat pada Desember 2024 dan Desember 2025 menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam frekuensi Konsumsi Minuman Manis di kalangan Gen Z. Dari 1.158 responden pada 2025, hanya sekitar 3 persen yang masih mengonsumsi minuman manis lebih dari tiga kali sehari. Angka ini turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8 persen.
Penurunan juga terjadi pada kelompok yang mengonsumsi minuman manis sebanyak dua hingga tiga kali sehari. Pada 2024, angkanya masih berada di 22 persen, namun pada 2025 turun menjadi 11 persen. Sementara itu, responden yang mengonsumsi satu kali sehari juga berkurang dari 23 persen menjadi 17 persen.
Pola konsumsi yang lebih jarang semakin terlihat. Sebanyak 19 persen responden mengaku hanya mengonsumsi minuman manis tiga hingga empat kali dalam seminggu, sedangkan 35 persen memilih satu hingga dua kali per minggu. Bahkan, sekitar 16 persen responden menyatakan sudah jarang atau tidak lagi mengonsumsi minuman manis sama sekali.
Perubahan Preferensi dan Peluang UMKM
Meski tren Konsumsi Minuman Manis menurun, bukan berarti minuman tersebut sepenuhnya ditinggalkan. Survei yang sama menunjukkan bahwa teh manis masih menjadi pilihan dengan persentase mencapai 65%, terutama karena mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Selain itu, sekitar 56% responden masih memilih kopi manis sebagai pendamping aktivitas sehari-hari.
Namun, perubahan frekuensi konsumsi ini menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha. Tren hidup sehat yang semakin kuat di kalangan Gen Z mendorong mereka untuk lebih selektif dalam memilih asupan, termasuk minuman. Hal ini membuka peluang bagi UMKM untuk berinovasi, misalnya dengan menghadirkan produk rendah gula atau alternatif minuman yang lebih sehat.
Perubahan pola Konsumsi Minuman Manis juga mencerminkan pergeseran nilai di kalangan generasi muda yang semakin sadar akan kesehatan. Faktor seperti gaya hidup aktif, paparan informasi kesehatan di media sosial, serta meningkatnya kesadaran terhadap risiko penyakit akibat gula berlebih turut memengaruhi keputusan mereka.
Bagi pelaku usaha, memahami dinamika ini menjadi kunci agar tetap relevan di pasar. Inovasi produk, strategi pemasaran yang tepat, serta penyesuaian terhadap preferensi konsumen menjadi langkah penting untuk menjangkau Gen Z yang terus berkembang.





