Pepes Bandeng Presto by Dapoer Intan Laku hingga 1000 Box Sebulan

0
136

Dikelilingi keluarga yang berkecimpung di dunia kuliner, akhirnya membawa Eka Agung Sulistyaningsih terjun di bisnis kuliner pada tahun 2016. “Awal dari ketidaksengajaan menjadi bisnis yang menjanjikan, kebetulan suami memiliki latar belakang pendidikan kuliner dan ibu kandungku usaha catering,” jelas wanita yang lahir di Jakarta, 9 Juli 1980 ini. Bagi Eka, tantangan membangun usaha ini yakni mengubah mindset “bandeng presto juwana” menjadi “Pepes Bandeng Presto yang durinya lunak by Dapoer Intan”.

Apalagi persaingan di usaha ini sangat. Karena itu agar bisa bersaing, tetap menjaga kualitas dan selalu membuka hati serta pikiran dengan segala masukan dan kritikan pelanggan sebagai dasar untuk perbaikan ke depan.Saat memulai usaha, modal awalnya sebesar Rp 500.000 dan balik modal hanya satu minggu saja. Dengan brand Dapoer Intan, produk andalannya adalah Pepes Bandeng Presto, yang harganya Rp 45.000/pieces.

Keistimewaan pepes bandeng presto ala Dapoer Intan antara lain memiliki kandungan nilai gizi melebihi ikan salmon, dari kepala sampai ekor bisa dimakan (empuk), kondisi daging ikan masih lembut (moise tidak kering), dengan sistem vacum dan freezing memiliki daya tahan lebih dari 6 bulan, dan kandungan nutrisi yang tertera hasil uji tes laboratorium. “Dalam satu waktu 2 metode masak dilakukan yakni metode pepes & metode presto tapi yang perlu menjadi perhatian penting adalah bukan pepes yang di presto, atau presto yang di pepes,” jelasnya tersenyum.

Saat ini penjualan dilakukan secara online melalui tokopedia, gofood, instagram, hingga facebook. Agar produk yang dibuat dikenal dan laku, Eka memang sejak awal membangun usaha sering mengikuti pameran baik lokal maupun nasional. “Saya juga membuat metode penjualan dengan promosi berkala, serta selalu menyapa pelanggan,” terangnya.

Karena itu pembeli tidak hanya orang Indonesia tapi sampai mancanegara. “ Karena kita juga punya reseller di Jeddah dan Amsterdam, dan ternyata orang sana juga suka, “ kata ibu dari 4 orang anak ini.

Dalam mengembangkan usaha ini, ada 3 strategi yang dijalankan Eka. Yakni penjualan langsung, penjualan secara online dan juga menggunakan jaringan komunitas. Kini dalam sebulan, bisa laku hingga 1000 box. Omset mencapai Rp 50 juta per bulan. “Saya dibantu 2 orang karyawan,” terangnya.

Dalam membangun usaha, banyak pengalaman yang dirasakan Eka. Namun, menurutnya terpenting adalah sabar, gigih, dan pantang menyerah. Harus yakin pada kualitas produk sendiri. Jadikan pesaing bukan musuh tapi pemacu semangat berbisnis dan niatkan berbisnis untuk kemaslahatan orang banyak.

Di tengah pandemi, justru usahanya meningkat pesat. Hal ini karena banyak orang yang stay di rumah sehingga kebutuhan frozen food meningkat. Apa tips Eka bertahan di bisnis ini? “Selalu menerima kritikan untuk perbaikan, kami tidak memiliki pembeli tapi kami memiliki pelanggan, selalu berinovasi dengan produk dan selalu menyapa serta menjalin hubungan baik dengan pelanggan, mitra usaha, dan mitra produksi,” ungkapnya.