Suskes Jadi Distributor Makanan Jepang Beromset Miliran Rupiah

0
1849
dok gotravelly.com

Sebelum terjun ke usahanya yang sekarang, sebagai Distributor bahan baku makanan Jepang, Tito Hermanto Siregar pernah bekerja di Batam sebagai tour guide khususnya untuk turis yang berasal dari Jepang sekitar tahun 1997. Pria yang akrab disapa Tito ini pun merintis usaha warung tenda kecil-kecilan bersama 5 orang teman seprofesinya.

Sayang karena terlalu banyak tangan mengurusi usaha tersebut, perselisihan pun tidak bisa dihindari sehingga berakibat ditutupnya usaha itu pada tahun 2000. Begitu pula dengan pekerjaannya sebagai guide, karena sudah tidak merasa ada kecocokan dengan pimpinan, akhirnya di tahun yang sama Tito memutuskan untuk berhenti dan hijrah ke Jakarta untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Ia pun diterima bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan distribuitor makanan Jepang.

Berkat jaringan yang luas dari perusahaan tempatnya bekerja, Tito pun mendapat banyak kenalan resto-resto Jepang, supplier makanan, selain pengetahuan tentang cara-cara pendistribusian bahan makanan. Setelah lima tahun sebagai marketing, terlintas di benak Tito untuk coba secara kecil-kecilan menjalankan usaha serupa. Ia menjalin kerja sama dengan salah satu supplier bahan baku makanan Jepang yang sudah dikenalnya dengan baik. Meski Tito berada di zona nyaman dengan menjadi karyawan tetap dan segala fasilitas yang disediakan dari kantor, tak menyurutkan niatnya untuk memutuskan keluar dari pekerjaan dan memulai usaha serupa miliknya sendiri.

Jual Lebih Murah. Hanya bermodalkan kepercayaan dari supplier-supplier lokal yang sudah dikenalnya sejak lama, Tito mulai menekuni usaha serupa sebagai Distributor bahan baku makanan Jepang. Awalnya, Tito mengambil sample bahan baku ke supplier dengan cara utang, kemudian dibawa ke resto-resto Jepang yang juga sudah dikenalnya di wilayah Jabodetabek. Karena harga jual yang sedikit lebih murah dengan kualitas yang sama dengan Distributor lain, maka sambutan pihak resto kenalannya pun cukup baik.

Adapun bahan baku dan harga yang ditawarkan Tito antara lain Tobikko Orange Rp 120 per 500 g, Unagi Kabayaki Rp 85 ribu per 200 g, Ikan Salmon Rp 95 ribu per kg, Soft Shell Crab Rp 48 ribu per kg, Nori 50’s Rp 55 ribu dan Sushigari Rp 52 ribu per kg. Bahan baku tersebut dikemas secara modern dalam wadah styrofoam yang dibungkus plasik kemudian divakum agar udara tidak masuk sehingga bahan baku tetap fresh ketika sampai di tempat konsumen. Mutu dan kualitas barang juga sangat diperhatikan dengan seksama oleh Tito dengan mencantumkan batas waktu kadaluarsa atau expired date.

Harga yang ditawarkan Tito termasuk lebih murah sekitar Rp 2-5 ribu dari harga distributor pada umumnya. Alhasil beberapa resto pun mengalihkan pemesanan bahan baku kepadanya, setidaknya ada 10 resto yang memutuskan untuk membeli kepada Tito. “Dari hasil penjualan tersebut, sebagian uang itu saya sisihkan untuk membayar bahan baku tersebut ke pihak supplier, sisa keuntungannya saya tabung untuk menyewa tempat,” jelasnya.

Kiat penting yang selalu diperhatikan oleh Tito sehingga usahanya tetap bertahan dan mampu bersaing dengan kompetitor terletak pada pelayanan yang optimum, sehingga kepercayaan pelanggan tidak memudar. Artinya, ia akan selalu memenuhi semua permintaan pelanggan dengan tepat waktu dan sesuai permintaan. Pengadaan bahan baku semua diperolehnya dari dalam negeri seperti Soka, Udang Black Tiger dari Medan, Tobiko dari Makassar, Tuna dari Bali. ”Di Indonesia ini banyak sekali yang dapat ditemukan untuk memenuhi pasar restoran Jepang, yang tidak ada hanya Salmon, karenanya untuk bahan yang satu ini saya masih harus impor dari luar,” tuturnya.

Sekarang ini pemesanan bahan baku tak lagi hanya datang dari restoran di wilayah Jabodetabek, namun sudah merambah ke berbagai kota di Indonesia seperti Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Pontianak, Banjarmasin, dan hampir seluruh Indonesia. Selain itu, omset yang diperolehnya saat ini dari mendistribusikan bahan baku makanan jepang menembus angka Rp 1,5 M dengan keuntungan bersih mencapai Rp 50 juta setiap bulan.

Sewa Tempat Usaha. Tak sampai setahun usaha yang dijalankannya dari rumah ini, Tito pun menyewa tempat usaha di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat Rp 6 juta per tahun pada 14 Agustus 2006. Di lokasi tersebut Tito, menetap selama 4 tahun hingga tahun 2010. Karena usahanya semakin berkembang, kemudian ia memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang lebih besar, kira-kira 200 meter dari lokasinya terdahulu dengan sewa kontrak sebesar Rp 17 juta per tahun.

Sayangnya selang satu tahun ia menempati lokasi tersebut, sang pemilik tempat juga ingin menempatinya, sehingga Tito terpaksa memindahkan kembali lokasi usahanya. Namun hal tersebut tak dipersoalkan olehnya karena memang Tito sudah memiliki firasat tersebut sebelumnya. Karena itu sebelum habis masa kontraknya Tito sudah mencari-cari lokasi baru.

“Sebelum masa kontraknya habis saya memang sudah mencari-cari lokasi baru. Kebetulan di sebelah tempat tinggal saya ada yang menjual tempatnya dengan harga yang juga tidak terlalu tinggi. Saya pikir kalau saya pindahkan usaha saya ke sebelah rumah akan lebih praktis dan menghemat biaya sewa dan transportasi saya. Jadi tanpa pikir panjang saya beli saja tempat itu ketika pemilik gedung meminta saya keluar dari tempat lama,” jelasnya penuh semangat. Sejak menempati lokasi baru tersebut Tito bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk sewa tempat dan tentunya meningkatkan keuntungan yang diperoleh.

Kunci Sukses. Dalam menjalankan usahanya, Tito dibantu oleh delapan orang karyawan yang bertugas mulai dari administrasi order, quality control, packaging, hingga pengiriman. Menurut Tito, karyawan sangat menentukan suskses tidaknya usaha ini, sehingga jangan pernah melupakan karyawan. “Saya punya pemikiran orang kerja itu kalau sejahtera dan merasa nyaman pasti akan nurut dan loyal. Karena itu saya selalu memperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan karyawan.

Misalnya bila di antaranya ada yang sakit saya akan tanggung semua biaya pengobatan dan Rumah Sakitnya. Dengan begitu mereka merasa diperhatikan dan terlindungi bekerja dengan kita,” beber bapak dua anak ini.

Selain itu, kunci sukses yang selama ini dipegang Tito adalah kemauan untuk memulai usaha, jujur dan tidak membohongi pelanggan, harus dapat menganalisa situasi, mau memahami kemauan dari pelanggan, dan jangan takut pada risiko yang akan menghadang di kemudian hari. Bila hal tersebut dilakukan dengan baik alhasil usaha yang dirintis akan berjalan sesuai dengan rencana.

Dari hasil usahanya tersebut, Tito bisa membeli rumah, tempat usaha, kendaraan pribadi Mobil Suzuki AVP, 2 mobil box sebagai kendaraan operasional, dan 2 sepeda motor juga sebagai kendaraan operasional. Ke depan, Tito berencana untuk membuka cabang di kota Bandung, Bali, dan Surabaya. ”Karena daerah-daerah tersebut sangat berpotensi untuk mengembangkan usaha restoran Jepang,” tuturnya. Selain itu ia juga kerap menyumbang ke beberapa panti asuhan yang ada di Jakarta, serta korban bencana alam.

Tito juga memberikan saran bagi setiap orang yang ingin berwirausaha, intinya adalah kemauan untuk memulai usaha dan membangun kepercayaan agar orang mau bekerja sama dengan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.