Fenomena bersepeda kembali menggeliat di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir. Kebangkitan aktivitas gowes ini turut memberikan angin segar bagi Pasar Sepeda nasional yang sempat mengalami perlambatan setelah meredanya pandemi Covid-19. Kini, sepeda tidak lagi dipandang sekadar sarana olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern serta alternatif transportasi yang ramah lingkungan.
Perubahan pola masyarakat tersebut ikut mendorong peningkatan minat terhadap berbagai jenis sepeda, terutama sepeda lipat. Model ini banyak diminati karena praktis digunakan untuk mobilitas harian dan mudah dibawa ke moda transportasi publik seperti MRT maupun KRL. Tidak heran jika kalangan pekerja kantoran dan mahasiswa menjadi pengguna terbesar di kota-kota besar.
Meningkatnya minat masyarakat turut memperkuat prospek Pasar Sepeda dalam negeri. Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) mencatat kebutuhan sepeda nasional setiap tahun berada pada kisaran 5,5 juta hingga 7 juta unit. Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang yang masih tersedia bagi industri sepeda nasional.
Namun, kapasitas produksi dalam negeri saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan. Industri lokal baru dapat menghasilkan sekitar 2,5 juta unit sepeda per tahun. Kesenjangan tersebut membuka peluang besar bagi produsen nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.
Pasar Sepeda Masih Menyimpan Potensi Besar
Pelaku industri menilai peningkatan produksi perlu didukung ketersediaan komponen pendukung seperti ban, rantai, gear, dan berbagai suku cadang lainnya. Saat ini sebagian kebutuhan tersebut masih bergantung pada impor, sehingga memengaruhi efisiensi biaya produksi.
Jika rantai pasok komponen dapat diperkuat di dalam negeri, industri diyakini mampu menghasilkan produk dengan harga yang lebih kompetitif. Langkah tersebut sekaligus dapat mempercepat pertumbuhan Pasar Sepeda yang terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Tidak hanya menjanjikan di pasar domestik, produk sepeda buatan Indonesia juga mulai mendapat perhatian dari pasar internasional. Data dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) menunjukkan nilai ekspor sepeda Indonesia pada 2024 mencapai sekitar Rp1,9 triliun.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global. Bahkan, sejumlah proyeksi menyebut Pasar Sepeda Indonesia berpotensi mencapai nilai US$1,1 miliar pada 2027.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut, kualitas dan standar keamanan produk menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, BSN telah menetapkan SNI 9232:2023 yang mengatur persyaratan keselamatan berbagai jenis sepeda, mulai dari sepeda perkotaan, trekking, pegunungan, remaja hingga balap.
