Dian Kenanga, Merintis Usaha Totok Aura dari Kamar Kos

0
111
Dian Kenanga (dok Finela.com)

Berawal dari sepetak kamar kos, usaha terapi totok aura untuk kecantikan dan kesehatan yang dilakukan Salma Dian Priharjati kini telah berkembang pesat. Bahkan Kini Dian Kenanga Totok Aura milik, telah berdiri dengan mentereng di tiga lokasi stretegis yaitu di Jln Ampera, dan Pejaten, Jakarta Selatan dan di Jl Raya Tole Iskandar, Depok. Pengunjungnya pun tak pernah sepi dari mulai orang biasa hingga artis. Seperti apa perjuangan dan perjalanan suksesnya?

Dian memulai usaha jasa kecantikan sejak tahun 2001 saat ia menjadi Manajer pada salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa kecantikan di kota Bandung. Karena Dian memiliki kinerja yang sangat baik, maka kariernya di perusahaan tersebut cukup cemerlang, hingga pada tahun 2002 Dian diangkat menjadi Direktur Operasional pada salah satu anak cabang perusahaan.

Merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk terus memajukan perusahaan, maka pada tahun 2004 Dian melontarkan ide untuk mengembangkan jasa terapi totok aura pada perusahaannya. Menurut pandangan Dian, terapi menggunakan metode totok aura masih jarang pelakunya dan Dian juga meyakini metode tersebut sangat bagus manfaatnya.

Namun ide tersebut ditolak oleh perusahaan dengan alasan, kesan totok aura sering dihubung-hubungkan dengan hal mistis, dan klenik. Belum lagi, jika konsep terapi tersebut diterapkan, butuh waktu dan biaya untuk melatih para therapist karena selain harus mengusai titik-titik akupunktur, therapist juga harus dilatih bio-energi prananya secara intensif di sebuah lembaga atau perguruan seni pernafasan.

Totok aura, adalah sebuah terapi yang memadukan dua jenis terapi, yaitu terapi totok atau accupresure (pijat dan tekan pada simpul syaraf yang bermasalah) dengan terapi bio energi prana (tenaga dalam atau hawa murni yang dilatih intensif hingga level pengobatan). Jadi totok aura bukanlah metode mistis, namun sebuah teknik terapi yang logis dan bisa dipelajari.

Pada totok aura, terapis mendapat pelatihan khusus dan intensif. Seperti bagaimana cara mengeksplorasi hawa murni atau prana yang kemudian dikolaborasikan dengan teknik totok (pijat dan tekan) untuk menelusuri titik akupunktur di wajah atau bagian tubuh yang lain. Perpaduan hawa murni dengan metode totok tersebut berperan sebagai pendeteksi untuk mengetahui titik saraf organ tubuh yang mengalami gangguan.

Walaupun perusahaan menolak idenya tersebut, Dian tetap yakin bahwa terapi totok aura akan bisa menjadi suatu metode terapi kecantikan yang sangat diminati. Untuk itu secara diam-diam (tanpa sepengetahuan perusahaan) Dian mencoba mempelajari teknik-teknik totok aura yang digabungkan dengan teknik mengalirkan bio energy prana pada seorang dosen S2 Fakultas Kedokteran UI (Universitas Indonesia) yang juga ahli dalam hal tersebut. Selain itu, Dian juga belajar pada sepupu ibunya yang kebetulan seorang sinshe terkenal di daerah Petak Sembilan, Jakarta Pusat.

Berbagai cara dilakukan Dian agar usulannya diterima oleh pihak perusahaan, salah satunya dengan cara menggandeng media untuk memperkenalkan totok aura ke masyarakat yang memang masih jarang ada tempat kecantikan yang menggunakan metode tersebut. Namun kembali idenya ditolak perusahaan dengan berbagai alasan.

Karena ide usahannya terus ditolak oleh pihak perusahaan, maka pada pertengahan tahun 2004 Dian memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut dan mencoba membuka usaha totok sendiri. “Saya berani mengundurkan diri karena saya melihat prospek totok aura sangat bagus dan saya memutuskan ingin membuka totok aura sendiri,” tutur wanita lulusan Diploma III- Saint Mary Secretarial School ini.

Pada awal menjalankan usahanya, Dian menggunakan sebuah kamar kos yang terletak di Jl. Ampera Raya 25, Jakarta Selatan sebagai tempat usahanya. Dian memilih kamar kos sebagai tempat prakteknya karena keterbatasan dana. Biaya sewa yang dikeluarkan Dian untuk menyewa tempat kos tersebut sekitar Rp 1 juta/bulan. Seperti dikatakan Dian, total modal awal yang dikeluarkan untuk memulai usahanya tersebut sekitar Rp 3,9 juta yang digunakan untuk sewa tempat dan membeli perlengkapan terapi.

Pelan tapi pasti usaha totok aura yang dijalankan Dian mulai berkembang dan banyak didatangi orang. Karena banyaknya pengunjung dan melihat kapasitas tempat yang terbatas maka Dian pun menyewa satu kamar kos lagi di sebelah kamar kosnya. Karena makin banyaknya pengunjung, Dian pun mempekerjakan tiga orang karyawan yang sebelumnya telah ia ajarkan tentang teknik-teknik terapi totok aura.

Usaha totok aura yang dilakukan Dian bukan tanpa kendala, ketika usahanya sudah mulai berkembang protes berdatangan dari penghuni kos yang lain karena merasa terganggu akan aktivitas terapi yang dilakukan oleh Dian. Merasa tidak enak dengan penghuni lain, Dian pun berusaha mencari tempat usaha yang lebih baik. “Namun untuk mencari tempat yang baru agak lama dan saya baru menemukan tempat sekitar 4 bulan kemudian,” tambah Dian mengenang.

Setelah 4 bulan mencari, akhirnya Dian mendapatkan sebuah tempat yang cocok untuk usahanya yaitu di sebuah ruko 3 lantai yang ada di Jalan Ampera sebelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Saat itu saya hanya menyewa lantai 3 saja sedangkan lantai 1 dan 2 digunakan untuk salon oleh pihak lain,” terangnya. Di tempat yang baru tersebut, usaha totok aura miliknya semakin berkembang. Karena melihat pengunjung yang semakin banyak maka suaminya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan membantunya dalam mengurus usaha totok aura tersebut.

Setahun kemudian, pada tahun 2005, karena penyewa ruko di lantai 1 dan 2 tempatnya membuka usaha tidak memperpanjang kontrak, maka Dian memutuskan untuk menyewa tempat tersebut. Perjalanan usaha ibu dengan empat orang anak ini semakin bertambah mantap ketika secara tidak sengaja Dian mengobati sakit vertigo yang diderita seorang wartawan senior sebuah media. Dari situ wartawan tersebut meminta izin untuk memasukkan terapi totok aura di media.

“Semenjak itulah usaha totok aura saya semakin dikenal banyak orang dan semakin berkembang,” terang Dian sambil tersenyum. Teknik terapi yang tergolong baru saat itu menarik beberapa media untuk meliput, Dian pun merasakan manfaatnya karena dengan penjelasan yang logis di media masyarakat jadi lebih tahu apa itu totok aura.

Setelah usahanya maju pesat, pada tahun 2007 Dian mendaptkan cobaan lagi dalam menjalankan usahanya. Saat itu 8 orang Senior Trainner totok aura yang dimilikinya pindah ke perusahaan lain yang menjadi kompetitornya dengan iming-iming mendapatkan gaji lebih tinggi dibanding tempatnya. “Melihat kenyataan tersebut saya tetap optimis dan bersabar bahwa itu adalah suatu kendala yang bisa saya lewati,” tambah Dian. Tidak disangka selang beberapa bulan, 6 dari 8 trainer-nya tersebut minta kembali bekerja di tempatnya alasannya ternyata tawaran gaji tinggi hanya omong kosong belaka, dan dengan tangan terbuka Dian pun menerima mereka kembali.

Dikatakan Dian, yang kadang masih jadi kendala adalah masih banyak anggapan terapi totok aura yang ditekuninya memakai pemujaan dan banyak kaum lelaki yang menganggap totok aura yang dijalaninya adalah usaha pijat plus-plus. Mendengar hal-hal tersebut, Dian pun tetap sabar dan tenang serta tidak menanggapinya secara berlebihan. Karena menurutnya yang terpenting ialah tetap fokus pada usaha dan terus melakukan pelayanan yang terbaik bagi tamu-tamu yang datang ke tempatnya.

Tahun 2009 Dian kembali memperluas usaha dengan membuka cabang di Jl. Raya Pejaten Barat No. 38, Jakarta Selatan. “Karena tempat tersebut sangat strategis dan luas maka saya menjadikannya sebagai kantor pusat,” terang Dian. Perkembangan usaha yang dijalani Dian sangat pesat, karena selain telah memiliki tiga cabang yaitu di Jl. Ampera Raya No. 130-131 (samping Pengadilan Negeri), Jl. Raya Pejaten Barat No. 38, dan di Jl Tole Iskandar, Ruko Pasar Segar Depok Blok RC -1 No. 1-3, Depok, kini Dian telah memiliki 182 orang karyawan.

Menurut Dian untuk bisa sukses seperti sekarang ini tidak diperolehnya dengan begitu saja, dirinya harus bekerja keras dan menghadapi berbagai kendala usaha. Kunci sukses Dian dalam menjalankan usaha ini ialah selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pelanggan. Selain itu, Dian juga memberikan yang terbaik kepada karyawannya seperti gaji dan kesejahteraan yang layak. Karena menurutnya usaha tidak akan berkembang jika karyawan tidak merasa diperhatikan oleh atasannya. Moto hidup sukses yang dijalani Dian ialah jangan hanya menjadi seorang pekerja keras namun kita juga harus selalu membuka cakrawala dan pengetahuan kita agar bisa menyelesaikan masalah dengan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.