Kementerian Perindustrian terus mendorong penguatan Industri Agro nasional agar mampu menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi sekaligus semakin kompetitif di pasar internasional. Strategi tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi dan percepatan hilirisasi agar komoditas berbasis sumber daya alam dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat menjadi modal penting bagi pengembangan industri. Namun, potensi tersebut perlu diikuti kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan produk berkualitas, memenuhi standar internasional, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen global.
Menurut Agus, persaingan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang. Pelaku Industri Agro juga perlu memahami karakter pasar tujuan, memenuhi ketentuan regulasi, serta membangun reputasi perusahaan agar dipercaya pembeli internasional.
Kemenperin Perkuat Kompetensi Pelaku Industri
Agus menilai persyaratan pasar global semakin kompleks, terutama terkait mutu, keamanan pangan, dan keberlanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi bagian penting agar produk Indonesia mampu mempertahankan posisi di pasar luar negeri dalam jangka panjang.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Ekspor yang digelar pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta.
Kegiatan itu diikuti 20 peserta dari 16 perusahaan yang bergerak di sektor rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu. Keempat komoditas tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah sekaligus menyasar pasar internasional.
Strategi Ekspor Jadi Fokus Pengembangan
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk memberikan bekal praktis kepada pelaku usaha dalam menghadapi perubahan perdagangan global.
Pelaku usaha didorong mampu membaca peluang pasar secara lebih akurat, memahami persyaratan negara tujuan, serta mengkomunikasikan keunggulan produk kepada calon pembeli dari luar negeri.
Penguatan kemampuan tersebut diharapkan membuat Industri Agro tidak berhenti pada ekspor komoditas mentah. Dengan hilirisasi dan strategi pemasaran yang lebih matang, produk berbasis rempah, rumput laut, mikroalga, hingga sagu dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kemenperin menilai kesiapan industri menjadi faktor penting dalam memperluas pasar ekspor. Melalui peningkatan kompetensi dan pemahaman perdagangan internasional, Industri Agro nasional diharapkan semakin kuat menghadapi persaingan sekaligus mampu memperbesar kontribusinya terhadap rantai pasok global.





