Kinerja Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif Meski Dihantam Tekanan Global dan Domestik

0
43
Kinerja Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif Meski Dihantam Tekanan Global dan Domestik
Kinerja Sektor Manufaktur Tetap Ekspansif Meski Dihantam Tekanan Global dan Domestik (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Kinerja sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global dan domestik yang semakin kompleks. Meski pelaku industri menghadapi tantangan dari sisi produksi maupun permintaan sepanjang Juni 2026, aktivitas manufaktur nasional tetap bertahan pada zona ekspansi. Hal tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di level 52,90, meskipun mengalami penurunan 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa kondisi pada Juni lebih berat dibanding Mei. Jika sebelumnya tekanan hanya berasal dari proses produksi, kini industri juga mulai menghadapi perlambatan permintaan pasar. Namun demikian, pelaku usaha dinilai masih mampu menjaga optimisme sehingga Kinerja sektor manufaktur tetap berada pada jalur positif.

Menurut Febri, tekanan dari sisi produksi dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan baku impor sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga energi dunia, sementara pelemahan nilai tukar rupiah ikut memperbesar biaya impor bahan baku yang dibutuhkan industri.

Selain itu, sejumlah kawasan industri sempat mengalami gangguan pasokan listrik yang menghambat proses produksi. Beberapa perusahaan bahkan harus menghentikan operasional sementara hingga pasokan listrik kembali normal, sehingga efisiensi produksi ikut terdampak.

PT Mitra Mortar indonesia

Kinerja Sektor Manufaktur Diuji oleh Biaya Produksi

Tantangan lain datang dari kenaikan harga gas industri, khususnya pasokan yang berasal dari regasifikasi LNG. Menurut Kementerian Perindustrian, biaya energi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi daya saing industri nasional.

Pemerintah menyambut positif langkah penurunan harga gas regasifikasi LNG dari 23 dolar AS menjadi 13 dolar AS per MMBTU. Kebijakan tersebut dinilai mampu mengurangi beban operasional perusahaan yang menggunakan gas sebagai sumber energi maupun bahan baku produksi.

Kementerian Perindustrian berharap implementasi kebijakan tersebut berjalan konsisten agar industri yang memperoleh skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) tetap mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan. Langkah ini diyakini dapat menjaga Kinerja sektor manufaktur sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Permintaan Domestik Jadi Perhatian Pemerintah

Selain persoalan biaya produksi, pemerintah juga mencermati mulai melemahnya permintaan dalam negeri. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan rumah tangga serta penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi dinilai memengaruhi ruang belanja masyarakat terhadap produk manufaktur.

Meski demikian, pemerintah optimistis kondisi tersebut masih dapat dikendalikan. Inflasi diperkirakan tetap berada dalam kisaran target nasional sehingga daya beli masyarakat secara umum masih terjaga.

Kementerian Perindustrian juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga BBM bersubsidi. Langkah tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas inflasi sekaligus menopang konsumsi rumah tangga terhadap berbagai produk industri.

Dengan dukungan kebijakan fiskal dan energi yang terus diperkuat, Kinerja sektor manufaktur diperkirakan tetap mampu bertahan menghadapi tekanan global. Pemerintah berharap sinergi berbagai kebijakan dapat menjaga momentum ekspansi sehingga Kinerja sektor manufaktur terus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan