Industri Tekstil Nasional Bangkit, Indonesia Rebut Peluang dari Pertumbuhan Tekstil Dunia

0
156
Industri Tekstil Nasional Bangkit, Indonesia Rebut Peluang dari Pertumbuhan Tekstil Dunia
Industri Tekstil Nasional Bangkit, Indonesia Rebut Peluang dari Pertumbuhan Tekstil Dunia (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis bagi ekosistem Pertumbuhan Tekstil Dunia. Dalam forum internasional ITMF (International Textile Manufacturers Federation) & IAF (International Apparel Federation) World Fashion Convention Annual Conference 2025 di Yogyakarta, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia kini berada pada fase kebangkitan yang menjanjikan.

“Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah dalam ajang ini, tetapi juga hadir sebagai mitra penting dalam mendorong inovasi dan kemajuan industri tekstil global. Industri TPT kita telah menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah tekanan ekonomi dunia,” ujar Agus dalam sambutannya, Jumat (24/10).

Selama tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, industri TPT mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,39% dan menyumbang 0,98% terhadap PDB nasional. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor tekstil tidak lagi dianggap sebagai “sunset industry”, melainkan pilar penting dalam menopang struktur industri nasional.

Kebijakan untuk Menjaga Laju Pertumbuhan Industri Tekstil

Agus menjelaskan, Kementerian Perindustrian tengah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ini. Langkah pertama adalah penyederhanaan proses investasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Melalui sistem Online Single Submission (OSS) yang diperbarui, pemerintah memastikan proses perizinan menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien.

PT Mitra Mortar indonesia

Selain itu, program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan Industri TPT terus dijalankan guna membantu pelaku usaha mengganti mesin lama dengan teknologi yang lebih modern dan hemat energi. Sejak dimulai, program ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga 21,75%, efisiensi energi sebesar 11,86%, serta menambah lapangan kerja hampir 4%.

Langkah berikutnya adalah penyaluran Kredit Industri Padat Karya senilai hingga Rp20 triliun pada tahun 2025. Skema ini diharapkan mampu membantu 2.000–10.000 perusahaan, terutama sektor tekstil dan apparel, agar terus berekspansi dan menjaga daya serap tenaga kerja nasional.

Menyongsong Masa Depan Tekstil Indonesia di Kancah Global

Untuk memperkuat daya saing, pemerintah juga memberikan Fasilitas Masterlist berupa pembebasan bea masuk atas barang modal yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Di samping itu, insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, investment allowance, dan super deduction tax turut diberikan kepada industri yang berinvestasi di bidang riset, pengembangan, dan pendidikan vokasi.

“Semua kebijakan ini kami rancang untuk membangun ekosistem industri tekstil yang tangguh dan berkelanjutan. Sektor TPT bukan hanya mendukung perekonomian nasional, tapi juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja serta menjaga keseimbangan sosial,” ungkap Agus.

Daya saing produk TPT Indonesia terlihat jelas di pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat. Produk dengan kategori HS 61 (pakaian dan aksesori rajutan) menempati posisi kedua terbesar dalam surplus perdagangan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,86 miliar, melampaui produk alas kaki yang senilai USD 1,85 miliar.

Menurut Agus, pencapaian ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok Pertumbuhan Tekstil Dunia, sekaligus mampu memanfaatkan peluang dari kesepakatan perdagangan bilateral yang baru disepakati dengan Amerika Serikat.

Secara global, Indonesia juga masuk dalam lima besar produsen tekstil paling efisien di dunia. Di subsektor pemintalan benang, biaya produksi hanya sekitar USD 2,71 per kilogram, lebih efisien dibanding India, Tiongkok, dan Turki. Pada subsektor pertenunan, biaya produksi mencapai USD 8,84 per meter, sementara di sektor fabric finishing hanya USD 1,16 per meter—salah satu yang terendah di kawasan Asia.

“Data ini menunjukkan bahwa daya saing industri TPT nasional sangat kuat. Dengan efisiensi tinggi dan inovasi berkelanjutan, kita bisa terus menjadi bagian penting dari Pertumbuhan Tekstil Dunia dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri global,” tegas Agus.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan