Usung Konsep Corporate Farming, Kampung Budidaya Rumput Laut Sidoarjo Beromzet Milyaran Rupiah

Berempat.com – Sidoarjo – Kampung Perikanan Budi daya Rumput Laut di Dusun Tanjungsari, Desa Kupang kecamatan Jabon, Sidoarjo merupakan penghasil rumput laut terbanyak di Jawa Timur. Kawasan ini memiliki luas areal polikultur 800 hektare, yang dijalankan oleh 167 pelaku utama Rumah Tangga Pembudi daya (RTP). Di dalamnya juga terdapat kegiatan budi daya bandeng dan udang.

Dengan mengusung konsep corporate farming, Kampung Budi Daya Rumput Laut di Kecamatan Jabon, ditargetkan menjadi pemicu tumbuhnya kegiatan ekonomi turunan, diantaranya usaha pengolahan. Konsep ini dilaksanakan dengan menyinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem usaha perikanan budi daya yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu masuk pasar ekspor.

Adapun komoditas unggulannya yaitu jenis Gracilaria sp. atau rumput laut merah, yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk keperluan industri modern baik itu di bidang pangan maupun non pangan. Total produksi rumput laut di sana mencapai 200 – 500 ton per bulan dengan harga jual kurang lebih Rp6.000/kg. Perputaran ekonomi budidaya rumput laut di Jabon sekitar Rp. 1,2  – 3 miliar per bulan.

Perputaran moda ekonomi di Desa Devisa rumput laut ini, berpotensi 2-3 milyar setiap bulannya dan bisa menghidupi 357 orang.

“Rata-rata produktivitas rumput laut yang dikembangkan Pokdakan Samudera Hijau Satu, kurang lebih sebanyak 15 ton perhektar. Apabila dikalkulasi dengan harga Rp7.000 perkilogram dalam waktu 45 hari masyarakat dapat meraup keuntungan bersih hingga Rp13 juta (per siklus), atau sekitar Rp 8,75 juta perbulannya,” ujar Mustofa, Ketua Kelompok Pembudidaya Perikanan.

Mustofa menambahkan, budidaya rumput laut nyaris minim biaya produksi. Biaya produksinya hanya sekitar 20 persen saja untuk bibit dan tenaga kerja, bisa menghasilkan 2 ton untuk sekali panen.”Sangat berpotensi. Maka kami mentargetkan bisa menambah kuota ekspor hasil rumput laut tiap tahunnya,” pungkasnya.

Kedepannya, Budidaya ini juga perlu memperhatikan lagi terkait Infrastruktur, riset serta penelitian tentang bagaimana kemudian grasilaria ini bisa lebih optimal dan berkembang. (Noe)