Kemendag Gelar Forum Bisnis Pengelola SRG dan Pengusaha Ritel

0
17
(Ilustrasi: pexels.com/ Hobi Induatri)

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pelaksanaan Sistem Resi Gudang (SRG) secara nasional dalam sepuluh tahun terakhir.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi kesuksesan SRG yang berjalan di suatu daerah, antara lain dukungan pemerintah pusat dan daerah serta lembaga SRG yang terlibat; pengelola gudang yang mandiri dan profesional; infrastruktur pendukung; jaringan pemasaran; dan kelembagaan petani/nelayan/peternak di lokasi gudang SRG.

Demikian ditegaskan Wamendag Jerry dalam “Forum Bisnis Temu Pembeli-Penjual: Pengelola SRG dan Pengusaha Ritel” yang digelar secara daring kemarin, Rabu (22/12).

Acara tersebut merupakan hasil kerja sama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). “Dalam forum bisnis ini, diharapkan pelaku usaha dapat mengenal lebih dalam atas produk yang dihasilkan pengelola gudang SRG dan sekaligus memberikan pemahaman kepada pengelola gudang SRG mengenai mekanisme pemasaran melalui pasar ritel modern,” ungkap Wamendag Jerry.

Jerry menambahkan, upaya Kemendag untuk mendorong pelaksanaan SRG antara lain dengan membangun infrastruktur gudang, memberikan alat sarana dan prasarana penambahan nilai komoditas yang disimpan di gudang SRG, menyediakan sistem informasi guna mendukung terwujudnya digitalisasi sistem perdagangan, memberikan pembekalan keterampilan nonteknis (soft skill) guna meningkatkan kapasitas dan profesionalisme pemangku kepentingan SRG, dan sampai dengan saat ini, menjembatani perluasan akses pasar produk yang dihasilkan dari gudang SRG.

Wamendag Jerry juga menyampaikan apresiasinya bagi pihak yang berperan aktif dalam mengembangkan SRG. “Kemendag mengapresiasi pihak yang membantu membuka akses pasar bagi produk yang dihasilkan pengelola gudang SRG melalui pasar ritel modern,” ujar Jerry.

SRG di Indonesia merupakan program prioritas nasional yang telah dibangun sejak 2006. Dengan SRG, komoditas pemilik barang dapat digunakan sebagai agunan yang akan memperoleh pembiayaan tanpa perlu adanya agunan lain.

Komoditas tersebut juga dapat menjadi akses pembiayaan yang dapat digunakan pelaku usaha komoditas mulai dari hulu hingga hilir.

Pembiayaan yang diberikan tentunya dapat membantu likuiditas pemilik barang, baik untuk memperoleh harga yang lebih baik maupun untuk meningkatkan skala usahanya.

Saat ini, pelaksanaan SRG telah mencakup 20 komoditas, baik komoditas pangan pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, maupun pertambangan. SRG juga telah dilaksanakan di 99 kabupaten/kota yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia.

Dari tahun ke tahun, partisipasi pelaku usaha komoditas dalam memanfaatkan SRG juga semakin meningkat, baik sebagai badan usaha yang terlibat langsung dalam menyelenggarakan pengelolaan gudang berbasis SRG maupun pelaku yang memanfaatkan SRG sebagai skema penyimpanan stok, tunda jual, serta untuk memperoleh pembiayaan usaha. Hal ini tentu juga berdampak langsung kepada nilai pemanfaatan SRG yang dalam tiga tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif.

Tercatat pada 2019, nilai transaksi SRG mengalami pertumbuhan 11 persen dan pada 2020, tercatat tumbuh sebesar 72 persen. Adapun pada 2021 (per 21 Desember), tercatat tumbuh sebesar 16persen. Sejalan dengan itu, nilai pembiayaan berbasis SRG juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data per 21 Desember 2021, nilai pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp347,67 miliar atau tumbuh 195 persen dibandingkan pada 2020.Forum bisnis SRG dihadiri Ketua Aprindo Roy Nicholas Mandey dan bertindak sebagai moderator ialah Kepala Biro Pembinaan dan Pengawasan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas Widiastuti.

Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 30 peserta yang terdiri dari perwakilan pelaku pasar ritel modern, seperti Indomaret, Ramayana, Tip Top, Alfamart, Lotte Grosir serta pengelola gudang SRG meliputi BUMP PT Pengayom Tani Sejagad (Wonogiri), PT Sinergi Karya Nusa (Kebumen), PT Sang Hyang Seri (Persero), Koperasi Niaga Mukti (Cianjur), Koperasi Produsen Mandiri MAI (Pagar Alam), dan Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (Subang).

Menurut Roy, forum bisnis bertujuan memperkenalkan produk pengelola gudang SRG tersebut serta mempertemukan pengelola langsung dengan pelaku usaha ritel, baik yang tergabung maupun di luar Aprindo. Adapun hasil yang ingin dicapai dalam pertemuan ini adalah terjadinya transaksi atau kontrak kerja sama antara pengelola gudang SRG dengan pelaku usaha ritel.

Roy turut mendorong pelaku usaha ritel memanfaatkan forum bisnis dengan baik. “Dengan memiliki akses ke pengelola gudang SRG, pelaku usaha ritel dan masyarakat dapat memperoleh komoditas dengan harga terbaik,”ujar Roy