Industri 4.0 Merambah IKM Makanan dan Minuman

0
8
(Dok: kemenperin.go.id)

Banyumas – Revolusi industri keempat telah menjadi lompatan besar tidak hanya bagi sektor industri besar tapi juga bagi industri kecil dan menengah (IKM). Implementasi industri 4.0 mendukung pelaku sektor manufaktur dalam transformasi industri yang mengintegrasikan semua lini produksi dengan bantuan teknologi digital.

Sebagai salah satu prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, industri makanan dan minuman (mamin) menjadi fokus penerapan peta jalan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan agar IKM mamin dapat mengadopsi teknologi di sepanjang rantai nilai untuk meningkatkan hasil produksi dan pangsa pasar.

“Hal ini menunjukkan bahwa industri 4.0 bukan menara gading, karena siapapun di manapun, kapanpun, dapat bertransformasi dengan teknologi ini. Industri 4.0 memungkinkan teknologi untuk semua,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kunjungannya ke IKM produksi gula palma KSU Nira Satria, Banyumas, Selasa (7/12).

Hal ini sejalan dengan transformasi digital yang diinginkan Presiden Joko Widodo. Tidak harus dalam skala besar yang luar biasa, tapi bisa melalui sebuah koperasi di kaki Gunung Slamet. “Ini memang langkah kecil, tapi bila diorkestrasikan dengan kebijakan, bisa memberi dampak luar biasa,” Agus meyakini.

Gula palma merupakan salah satu komoditasunggulan yang dihasilkan oleh IKM. Ekspor produk berbahan dasar nira kelapa/gula aren/gula siwalan tersebut mencapai 36,5 ribu ton dengan nilai USD49,3 juta pada 2019, dan meningkat menjadi 39,4 ribu ton dengan nilai USD63,5 juta di 2020. Indonesia merupakan negara pengekspor utama gula palma di dunia. Selain pasar ekspor,peluang di dalam negeri juga dinilai sama-sama menjanjikan.

Dalam rangka meningkatkan daya saing gula palma Indonesia di pasar global, terutama dalam hal efisiensi dan traceability, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) terus mendukung penerapan transformasi industri 4.0 bagi IKM gula palma. “Rantai pasok gula palma yang cukup panjang, mulai dari penderes, perajin, hingga eksportir mampu menyerap banyak tenaga kerja, yang akan berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menggerakkan perekonomian di daerah.” ucap Menperin.

Sehingga, untuk menjaga pasar utamanya dari negara pesaing, kualitas gula palma harus diperhatikan dengan baik agar tetap terjamin. Demikian pula dalam proses produksi yang harus efisien dan mudah telusur.

Pada kesempatan ini, Menperin melakukan dialog dengan KSU Nira Satria yang diketuai oleh Nartam Andrea Nusa. IKM produsen gula palma tersebut sudah menerapkan sistem industri 4.0 pada proses produksinya. Upayapenerapan teknologi industri 4.0 di IKM gula palma dilakukan secara bertahap, mulai dari pembangunan sistem informasi, bantuan sarana pendukung dalam penerapan sistem informasi, hingga pendampingan kepada IKM tersebut.

“Meningkatnya produktivitas dan daya saing IKM mamin yang didukung dengan penerapan teknologi menunjukkan bahwa industri 4.0 tidak mengeliminasi lapangan kerja. Di sini, proses pembinaan dan pembelajaran pun berjalan beriringan,” ujar Menperin.

Plt. Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita menjelaskan, implementasi industri 4.0 pada unit usaha gula palmameningkatkan traceabilityproduk gula palma dari level pengepul ke IKM/koperasi. Manfaat lainnya,IKM memiliki sistem informasi berbasis website pada proses bisnis gula palma,meliputi otomatisasi timbangan digital IKM/ koperasi yang terintegrasi secara real time ke cloud database berbasis IoT, warehouse management system di level pengepul dan IKM/koperasi, serta real time data collector dan monitoring untuk peningkatan efisiensi mesin produksiberbasis IoT.

“Diharapkan nantinya KSU Nira Satria dapat menjadi pilot project penerapan industry 4.0 tidak hanya pada industri gula palma tetapi juga pada agroindustri lainnya yang memiliki rantai pasok panjang dengan pendekatan sentra IKM,” tandasnya.