Mantan Karyawan Bank Sukses Berbisnis Hijab Syari dari Nol (Bag 1)

0
693
Tazqa Hijab Syari (dok twitter @tazqahijabsyari)

Tak memiliki kemampuan menggambar, mendesain bahkan menjahitbukan penghalang bagi Amelia Normasari berbisnis hijab syari. Berbekal keinginan kuat menghadirkan produk hijab syari yang terjangkau, Amel mantap mengembangkan Tazqa Hjab Syari. Bermodal ratusan ribu, Amel benar-benar memulai dari nol. Bahkan mantan karyawan Bank ini baru mendalami media sosial instagram yang menjadi lapak bisnisnya. Seperti apa kisah perjalanan bisnis Amel hingga mampu meraih omset puluhan juta dan melebarkan sayap bisnisnya ke usaha minuman ini?

Amelia Normansari, begitu nama pemilik Tazqa Hijab Syari ini. Usai merampungkan urusan bisnisnya, Amel begitu ia disapa, tampak sumringah menyambut Berempat.com di bilangan BSD Tangerang. “Hallo, apa kabar?,” sapa Amel membuka perbincangan. Dalam balutan hijab syari warna hitam, wanita berkulit putih ini menceritakan perjalanan bisnisnya enam tahun silam.

Keputusan berbisnis hijab syari bukanlah tanpa alasan. Amel yang sebelumnya lama bekerja di salah satu bank, mencari kesibukan pasca ia memutuskan resign sebagai marketing bank. Kebetulan, Amel yang saat itu sedang berhijrah menggunakan busana syari memunculkan ide untuk menjalani bisnis hijab syari.

“Saat itu hijab syari sempat booming, namun harga hijab syari terbilang mahal. Karena itu saya tertarik buat hijab berkualitas namun dijual dengan harga terjangkau,” ucapnya.

Sebagai pemula di bisnis hijab tepat rasanya Amel yang menggunakan brand Tazqa Hijab Syari, menjual hijab syari dengan harga terjangkau. Selain itu, misi Amel yang menginginkan semakin banyak orang menggunakan hijab syari menjadi alasan utama Amel menjual satu set hijab syari perdananya dengan harga Rp 270 ribu.

“Kalau saya jual dengan harga mahal, sulit bagi saya bersiang dengan yang lebih dulu dikenal. Saya juga ingin banyak orang bisa beli hijab syari karena harganya yang lebih bersahabat,” tutur Amel mengenang awal usahanya.

Bukan Penghalang.

Berbeda dengan pengusaha hijab syari lain yang umumnya memiliki kemampuan menggambar, mendesain bahkan lihat menjahit, tidak begitu dengan Amel. Wanita asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengaku tak bisa menggambar, membuat desain bahkan menggunakan mesin jahit.

“Saya tidak bisa menggambar, tidak bisa merancang, jahit pun tidak bisa. Tapi kenginan saya kuat sekali. Dengan prinsip kalau baju syari ini yang penting longgar, tidak membentuk tubuh, cutting-nya sama aja, saya mulai usaha ini dengan bismillah. Semua kendala itu bukan penghalang bagi saya,” kisahnya.

Wanita kelahiran 13 Februari 1983 ini mengatakan banyak belajar tentang jenis bahan, desain, model yang sedang tren, cara cutting bahan dari penjahit dan rekan-rekan sesama pengusaha hijab syari yang ia temui di toko tempat ia membeli kain. Dari bertemu dengan banyak orang, akhirnya ia tahu untuk membuat jibab syari perlu berapa banyak kain, berapa lapis, hingga cara memotong kain agar tak banyak yang terbuang sia-sia.

Dengan modal coretan gambar sederhana yang dibuatnya, ia mengarahkan penjahit yang merupakan tetangganya untuk membuat hijab syari sesuai dengan keinginnya. Setelah melewati beberapa kali revisi guna menyempurnakan desain hijab syari, akhirnya dihasilkan hijab syari yang diminati teman-teman, kolega hingga masyarakat luas.

“Awalnya saya tawarin ke temen saya, dan mendapat respons bagus. Dari sana saya coba jualan via instagram yang baru saya pelajari lebih dalam,” aku wanita yang sebelumnya hanya bermain facebook itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.