Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis Lima Kriteria Produk yang Bisa Diterima Pasar

Lima Kriteria Produk yang Bisa Diterima Pasar

0

 

Setiap konsumen pasti menghendaki, bahwa dengan uang yang telah dibayarkan atau dikorbankannya, ia akan mendapat produk sesuai dengan harapan. Bila sebaliknya, maka konsumen akan kecewa dan itu artinya kegagalan usaha tinggal menunggu hari saja.

Banyak produk hanya menonjolkan harga yang murah, bentuk yang menarik, hingga kegunaan yang banyak, namun melupakan inti dari produk itu sendiri. Sebuah produk baru bisa dikatakan produk yang baik bila mampu menjalankan fungsi utamanya. Sebagai contoh, sebuah handphone fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi (menelepon atau SMS). Jadi akan menjadi tidak ada artinya meskipun harganya mahal, warnanya dan modelnya bagus, model terbaru, dst, namun untuk menelepon sering putus, baterainya cepat habis, atau tombolnya terlalu sensitif, dan seterusnya.

Sebagai sebuah produk, fungsi utama ini harus dipastikan dulu, baru memperhatikan masalah lainnya, seperti kemasannya, warnanya, bentuknya, harganya, dan lain-lain. Dengan demikian, bila ingin bertahan lama dan berkembang, setiap usaha wajib memiliki produk yang ‘baik’, tidak hanya harga yang terjangkau saja, namun juga harus handal.

Dalam bahasa sederhana, produk handal dapat diartikan sebagai produk yang berkualitas, produk yang sesuai harapan konsumen. Untuk lebih mudahnya, berikut ini beberapa ciri atau tanda-tanda bahwa sebuah produk tersebut handal atau tidak:

Pertama

Produk tersebut memiliki umur ekonomis yang cukup lama. Semakin lama umur atau usia penggunaannya akan semakin baik bagi konsumen. Sebagai contoh, kalau konsumen membeli roti tawar, maka semakin lama (tanpa upaya negatif, tentunya) roti tersebut bisa bertahan dan dapat dimakan, semakin handal roti tersebut.

Kalau konsumen membeli sepatu, maka dengan harga yang dibayarkan, semakin lama sepatu tersebut bisa bertahan dana dapat digunakan, semakin handal sepatu tersebut. Bahkan pada beberapa contoh, produk tersebut semakin handal, karena mampu bertahan lebih lama dari usia atau umur ekonomis wajarnya. Misalkan, dengan membeli sepatu dengan harga Rp 30.000 seorang konsumen cukup tahu diri bahwa sepatu tersebut bisa bertahan 3 bulan saja sudah bersyukur, namun ternyata sudah 6 bulan lebih sepatu tersebut masih layak digunakan, maka produk tersebut sudah sangat memenuhi kriteria handal yang pertama.

Kedua

Ciri yang kedua sebuah produk yang handal adalah, apabila produk tersebut mengalami kerusakan, mudah untuk diperbaiki. Mudah di sini, bisa berarti mudah dicari komponen yang rusaknya, karena banyak dijumpai di berbagai toko yang ada, maupun mudah dalam memperbaikinya, baik diperbaiki sendiri maupun banyak tempat yang bisa memperbaikinya.

Sebagai contoh, sebuah produk kursi yang rusak karena bautnya patah, konsumen dengan mudah membeli baut pengganti di banyak toko serta dapat memperbaikinya sendiri, atau kalaupun minta tolong orang, dengan mudah menemukan orang atau bengkel yang bisa memperbaiki kursi tersebut. Sebaliknya produk yang tidak handal adalah produk yang sparepart–nya sulit dicari,  kalau rusak sulit diperbaiki dan kadang-kadang harus menunggu waktu yang lama untuk memperbaikinya.

Ketiga

Kerusakan salah satu komponen tidak akan berpengaruh banyak pada fungsi utama produk tersebut. Seperti kita ketahui seringkali sebuah produk terdiri atas berbagai komponen.

Sebagai contoh produk inovatif ‘sandal boneka’. Produk tersebut dikatakan handal apabila misalnya karena suatu sebab hiasan bonekanya lepas atau rusak, sandal tersebut tetap bisa dan pantas digunakan. Jangan sampai hanya karena itu, sandal tersebut menjadi tidak bisa digunakan atau menjadi memalukan bila digunakan.

Keempat

Mudah digunakan dan mudah dirawat. Ciri selanjutnya adalah bahwa produk yang handal harus mudah digunakan, mulai dengan pemasangan yang mudah, maupun petunjuk penggunaan yang mudah dipahami, sehingga konsumen tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menikmati manfaat produk tersebut.

Di samping itu, produk tersebut harus memberi kemudahan bagi konsumen untuk merawatnya. Sebagai contoh produk ‘Baju’ yang baik adalah baju yang tidak hanya mudah dipakai namun juga harus mudah dirawat, dengan perawatan pada umumnya. Semakin sulit dipakai dan semakin sulit perawatannya (mencuci dan menyimpannya, misalnya), semakin tidak handal produk tersebut, karena menimbulkan masalah tambahan bagi konsumen.

Kelima

Ramah lingkungan. Saat ini dengan terus menurunnya kualitas lingkungan di sekitar kita, semakin menuntut produk yang ramah lingkungan, tidak hanya bahan baku yang digunakan saja yang harus ramah lingkungan, namun masa penggunaan dan sampah yang dihasilkannya pun harus ramah lingkungan, syukur-syukur tidak menghasilkan sampah, dengan kata lain semua komponen dapat dikonsumsi oleh konsumen.

Demikianlah beberapa hal berkaitan dengan ‘baik’–nya sebuah produk, produk yang handal memang tidak akan menjamin 100% akan laku atau berhasil di pasar. Namun, paling tidak dengan memiliki produk yang handal, sebuah unit usaha akan lebih mudah mendapat apresiasi dan pujian dari konsumen, karena konsumen mendapat produk yang sesuai atau bahkan melebihi harapannya. Semoga pelaku usaha mendapat manfaat dari tulisan singkat ini. Amiin.

 

Oleh: Aris Budi Setyawan,

Program DIII Bisnis dan Kewirausahaan

Universitas Gunadarma

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version