Penjualan Barang Mewah di China Melemah, Industri Mode Eropa Tertekan

0
34
Penjualan Barang Mewah di China Melemah, Industri Mode Eropa Tertekan
Penjualan Barang Mewah di China Melemah, Industri Mode Eropa Tertekan
Pojok Bisnis

Penjualan barang mewah di pasar global menghadapi tekanan seiring melemahnya daya beli konsumen China. Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah rumah mode ternama Eropa, termasuk LVMH, Kering, dan Hermes. Sepanjang tahun ini, enam perusahaan barang mewah yang tercatat di bursa Eropa kehilangan nilai pasar sekitar 251 miliar euro atau setara Rp 5.084 triliun.

Mengutip laporan CNA, Selasa (27/10/2026), kinerja Kering bahkan berada di bawah perkiraan pasar yang sebelumnya sudah direvisi lebih rendah. Situasi ini memperlihatkan bahwa industri barang mewah masih kesulitan keluar dari perlambatan yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Penurunan nilai pasar paling besar dialami LVMH dan Hermes. Kapitalisasi pasar LVMH menyusut sekitar 131,6 miliar euro atau Rp 2.665 triliun, sedangkan Hermes kehilangan 93,3 miliar euro atau sekitar Rp 1.889 triliun. Pelemahan tersebut turut dipengaruhi gejolak pasar saham dan perubahan pola belanja konsumen China.

Selama lebih dari satu dekade, China menjadi salah satu penopang utama permintaan produk premium. Namun, pasar properti yang belum pulih dan kinerja saham yang melemah membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Pertumbuhan penjualan ritel bulanan China bahkan tercatat di bawah 0,5% selama enam bulan terakhir.

PT Mitra Mortar indonesia

Analis Bernstein, Luca Solca, menilai pemulihan permintaan konsumen China yang diharapkan pelaku industri belum menunjukkan perkembangan berarti. Situasi itu menekan kinerja perusahaan sekaligus memicu pelemahan harga saham dan evaluasi strategi bisnis.

Penjualan Barang Mewah Tertekan oleh Pelemahan Konsumen China

LVMH, Kering, dan Hermes sama-sama melaporkan penurunan permintaan dari konsumen China pada kuartal III. Chief Financial Officer LVMH, Cecile Cabanis, mengungkapkan bahwa penjualan produk mode dan barang kulit perusahaan turun hingga belasan persen di kalangan pelanggan China secara global. Menurutnya, perlambatan tersebut terutama dipicu melemahnya permintaan dari kelompok konsumen itu.

Tekanan serupa dirasakan Kering, pemilik merek Gucci, Saint Laurent, dan Bottega Veneta. Penjualan kepada konsumen China turun sekitar 15–20% pada kuartal ketiga, lebih dalam dibandingkan penurunan pada kuartal sebelumnya.

Hermes yang selama ini dikenal relatif tangguh juga mulai merasakan dampaknya. Penjualan global divisi pakaian siap pakai dan aksesori turun 2%. CFO Hermes, Eric du Halgouet, menyebut pelemahan pasar saham China dan pengetatan terhadap kekayaan yang ditempatkan di luar negeri ikut memperberat kondisi pasar.

Tekanan ekonomi China juga tercermin dari indeks CSI 300 yang merosot 19% dalam empat bulan terakhir. Penurunan tersebut menghapus nilai pasar sekitar US$ 2 triliun di tengah kekhawatiran terhadap konsumsi domestik dan valuasi perusahaan kecerdasan buatan.

Analis Berenberg memperingatkan bahwa ketergantungan Hermes pada pasar China dan konsumen kelas atas yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dapat membebani pendapatan perusahaan.

Meski demikian, prospek industri belum sepenuhnya suram. Penjualan tas Birkin dan produk tas mewah Hermes lainnya meningkat 10,8%. Sementara itu, Tiffany milik LVMH dan Boucheron di bawah Kering mencatat pertumbuhan penjualan dua digit pada kuartal tersebut.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan