Top Mortar tkdn
Home Bisnis Melihat Potensi Bisnis Bonggol Jagung yang Selama Ini Terabaikan

Melihat Potensi Bisnis Bonggol Jagung yang Selama Ini Terabaikan

0
Melihat Potensi Bisnis Bonggol Jagung yang Selama Ini Terabaikan (Foto Ilustrasi)

Bonggol Jagung selama ini lebih sering dianggap sebagai limbah setelah biji jagung dipisahkan dari tongkolnya. Padahal, material yang kerap ditumpuk atau dibuang tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Kami di Berempat.com melihat fenomena ini sebagai bagian dari perkembangan ekonomi sirkular, ketika sisa produksi pertanian mulai dipandang sebagai bahan baku baru yang bisa menghasilkan pendapatan.

Potensinya menjadi semakin menarik jika melihat skala produksi jagung di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen jagung pipilan pada 2024 mencapai sekitar 2,55 juta hektare, sementara produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 15,14 juta ton. Angka tersebut meningkat 2,47 persen dibandingkan produksi 2023 yang berada di angka 14,77 juta ton.

Besarnya produksi tersebut secara otomatis menghasilkan berbagai hasil samping pertanian. Salah satunya adalah tongkol atau bonggol jagung yang selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Sebuah penelitian yang diterbitkan Jurnal Environment Behavior and Engineering menyebut hasil samping tongkol jagung memiliki potensi cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku briket. Penelitian tersebut juga mengutip data bahwa limbah tongkol jagung dapat mencapai sekitar 20,87 persen dari hasil usaha tani jagung.

Jika angka tersebut digunakan sebagai gambaran kasar terhadap produksi jagung, potensi bahan bakunya jelas tidak sedikit. Namun, angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai volume limbah yang tersedia untuk bisnis karena jenis jagung, metode panen, kadar air, serta proses pascapanen dapat memengaruhi jumlah hasil samping yang benar-benar dapat dikumpulkan.

Bonggol Jagung Bisa Diolah Menjadi Produk Bernilai

Salah satu pemanfaatan yang paling banyak diteliti adalah mengubah bonggol jagung menjadi briket biomassa. Prosesnya secara umum melibatkan pengeringan, karbonisasi, penghancuran, pencampuran dengan bahan perekat, kemudian pencetakan dan pengeringan.

Penelitian yang diterbitkan Universitas Negeri Medan pada 2023 menyebut bonggol jagung dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan briket atau arang sebagai sumber energi alternatif. Pemanfaatan tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengurangi limbah organik di tingkat masyarakat.

Hasil penelitian lain juga memperlihatkan karakteristik energi yang menarik. Studi di Jurnal Rekayasa Lingkungan Tropis menemukan briket berbahan tongkol jagung dapat menghasilkan nilai kalor sekitar 7.017 kalori per gram pada komposisi yang diuji. Nilai kalor merupakan salah satu parameter penting dalam menilai kemampuan bahan bakar padat menghasilkan energi.

Penelitian lain mengenai briket arang bonggol jagung menghasilkan nilai kalor 5.653,99 kalori per gram, dengan kadar air 3,62 persen dan kadar abu 4,84 persen pada formulasi yang digunakan dalam penelitian tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa bonggol jagung mempunyai karakteristik yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif, meskipun kualitas produk akhirnya tetap bergantung pada proses dan formulasi produksi.

Peluangnya juga tidak terbatas pada briket. Bonggol jagung dapat menjadi bahan baku berbagai produk biomassa dan material olahan. Pengembangan lebih lanjut bisa diarahkan pada karbon aktif, biochar, bahan komposit, hingga produk kerajinan tertentu.

Ada Peluang Bisnis di Tingkat Desa

Potensi ekonomi bonggol jagung menjadi semakin menarik ketika pengolahannya dilakukan dekat dengan sentra produksi. Model seperti ini dapat memangkas biaya pengumpulan dan transportasi bahan baku.

Petani atau kelompok usaha di daerah penghasil jagung misalnya dapat mengumpulkan bonggol dari aktivitas pascapanen, kemudian mengolahnya menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi. Pola tersebut menciptakan tambahan aktivitas ekonomi di luar penjualan hasil panen utama.

Salah satu contoh pendekatan tersebut terlihat dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Lombok Timur. Penelitian dan pelatihan yang diterbitkan pada 2025 mengajarkan masyarakat Desa Terara untuk mengolah limbah tongkol jagung menjadi briket arang menggunakan teknologi tepat guna. Kegiatan tersebut melibatkan 20 peserta dan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Penelitian Universitas Negeri Gorontalo juga mengembangkan pemanfaatan limbah jagung melalui pelatihan masyarakat. Produk yang dihasilkan tidak hanya briket berbahan tongkol jagung, tetapi juga kerajinan berupa lampu hias. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 89,2 persen peserta tercatat mampu memahami materi yang diberikan, sementara kemampuan membuat briket secara mandiri dinilai telah melampaui target kegiatan.

Dari Limbah Menjadi Model Ekonomi Sirkular

Perubahan cara pandang terhadap bonggol jagung sebenarnya merupakan bagian dari tren ekonomi sirkular. Dalam model ini, bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi berusaha dikembalikan ke dalam rantai ekonomi melalui penggunaan kembali, pengolahan, atau penciptaan produk baru.

Dari perspektif bisnis, konsep tersebut menarik karena bahan baku awal dapat berasal dari sesuatu yang sebelumnya memiliki nilai rendah. Tantangannya kemudian bergeser pada pengumpulan, pengolahan, kualitas produk, efisiensi produksi, dan akses pasar.

Artinya, peluang bisnis Bonggol Jagung tidak otomatis muncul hanya karena bahan bakunya tersedia melimpah. Pelaku usaha tetap harus menghitung biaya pengumpulan, mesin, tenaga kerja, bahan perekat, energi untuk pengeringan atau karbonisasi, kemasan, distribusi, hingga biaya pemasaran.

Studi Universitas Gadjah Mada mengenai potensi briket tongkol jagung bahkan pernah melakukan analisis teknis, finansial, dan pemasaran. Dalam penelitian tersebut, salah satu skenario menghasilkan produksi sekitar 6.273 kilogram briket per tahun dengan harga jual Rp4.000 per kilogram dan simulasi keuntungan tahunan Rp3,8 juta. Angka tersebut merupakan hasil dari skenario penelitian pada saat studi dilakukan, sehingga tidak dapat dijadikan patokan harga atau keuntungan bisnis saat ini.

Nilai Tambah Limbah Pertanian

Hal yang lebih penting adalah adanya bukti bahwa limbah pertanian dapat masuk ke rantai nilai baru apabila didukung teknologi dan model bisnis yang tepat.

Bagi pelaku UMKM, kelompok tani, maupun pengusaha desa, Bonggol Jagung dapat menjadi contoh bagaimana peluang usaha bisa muncul dari sumber daya yang selama ini luput dari perhatian. Dengan produksi jagung nasional yang mencapai 15,14 juta ton pada 2024, ruang untuk mengembangkan pemanfaatan hasil sampingnya masih terbuka luas.

Ke depan, pengembangan produk berbasis bonggol jagung akan sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha menemukan pasar. Produk energi biomassa, bahan baku industri, material olahan, maupun kerajinan memiliki karakter pasar yang berbeda.

Jika pengumpulan bahan baku dapat dilakukan secara konsisten, kualitas produk terjaga, biaya produksi terkendali, dan pemasaran dibangun dengan baik, sesuatu yang sebelumnya hanya dipandang sebagai limbah dapat berubah menjadi sumber pendapatan baru.

Exit mobile version