Seperti Mie, Semen pun Kini Ada yang Instan

0
544
Ilustrasi. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Berempat.com – Dulu, jauh sebelum manusia bisa saling berkomunikasi melalui sebuah ponsel dan dapat terbang dengan pesawat layaknya burung, manusia sudah lebih dulu memanfaatkan batu kapur yang dicampur air untuk merekatkan batu-batu yang disusun menjadi piramida. Menurut Robert S. Boynton dalam bukunya Chemistry and Technology of Lime and Limestone (Second Edition) yang terbit tahun 1980, penggunaan kapur sebagai material bahan bangunan sudah dilakukan di Mesir sebagai plesteran piramida tahun 4000 sebelum masehi (SM).

Namun, sampai saat ini masih belum jelas kapan pastinya penggunaan batu kapur dalam semen secara utuh telah dimanfaatkan oleh manusia. Kendati demikian, setidaknya Marcus Vitruvius Pollio, seorang penulis sekaligus arsitektur yang hidup di abad ke-1 SM telah mendokumentasikan bagaimana Kekaisaran Romawi menggunakan semen berbahan dasar batu kapur secara ekstensif. Bahkan Vitruvius menulis panduan dasar mengolah semen berbasis batu kapur, yang kemudian diterjemahkan oleh Frank Granger dalam buku Vitruvius De Architectura (Book II), 1931.

Dari tahun ke tahun, hingga abad ke abad, bahan dasar perekat terus mengalami perkembangan. Namun, tetap saja untuk bisa digunakan semen mesti dicampur lebih dahulu dengan pasir dan air. Presisi antara pasir dan semen yang dituang pun mesti tepat agar nantinya dinding bisa lebih kuat.

Sampai kemudian tahun 1794, seorang mason dari Inggris bernama Joseph Aspdin menemukan racikan baru yang disebut semen instan mortar. Penemuannya itu kemudian baru dipatenkan pada 18 Desember 1824. Seperti yang dituang oleh Newtown dalam buku Masonry: The Best of Fine Homebuilding (1997), Joseph mencampur batu kapur, pasir silika, semen, dan mineral lainnya dalam presisi yang terkontrol dengan hati-hati, sebelum kemudian digiling menjadi halus. Dengan begitu, orang tak perlu lagi mencampur semen dengan pasir dan air untuk bisa merekatkan dinding maupun plester, melainkan cukup mencampur mortar dengan air untuk kemudian digunakan.

Sebab penggunaannya yang lebih praktis, mortar pun menjadi lebih populer di tahun 1930 untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Peminat dan permintaan mortar di Eropa dan Amerika memang besar, tapi di Indonesia sendiri masuknya semen mortar untuk pertama kali belum diketahui pasti, sebab sejauh ini berdasarkan penelusuran ada dua versi yang berbeda.

Versi pertama datang dari PT Adiwisesa Mandiri Building Product Indonesia (AMBPI) yang berdiri sejak 1988 di Jakarta. Seperti yang tertulis di situs perusahaan, PT AMBPI mulanya memperkenalkan diri sebagai perusahaan yang memasarkan produk perekat ubin atau keramik.

“Selain itu, pada tahun 1988 itu kami juga menjadi pionir dari produk tile grout (pengisi nat), yaitu semen berwarna yang biasa dipakai saat pemasangan keramik. Kami yang pertama memperkenalkan dalam bentuk kiloan dan sak. Dari situ produk-produk kami jadi semakin bertambah,” ujar Direktur PT AMBPI seperti dikutip dari sarana-bangunan.com.

Sejatinya, produk perekat ubin atau keramik ini memiliki bahan dasar hampir serupa dengan semen instan mortar, sebab mengandalkan semen, kapur, dan zat aditif lainnya sebagai campuran. Bedanya, untuk bisa membuat mortar hanya perlu menyesuaikan presisi masing-masing bahan baku yang dicampur.

Inilah yang mengindikasikan bahwa PT AMBPI merupakan salah satu perusahaan Indonesia pertama yang telah membawa teknologi mortar untuk pertama kali di Indonesia. Dan seiring berjalannya waktu, PT AMBPI pun mulai memasarkan produk penunjang lainnya, seperti waterproofing, acian, pelapis batu alam, bata ringan, dan mortar.

Semula PT AMBPI bukanlah produsen mortar seperti sekarang ini, melainkan sole distributor produk-produk dari Adhesive Manufacturer (AM) yang bermarkas di Australia. Seluruh produk AM yang diimpor dari Australia dipasarkan di Indonesia melalui PT AMBPI. Barulah setelah mendapatkan lisensi dari pihak AM pada 1990, PT AMBPI mulai melakukan perbaikan dan pengembangan kualitas produk, termasuk memproduksi mortarnya sendiri di dalam negeri.

Sementara versi lain diklaim oleh PT Cipta Mortar Utama (MU) sebagai produsen pertama semen mortar di Indonesia sejak 1996 sebagaimana yang tertulis pada situsnya.

“Mortar sendiri artinya campuran semen dan pasir. Secara teknis dalam dunia kontruksi semen instan dikenal dengan istilah Premixed Mortar atau Dry Mortar. Premixed Mortar berarti adukan yang sudah dicampur sebelumnya sesuai dengan peruntukannya,” tulis keterangan pada salah satu artikelnya.

Nama MU sebagai produsen mortar memang lebih dikenal oleh masyarakat umum ketimbang PT AMBPI. Pasalnya, MU lebih gencar beriklan di televisi dibanding PT AMBPI yang lebih smooth dalam melakukan pemasaran. Demikianlah yang dikatakan oleh Hartawan selaku Direktur Utama PT Mitra Mortar Indonesia (MMI) kepada Berkabar.ID.

Pria yang sudah berkecimpung di industri mortar machinery selama lebih dari 17 tahun ini sudah paham dan mengetahui betul perkembangan mortar di Indonesia dengan detail. Ia bahkan mengaku masih aktif mengikuti berbagai perkembangan industri mortar.

“Makanya, setahu saya yang pertama kali membawa mortar ke Indonesia adalah AM (PT AMBPI) karena dari bahan baku perekat keramiknya itu,” tukasnya.

Bahkan, pria yang kini memproduksi mortar untuk berbagai merek besar ini mengaku tahu bagaimana MU yang semula sahamnya dimiliki lokal kian besar setelah diakuisisi oleh Weber sepenuhnya.

Menurut penuturan Hartawan, Weber sendiri berani mengakuisisi 100% saham MU lantaran melihat besarnya potensi pasar yang ada di Indonesia. Belum banyaknya produsen mortar di Indonesi menjadi indikasi besarnya pasar yang dimaksud. Sebab memang di Indonesia pengguna mortar pun masih sedikit sehingga pasar yang tergarap pun masih sedikit. Tapi, justru hal itulah yang dilihat oleh perusahaan asing sebagai peluang besar.

“Makanya sekarang itu perusahaan asing yang masuk. Jadi kalo kamu tahu, sebenarnya pemain besar ini perusahaan asing, karena mereka tahu di sini baru 5% pasar yang tergarap, makanya mereka masuk,” terangnya.

Keuntungan Besar Penggunaan Mortar yang Jarang Disadari

Secara kasat mata mortar memang bagai tak berbeda dengan semen pada umumnya. Mortar dikemas dalam bentuk sak sebagaimana semen pada umumnya. Bahkan, harganya cenderung lebih mahal dibanding semen biasa. Namun, tentu mortar tak hadir tanpa pembeda. Penggunaan mortar bahkan sebetulnya cenderung lebih menguntungkan. Tapi, sayangnya, hal itu jarang disadari konsumen, baik yang merupakan kontraktor maupun end user.

Keuntungan penggunaan mortar dimulai dari cara kerja tukang. Ketika menggunakan semen. Biasa, umumnya sebelum proses perekatan bata para tukang akan mencampurkan semen, pasir, dan air lebih dulu tanpa ukuran baku. Selain itu, untuk proses pengadukan pastinya tak sebentar. Sementara bila menggunakan semen instan atau mortar para tukang cukup mencampurnya dengan air dan mengaduknya hingga kental. Lebih mudah, cepat dan praktis sebab bahan yang digunakan semen instan mortar berbeda.

Semen instan mortar adalah campuran semen, pasir silika, zat aditif, dan bahan material lainnya yang telah dicampur menjadi satu. Maka sama seperti mie instan, cara kerja semen instan mortar cukup diberikan air, lalu diaduk, dan kemudian tinggal direkatkan pada bata.

Dari proses awal ini, untuk semen umum yang harus dicampur pasir dan air terlebih dahulu tentu tak memiliki kualitas yang dapat stabil. Sebagaimana dituturkan Hartawan yang menilai bahwa kualitas semen konvensional tak bisa stabil lantaran tak ada standar pasti dan tergantung si pengaduk.

“Kalo ngeracik sendiri bisa semennya banyak pasirnya sedikit, itu oke. Tapi kadang bisa juga semennya dikit, pasirnya lebih banyak. Tergantung mood si pengaduk juga kadang,” terangnya.

Sementara itu, untuk semen instan tentu sudah memiliki standar porsi semen, pasir silika, dan zat aditif lainnya yang sama di setiap kemasan. Sehingga kualitas setiap semen pasti stabil, sebab pembuatan semen instan mortar sendiri menggunakan mesin mortar yang sudah berteknologi tinggi sebagaimana yang digunakan oleh PT AMBPI, MU, maupun MMI.

Hal senada juga pernah diungkapkan oleh General Manager Product Mortar Utama Weber, Joni Kho. Ia menilai takaran para tukang dalam mencampur semen dan pasir tak dapat ditentukan secara pasti. “Sementara Premixed Mortar itu sendiri sudah masuk dalam satu packaging. Tinggal dimasukkan dalam wadah untuk diaduk dengan air,” terang Joni seperti dikutip dari situs perusahaan.

Selain itu pengerjaan akan lebih efisien saat menggunakan semen instan mortar. Hartawan mencontohkan, yang tadinya dalam satu jam hanya dapat sekian meter dengan semen biasa, tapi dengan semen instan mortar luas area yang bisa dikerjakan jauh lebih besar dalam waktu yang sama.

“Nah, analisa-analisa itu yang tidak teredukasi di masyarakat sehingga beberapa orang mengatakan semen instan itu mahal. Tapi kalo orang yang sudah tahu, itu sangat membantu mereka,” terangnya.

Sementara dari segi harga, semen instan mortar diyakini para produsen hanya ‘terkesan’ lebih mahal. Namun, bila dilihat dari beberapa aspek, justru penggunaan semen instan mortar diyakini jauh lebih menghemat anggaran.

Penghematan anggaran pertama bisa dilihat dari segi pembelian material pasir. Untuk semen biasa yang pada sekali pekerjaan mengaduk sebetulnya hanya perlu 2-3 karung pasir, tapi konsumen mau tidak mau harus membeli paling tidak satu truk pasir. Pasalnya, tak sedikit toko material akan menjatuhkan harga mahal untuk pembelian pasir yang diecer. Pemborosan seperti itu tak terjadi pada semen instan mortar sebab yang diperlukan hanyalah air tanpa pasir. Belum lagi, penggunaan semen instan mortar sangat kecil akan bahan yang terbuang sia-sia.

“Konsumen nggak ngehitung lainnya, seperti kalo ngeracik sendiri berapa yang berceceran, berapa yang hilang, kalo beli sedikit dimahalin sama toko material. Nah, itu mereka nggak merhatiin,” tambah Hartawan.

 

 

Keunggulan Mortar Secara Utuh

Berdasarkan hasil penelusuran, ada beberapa keunggulan secara utuh yang dimiliki semen instan mortar dibandingkan semen konvensional.

Pertama, semen instan mortar lebih cepat mengering dan keras, sehingga memungkinkan pengerjaan konstruksi akan menjadi lebih cepat. Kedua, tak perlu terlalu banyak tenaga ahli untuk menggunakan semen instan mortar karena penggunaannya cukup dicampur air. Ketiga, konsistensi kualitas karena semen instan diproduksi masal dengan mesin modern. Keempat, adanya aditif yang tak terkandung pada semen konvensional membuat semen instan mortar memiliki daya tahan lebih baik dan lebih maksimal. Semen instan mortar membuat dinding tak mudah retak dan lantai-lantai tak mudah memuai karena panas.

Namun, banyaknya keunggulan yang ditawarkan semen instan mortar tak lantas membuat kontraktor maupun end user di Indonesia beralih menggunakannya. Sebab selain kurangnya edukasi, persoalan kurangnya regulasi juga menjadi hambatan minimnya pengguna semen instan mortar di Indonesia.

Hartawan bahkan menyayangkan kurangnya regulasi dari pemerintah atas penggunaan mortar. Sebab hal itu membuat pasar yang tergarap di Indonesia masih begitu minim. Padahal, Hartawan yakin bila potensi pasar mortar di Indonesia amat besar.

“Jadi kalo di luar negeri semua bangunan itu harus pakai semen instan, tapi di sini belum diatur. Jadi terserah yang punya rumah. Makanya mortar ini di luar negeri berkembang, di Indonesia sampai sekarang masih di bawah 5% yang menggunakan mortar,” ujarnya.

Sumber: Berkabar.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.