Top Mortar tkdn
Home Bisnis Usai Imlek, Tambahan Pasokan Cabai Rawit Diprediksi Tekan Harga di Pasaran

Usai Imlek, Tambahan Pasokan Cabai Rawit Diprediksi Tekan Harga di Pasaran

0
Usai Imlek, Tambahan Pasokan Cabai Rawit Diprediksi Tekan Harga di Pasaran (Dok Foto: Bapanas)

Harga cabai kembali menjadi sorotan setelah beberapa hari terakhir bergerak fluktuatif di sejumlah daerah, terutama Jakarta. Pemerintah pusat menilai kondisi ini berkaitan erat dengan kelancaran distribusi dan pasokan cabai rawit dari sentra produksi menuju wilayah konsumsi. Untuk merespons situasi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggelar rapat koordinasi stabilisasi cabai secara daring pada Minggu (15/2/2026).

Rakor ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani cabai unggulan dari Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, pedagang di DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, hingga Satgas Pangan Polri.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pengendalian harga cabai tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menekankan perlunya pengaturan dari hulu hingga hilir agar pasokan dari daerah panen dapat segera masuk ke pasar konsumsi besar.

Menurut Ketut, komoditas cabai sangat sensitif terhadap ketersediaan harian. Sedikit saja gangguan distribusi akan langsung memicu kenaikan harga di tingkat konsumen. Karena itu, koordinasi antardaerah harus dipercepat supaya produksi petani cepat terserap pasar, khususnya Jakarta sebagai wilayah dengan permintaan tinggi.

Ia menambahkan pemerintah tetap memberikan ruang keuntungan yang wajar bagi petani. Namun harga di tingkat produsen maupun konsumen harus tetap terkendali. Apabila terjadi lonjakan berlebihan, intervensi stabilisasi akan dilakukan agar keseimbangan antara petani dan pembeli tetap terjaga.

Berdasarkan data Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026, rata-rata harga cabai rawit merah di tingkat produsen nasional mencapai sekitar Rp56.383 per kilogram. Di sisi konsumen, harga berada di kisaran Rp73.339 per kilogram. Selisih harga antarwilayah dinilai cukup lebar sehingga menjadi fokus penanganan distribusi.

Distribusi dipercepat dari sentra produksi

Ketut menegaskan pemerintah tidak ingin menunggu sampai beberapa minggu ke depan untuk menstabilkan pasar. Penyaluran dari daerah penghasil harus segera dijalankan, terutama melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Melalui skema ini, pasokan cabai rawit dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat akan diarahkan langsung ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Upaya tersebut diharapkan menekan biaya logistik sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Ketua Champion Petani Cabai Lombok Timur, Subhan, menyambut langkah tersebut. Ia menilai dukungan distribusi sangat penting agar produk petani terserap optimal dan harga tidak anjlok di tingkat kebun.

Menurutnya, keberlanjutan produksi sangat bergantung pada kepastian pasar. Dengan distribusi yang difasilitasi pemerintah, pasokan cabai rawit tetap mengalir dan fluktuasi harga dapat ditekan.

Sementara itu, Suyono dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) mengungkapkan permintaan cabai meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan konsumsi dipicu perayaan Imlek dan mendekati Ramadan.

Ia memperkirakan setelah periode tersebut, harga akan turun bertahap karena sejumlah daerah di Jawa Timur segera memasuki masa panen, seperti Kediri, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi. Meski demikian, curah hujan tinggi masih menjadi kendala karena memperlambat proses panen.

Pedagang siap serap pasokan Cabai Rawit

Dari sisi pasar, pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Guntur, memastikan kesiapan menyerap kiriman dari berbagai daerah. Menurutnya, tambahan suplai dari luar Jawa, termasuk Sulawesi Selatan, akan memperkuat ketersediaan komoditas di pasar utama ibu kota.

Ia optimistis bertambahnya pasokan cabai rawit dalam beberapa hari ke depan akan membantu menurunkan harga secara alami. Ketika pasokan stabil dan distribusi lancar, gejolak harga biasanya mereda tanpa perlu intervensi besar.

Pemerintah berharap koordinasi lintas daerah dan lembaga dapat menjaga keseimbangan produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan alur distribusi yang lebih cepat, lonjakan harga cabai di tingkat konsumen dapat dicegah sekaligus memastikan petani tetap memperoleh pendapatan layak.

Exit mobile version