Pendapatan Gojek menjadi sorotan utama setelah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melaporkan hasil kinerja keuangan terbaru. Pada semester I 2025, perusahaan teknologi tersebut membukukan pendapatan bersih dari layanan on-demand, mulai dari transportasi online hingga pengantaran makanan, sebesar Rp 5,9 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan capaian periode sama tahun lalu yang hanya Rp 4,8 triliun.
Jika dirinci, pendapatan Gojek dari layanan transportasi roda dua maupun roda empat tercatat Rp 1,4 triliun. Sementara kontribusi terbesar masih datang dari layanan pengantaran makanan, logistik, hingga bisnis quick commerce dengan nilai Rp 4,5 triliun. Lonjakan ini menandai konsistensi GOTO dalam memperkuat posisi di pasar layanan digital yang semakin kompetitif.
GTV dan Pendapatan Kuartalan Terus Menguat
Pada kuartal II 2025, GOTO membukukan nilai transaksi bruto (Gross Transaction Value/GTV) dari layanan on-demand mencapai Rp 16,4 triliun atau tumbuh 9 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif sepanjang semester I, GTV perseroan tercatat sebesar Rp 32 triliun.
Kinerja ini turut mengerek pendapatan bersih GOTO secara keseluruhan di kuartal II 2025 menjadi Rp 4,3 triliun. Angka tersebut naik 23 persen dibandingkan kuartal II 2024 yang tercatat Rp 3,6 triliun.
Direktur Utama Grup GOTO, Patrick Walujo, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan pencapaian bersejarah. Ia menyebut, investasi yang dilakukan perusahaan pada infrastruktur teknologi, migrasi ke layanan cloud, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci peningkatan performa.
“Kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman kinerja. Fokus kami tetap pada pengembangan bisnis teknologi yang berkelanjutan, serta mendukung kesejahteraan jutaan mitra pengemudi dan pelaku usaha di seluruh Indonesia,” ujar Patrick dalam keterangannya di Bursa Efek Indonesia, Rabu (13/8/2025).
Laba Usaha dan Efisiensi Biaya
Selain mencatatkan pendapatan yang solid, GOTO juga melaporkan perbaikan signifikan pada sisi profitabilitas. Laba usaha pada semester I 2025 mencapai Rp 21 miliar. Hasil ini memangkas kerugian periode berjalan hingga 77 persen menjadi Rp 222 miliar.
Di sisi lain, kinerja EBITDA grup yang disesuaikan tercatat Rp 427 miliar, berbalik positif setelah sebelumnya masih mencatat kerugian di 2024. Layanan on-demand khususnya mencatatkan EBITDA sebesar Rp 328 miliar atau meningkat 264 persen.
Direktur Keuangan Grup GOTO, Simon Ho, menilai kinerja positif ini membuktikan kekuatan operasional perusahaan. “Kami membukukan EBITDA grup yang disesuaikan sebesar Rp 427 miliar, sekaligus mencatat arus kas dari aktivitas operasi yang positif hingga Rp 313 miliar,” jelasnya.
Simon menambahkan, hasil tersebut tak lepas dari pendapatan yang terus meningkat serta penerapan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis. “Dengan skala yang semakin besar, kami berupaya menjaga disiplin keuangan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham,” katanya.





