Masa Depan Batik Indonesia di Tangan Gen-Z: Antara Warisan dan Inovasi

0
343
Masa Depan Batik Indonesia di Tangan Gen-Z: Antara Warisan dan Inovasi
Masa Depan Batik Indonesia di Tangan Gen-Z: Antara Warisan dan Inovasi (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Masa Depan Batik Indonesia kini tak hanya berpijak pada warisan leluhur, tetapi juga berada di tangan generasi muda yang terus memberi warna baru melalui teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan. Warisan budaya yang diakui UNESCO sejak 2009 ini terus bergerak dinamis, menjawab zaman lewat pendekatan kekinian yang diusung Gen-Z dan milenial. Dengan jumlah penduduk muda yang mencapai lebih dari 53,8% dari total populasi, peluang untuk membentuk masa depan batik Indonesia semakin terbuka lebar.

Dalam kuliah umum bertajuk “Membatik Pikiran, Mewarnai Karakter, Menjahit Cita-Cita” yang menjadi bagian dari Industrial Festival dan Gelar Batik Nusantara 2025 di Jakarta (30/7), Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menekankan pentingnya peran anak muda dalam menjaga relevansi batik di era modern. “Jangan lupa, para pembatik di masa lalu juga anak-anak muda. Mereka menggali inspirasi dari lingkungan, budaya, dan pengalaman hidup,” ujarnya di hadapan lebih dari 300 mahasiswa.

Lima Pilar Penguat Generasi Muda dalam Menjaga Eksistensi Batik

Wamenperin menekankan lima hal penting yang perlu dimiliki generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus membawa batik tetap hidup di tengah arus globalisasi. Pertama adalah kesiapan intelektual, agar mereka tak sekadar bangga mengenakan batik, tapi juga memahami sejarah dan nilai filosofisnya.

Kedua, penguasaan keterampilan digital dan kreativitas. Desain grafis, animasi, dan pembuatan konten media sosial menjadi alat penting untuk membawa batik ke audiens global. “Digitalisasi adalah keniscayaan, dan kita sedang membangun infrastrukturnya agar bisa diakses lebih merata,” kata Faisol.

PT Mitra Mortar indonesia

Ketiga, pengalaman kewirausahaan. Menurutnya, membangun brand lokal berbasis batik dengan pendekatan streetwear, sustainable fashion, hingga digital marketing bisa membuka pasar baru yang lebih luas. Keempat, kepekaan sosial dan lingkungan. Anak muda dinilai mampu merespons isu penting, seperti limbah industri, energi terbarukan, hingga pelestarian sungai.

Kelima, semangat aktif dan rasa bangga. “Kita perlu anak muda yang punya tujuan hidup jelas, semangat terukur, dan tak malu bermimpi besar,” tegasnya.

Faisol juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan banyak program lintas kementerian untuk memperkuat ekosistem batik, mulai dari Kementerian Perindustrian, Kementerian UMKM, BUMN, hingga Dekranasda.

Rangkaian Industrial Festival 2025 yang berlangsung pada 30 Juli – 3 Agustus di Pasaraya Blok M ini juga menegaskan peran batik dalam lanskap industri kreatif modern. Dengan tagline #BATIKRIZZ, festival ini menghadirkan talkshow seputar inovasi batik berkelanjutan dan teknologi yang mendukung pengrajin lokal.

Di tengah pameran dan diskusi hangat tersebut, optimisme terhadap masa depan batik Indonesia terasa nyata—dijahit oleh semangat muda, dibatik oleh kreativitas, dan diwarna oleh cita-cita besar bangsa.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan