Meski Stagnan, Namun Iklim Industri Manufaktur Masih Dinilai Positif

0
267
Ilustrasi industri manufaktur. (Kompas/Heru Sri Kumoro)

Berempat.com – Pada September 2018 ini, Nikkei merilis hasil surveinya mengenai indeks manufaktur Indonesia berdasarkan Purchasing Managers Index (PMI). Hasilnya, PMI berada di level 50,7, sedikit turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 51,9.

Dalam melakukan surveinya, Nikkei melihat lima indikator indeks yang menjadi bobot penilaian PMI Manufaktur, yaitu pesanan baru, hasil produksi, jumlah tenaga kerja, waktu pengiriman dari pemasokbahan baku, dan stok barang yang dibeli. Dan apabila PMI di atas 50, maka industri manufaktur bisa dikatakan tengah ekspansif.

Sejalan dengan hasil survei tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai bahwa iklim industri manufaktur Indonesia masih tetap positif. Terutama kepercayaan diri pelaku industri nasional.

“Kepercayaan industri kita masih bagus dan perlu terus ditingkatkan lagi,” kata Airlangga di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Airlangga, saat ini pemerintah masih terus berupaya meningkatkan iklim industri yang baik dengan mengeluarkan beberapa paket kebijakan ekonomi. Salah satunya, imbuh Airlangga, pemerintah tengah memformulasikan skema insentif fiskal yang lebih menarik sesuai kebutuhan pelaku usaha saat ini.

Selain itu, Airlangga yakin bahwa fasilitas perpajakan mampu meningkatkan investasi sekaligus memacu pertumbuhan di sektor industri manufaktur, seperti super deductible tax dan aturan terkait pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang merupakan kebijakan insentif fiskal yang ditunggu para pelaku usaha.

“Bahkan, pemerintah akan menerbitkan skema mini tax holiday bagi investor yang menanamkan modalnya di bawah Rp 500 miliar,” sambung Airlangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.