Melejitkan Penjualan untuk Bisnis Skala UMKM

0
464
Ilustrasi. (pexels.com/Alicia Zinn)

Berempat.com – Hampir setiap tahun jumlah pengusaha di Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan itu setidaknya terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, dengan jumlah penduduk mencapai 252 juta, Indonesia punya jumlah wirausaha nonpertanian yang menetap mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen.

Salah satu bukti nyata bertumbuhnya pengusaha di Indonesia dapat dilihat dari bermunculannya bisnis-bisnis baru di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Namun, ada kendala yang kerap dihadapi oleh pengusaha UMKM kita ini, yaitu kemampuan berbisnisnya yang minim. Terutama dalam kemampuan menjual (sales).

Menurut CEO Progress Asia Group, Ario Rantau, hal pertama yang mesti dikuasai oleh pelaku usaha UMKM untuk meningkatkan penjualan adalah upaya menarik perhatian.

“Kenapa menarik perhatian menjadi hal penting? Karena pada hakikatnya di dalam bisnis, sebagus apa pun produk yang kita jual tidak akan pernah dilihat oleh orang lain, apalagi dibeli, kalau kita tidak bisa menarik perhatian orang lain lebih dulu,” papar Ario.

Ario mencontohkan produk kalung atau gelang magnet untuk kesehatan dari Korea atau Tiongkok yang sempat hits beberapa tahun lalu. Produk-produk itu lebih dulu menarik perhatian konsumen dengan mengklaim dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Perhatian itulah yang pertama kali ditonjolkan agar masyarakat luas bersedia melihat produk tersebut, sebelum kemudian membelinya.

“Itu bukti kalau memang bukan produknyalah yang harus kita jual lebih dulu, tapi perhatiannya. Karena produk itu adalah efek dari perhatian-perhatian yang kita munculkan,” terang penulis buku Sales Ngepet ini.

Tetapi, Ario menegaskan bila menarik perhatian saja tidak cukup. Para pelaku bisnis UMKM tetap butuh inovasi. “Karena ketika perhatian yang kita buat sudah booming, maka semua orang sudah tahu dan cenderung akan mulai berada di titik jenuh. Maka saat itulah kita harus berinovasi dengan perhatian yang baru. Jadi, inovasi itu bukan hanya di produk melulu karena produk hanyalah efek,” terangnya.

Ario mencontohkan produsen motor yang mengeluarkan produk barunya yang hanya beda di striping. Padahal dari mesin pun sama saja, tapi produk barunya masih bisa laris juga.

“Itulah inovasi yang dilakukan ketika market sudah berada di titik jenuh. Karena itulah kita memang harus terus berinovasi dan berinovasi ketika market sudah berada di titik jenuh,” imbuhnya.

Dan perlu diingat, penjualan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga personal branding. “Karena kita sendiri adalah produk. Dan karena itulah kita harus bisa menjual diri kita (dalam konteks positif). Artinya, jual senyuman Anda, jual perhatian Anda, dan jual penampilan Anda,” terang Ario.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.