Home Bisnis Kisah Pemuda Pasundan Pendiri Perusahaan Properti di Usia 16 Tahun

Kisah Pemuda Pasundan Pendiri Perusahaan Properti di Usia 16 Tahun

0

Cita-citanya saat berusia 15 tahun adalah memiliki kerajaan bisnis dan menikah di usia 18 tahun.

Berempat.com – Apa yang sudah Anda punya di usia 19 tahun? Bila menanyakan hal tersebut kepada Abdulmajid Alzindani, maka jangan kaget bila pemuda kelahiran 1996 itu menjawab jika di usia tersebut dirinya sudah memiliki 4 perusahaan, rumah, mobil, dan seorang istri.

Alzin, begitulah dirinya akrab disapa, telah memiliki empat perusahaan yang bergerak di bidang properti (Gaya Realty Property; 2015), event organizer (Alzin Event Organizer; 2015), penyewaan mobil mewah (Limozin; 2015), dan jual-beli perusahaan (Alzin Capital; 2013). Keempat perusahaannya tersebut berada dalam satu payung grup yang diberinya nama Alzin Land.

Apa yang dimiliki Alzin di usianya yang relatif muda saat ini (22 tahun) tentu tak terlepas dari segala keringat yang diperahnya dahulu. Alzin—di beberapa media disebut sebagai Pengusaha Properti Termuda se-ASEAN—yang telah menikah dan memiliki dua orang anak ini telah meniti langkahnya sejak berusia 15 tahun. Di usia itulah Alzin bahkan sudah berani memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikannya demi fokus di bisnis.

Di usianya yang relatif belia tersebut Alzin bahkan sudah tahu apa saja pencapaian yang hendak diwujudkannya pada usia tertentu. Seperti akan menikah di usia 18 tahun—meskipun baru bisa menikah di usia 19 tahun karena regulasi pemerintah—hingga memiliki privat equity di usia yang ke-25 nanti.

Sebuah pemikiran yang besar bagi remaja di usia 15 tahun kala itu. Alzin bahkan sudah merancang apa saja yang akan dilakukannya, langkah demi langkah, agar bisa mewujudkan impiannya itu. Itulah yang menjadi alasannya dalam membangun Gaya Realty Property hingga Alzin Capital.

Atas capaiannya ini, Alzin sering mengisi berbagai seminar, workshop, menjadi salah satu pengusaha yang profilnya tersemat di buku Indonesia Successful Young Entrepreneurs, dan telah menjadi inspirasi dengan menulis buku The Conglomerate Mindset yang berhasil terjual lebih dari 4.000 eksemplar.

Alzin dan Pemikiran yang Mendobrak Batasan Usia                        

Bila umumnya remaja di usia 15 tahun isi kepalanya tak jauh-jauh dari belajar, bermain, berpacaran, atau menjalani hobi, namun lain hal dengan yang terjejal di kepala Alzin. Alzin belia justru berpikir bagaimana caranya dapat memutar uang yang dimilikinya. Bukan karena ia terlahir dari keluarga yang hidup pas-pasan. Alzin justru terlahir dari keluarga yang berada, tapi ia tak biasa diberi uang jajan berlimpah maupun fasilitas seperti raja.

Otak bisnisnya sudah ada lantaran sejak lama ia terbiasa membaca berbagai buku bertema bisnis, seperti buku milik Robert Kiyosaki, Donald Trump, Bill Gates, dan banyak lagi.

“Dan saya pernah mendapatkan di salah satu buku, bila segala sesuatu yang dilakukan dengan passion maka hasilnya akan sangat memuaskan,” ujar pengagum Sandiaga Uno ini beberapa waktu lalu.

Alzin memberi contoh, seperti bila kita hanya mengeluarkan 20% kemampuan, tetapi hasilnya bisa mencapai 80%. Namun akan lain hasilnya bila kita mengerjakan sesuatu yang tak sesuai dengan passion. “Sekalipun kita sudah mengeluarkan 80 persen kemampuan, tetapi hasilnya tidak akan lebih dari 20 persen,” sambungnya.

Mungkin ranah bisnis yang identik dengan upaya memutar uang memang telah menjadi passion Alzin. Karena itu, saat bersekolah di SMP Cendikia Muda, Bandung, Alzin rela menjadi seorang ‘kurir’ bagi teman-temannya agar bisa menghasilkan uang. Jadi, setiap kali sudah jam istirahat, teman-temannya akan menitipkan uang kepada Alzin untuk membelikan jajanan di luar sekolah.

Saat itu cukup banyak teman-temannya yang lebih memilih menggunakan jasa Alzin untuk jajan di luar sekolah daripada di kantin karena harga makanan yang relatif lebih mahal. Dari setiap orang yang menitip jajan, Alzin pun mendapatkan upah Rp 500. Bila sehari saja ada empat orang yang menitip jajan, maka Alzin sudah bisa mengantongi Rp 2 ribu. Uang saku tambahan yang lumayan bagi remaja di rentang 2009-2011.

Selama berada di bangku sekolah, Alzin mengaku hanya menyukai dua mata pelajaran: matematika dan Bahasa Inggris. Alasannya jelas, kalau matematika berkaitan dengan keuangan yang sangat erat dengan bisnis, sedangkan Bahasa Inggris perlu dikuasainya agar dapat memiliki jaringan yang luas. Sementara untuk mata pelajaran lainnya, ia anggat tak terlalu penting karena memang cita-citanya hanya satu; menjadi seorang entrepreneur.

“Seperti pelajaran fisika, biologi, atau kimia, itu bagi saya enggak penting. Kecuali kalo saya mau menjadi dokter,” tukas pria yang profilnya masuk ke dalam buku Indonesia Successful Young Entrepreneur ini.

Alzin sendiri merasa bahwa pelajaran di sekolah formal tak banyak yang dapat menyokongnya untuk meraih cita-citanya, kecuali matematika dan Bahasa Inggris, ia pun mengambil keputusan untuk tak melanjutkan pendidikan setamat SMP.

“Karena saya tidak begitu suka penidikan formal, selulusnya SMP saya sudah memutuskan tidak lanjut ke SMA. Malah saya baru mengambil ijazah SMP itu pas mau daftar paket C (2014),” kenang pria yang pernah menempuh pendidikan di SD/MI At-Taqwa, Bandung, ini.

Memutuskan Terjun ke Dunia Kerja

Alzin memang punya cara berpikirnya sendiri yang berbeda. Kalau kebanyakan orang yang ngebet menjadi pengusaha akan memilih menjalankan bisnisnya sendiri, Alzin justru berushaa mencari ilmu yang dibutuhkan dengan memasuki dunia kerja sebagai seorang karyawan.

Setamat SMP, tahun 2011, Alzin pertama kali bekerja sebagai karyawan magang di PT Citra Niaga Teknologi, perusahaan yang bergerak di bidang IT. Tapi seperti karyawan magang umumnya, mula-mula Alzin tak menyentuh sama sekali bidang tertentu. Ia hanya akan membantu karyawan lain bila diperlukan. Tapi bagi Alzin itu tak masalah sebab ia yang haus akan ilmu sudah berencana untuk melakukan banyak cara agar dapat bertemu direktur utama PT Citra Niaga Teknologi itu. Tujuannya hanya satu; belajar mengelola perusahaan dari ahlinya.

Singkat cerita, Alzin berhasil bertatap muka dengan komisarisnya kala itu, Gilang Mahesa dan mempelajari beberapa hal yang diperlukan. Sampai kemudian, sang direktur utama yang melihat keinginan besar Alzin untuk belajar itu menyarankannya agar pindah ke perusahaan yang lebih besar.  Semata-mata agar Alzin bisa menimba ilmu lebih jauh lagi. Alzin pun tak menolak.

Selepas 6 bulan magang di PT Citra Niaga Teknologi, Alzin pun berlabuh ke Baros IT Centre. Baros IT Centre adalah perusahaan yang direkomendasikan oleh Gilang Mahesa. Alzin pun menjadi karyawan magang di Baros IT Centre selama tiga bulan demi menimba ilmu di sana soal sistem dan teknologi untuk sebuah perusahaan.

Di sela-sela kegiatannya sebagai karyawan, nyatanya Alzin pun sempat tergabung ke dalam Multi Level Marketing (MLM). Stigma negatif tentang MLM tak membuat Alzin alergi pada jenis usaha macam itu. Karena yang dicari Alzin memang bukan ingin ‘untung’ apalagi kaya dari situ, tetapi mendapatkan ilmu yang dibutuhkannya kelak. Apalagi kalau bukan ilmu sales dan marketing.

Target Alzin pun tak lama berada di MLM; bisa mengisi open plan presentation (OPP) sebelum kemudian keluar. Untuk bisa sampai ke tahap itu, Alzin memulai semuanya dari tingkatan bawah. Home prospect, home sharing, sampai kemudian ia bisa menyentuh OPP dalam waktu enam bulan. Setelah tercapai, Alzin langsung keluar dari MLM.

Selesai dari MLM, Alzin pun merasa cukup belajar soal sistem perusahaan di Baros IT Centre. Ia pun berlabuh ke perusahaan yang berbeda, kali ini sebuah perusahaan kapital modal ventura, PT Insan Mulia Investama.

Di perusahaan barunya itu, Alzin memulai dari bawah. Ia bekerja sebagai surveyor asset. Tugasnya cukup melihat langsung aset properti yang sekiranya bisa dibeli, kemudian dibenahi dan dijual dengan harga lebih tinggi. Di sini juga pertama kalinya Alzin belajar mencari aset properti melalui internet, dan menggunakan internet untuk kebutuhan marketing.

“Saya sering berkeliling Bandung untuk mencari properti yang kemudian akan saya pasarkan lewat internet. Saat berjalan beberapa minggu saya bisa dapat sebuah properti dan laku terjual Rp 400 juta. Dari penjualan itu saya dapat fee sebesar Rp 12 juta plus bonus Rp 8 juta,” kisah Alzin yang pernah berkuliah hanya 3 bulan di Telkom University Bandung ini.

Selama satu tahun lamanya Alzin berkarier di Insan Mulia Investama, ia berhasil mengumpulkan uang hingga Rp 100 juta. Dan dalam setahun itu pula, Alzin yang bermodalkan ijazah SMP diangkat menjadi karyawan lantaran prestasinya dalam menjual aset.

Tapi, Alzin masih merasa tak cukup menimba ilmu dari satu tempat. Setelah berhasil di Insan Mulia Investama, pada awal 2014, Alzin pindah ke sebuah perusahaan pengembang properti, PT Gaya Property Sarana. Di sana, kegigihan Alzin kembali berbuah manis. Ia mampu berbicara dengan Direktur Utama PT Gaya Property Sarana kala itu, Virta Dimas Catur Diputra.

Memulai kariernya sebagai Surveyor Asset, Alzin pun dipercaya naik tingkat untuk menjadi Broker. Dari situ Alzin mulai belajar bagaimana mencari aset yang berpotensi menguntungkan untuk dijual nantinya. Saat itu juga Alzin pertama kalinya belajar how to listing dan how to selling.

“Waktu itu, sekali closing ketima jadi broker bisa sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta,” kenang suami Anisa ini.

Merasa bekal dan pengetahuan yang diperlukan sudah cukup saat berkarier di PT Gaya Property Sarana, Alzin yang genap menginjak usia 16 tahun memutuskan untuk mendirikan perusahaan peropertinya sendiri pada 2015. Perusahaan pertamanya itu ia beri nama PT Gaya Realty Property. Dan projek pertama yang dikerjakannya adalah menjual aset yang dimiliki PT Gaya Property Sarana.

Pernah Menangis Kena Tipu

Tapi jalan hidup pria berzodiak Sagitarius ini tak selalu mulus. Di sela-sela mimpinya untuk bisa menjadi seorang pengusaha nyatanya ia pernah tertipu. Alzin sendiri mengakui bahwa jiwa mudanya yang berapi-api saat itu membuatnya suka mengambil keputusan serampangan, tanpa berpikir dua kali.

Nasibnya tertipu kala itu saat usianya masih 15 tahun. Kala itu ponsel pintar Blackberry sedang hangat dan menjadi acuan strata sosial bagi masyarakat Indonesia. Alzin melihat ada peluang di balik kegandrungan masyarakat Indonesia akan Blackberry. Ia pun memutuskan untuk mencari jaringan agar dapat mengimpor langsung ponsel pintar itu dari China. Ia berhasil menemukan jaringan importir yang menjual Blackberry jauh dari harga normal. Ia pun mencoba membeli dua ponsel Blackberry. Karena sedang digandrungi, dua ponsel itu terjual kurang dari satu minggu dan Alzin dapat untung besar.

Tergiur oleh peluang di depan mata, Alzin pun berani memutuskan untuk berinvestasi besar-besaran. Ia langsung memesan 20 unit Blackberry dengan mahar Rp 30 juta. Uang yang dipakainya itu benar-benar uangnya sendiri. Sebelumnya Alzin sempat mengajak kakaknya untuk bergabung, tapi kakaknya merasa ada yang ganjil dengan si importir.

“Kakak saya bilang, harganya nggak masuk akal karena harga pokok penjualan (HPP) untuk gadget-nya aja bisa lebih dari itu. Otang itu nggak mungkin untuk (kalau menjual semurah itu). Tapi waktu itu saya nggak mendengarkan,” ungkapnya.

Alhasil, minggu demi minggu berlalu sejak Alzin mengirimkan uangnya kepada importir tapi barang yang dipesan tak kunjung tiba. Alzin sempat menghubungi si importir dan bertanya kenapa barangnya tak kunjung datang, tapi si importir berdalih bahwa ada kebijakan baru minimum pembelian. Alzin pun diminta menambah 25 unit lagi.

Tapi tabungan Alzin saat itu sudah ludes. Sadar ada yang aneh, Alzin sempat berselancar di internet dan menemukan modus penipuan yang menimpanya itu. Alzin mencoba menghubungi si importir lagi, tapi tak bisa. Saat itulah Alzin sadar dirinya sudah ditipu sampai-sampai menangis karena harus kehilangan uang tabungannya Rp 30 juta.

“Itu pertama kalinya saya menangis untuk bisnis,” akunya.

Pemikiran Konglomerat di Kepala Alzin

Pendiri komunitas Propertypreneur Club (PPC) dan Young Entrepreneur Forum (YEF) ini bisa besar dan berhasil berkat pemikirannya. Alzin bisa mendapatkan investor pertamanya di usia 16 tahun dan memberikan keuntungan kepada investor sampai Rp 300 juta.

Keberhasilan Alzin bisa menarik minat investor di usia 16 tahun hingga mendatangkan keuntungan sebesar itu sebenarnya efek samping dari keinginannya belajar di berbagai perusahaan. Alzin punya ideologi yang tertanam sejak dini; kalau mau jadi seorang entrepreneur, jangan pernah money oriented.

Maksud yang ingin disampaikan Alzin adalah ketika pertama kali terjun sebagai pebisnis, pengusaha atau trennya disebut entrepreneur, janganlah dulu berusaha mencari untung, membesarkan bisnis, hingga membuka cabang agar afdol disebut sebagai entrepreneur. Tapi, utamakan pengalaman untuk belajar, memperbaiki pola pikir, dan cara mencari solusi demi memecahkan masalah.

Selain pemikiran, seorang pengusaha juga perlu memiliki visi yang besar. Setidaknya itu yang menurut Alzin dimiliki oleh para konglomerat dunia seperti Bill Gates. “Visi Bill Gates ingin komputer yang semula besar bisa menjadi lebih kecil dan ada di setiap rumah. Dan sekarang itu sudah terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, uang dan keuntungan adalah efek samping yang diterima pengusaha seiring meningkatnya kemampuan mengelola bisnis.

“Saya berpikir usia 15-25 tahun itu fokus untuk belajar dan uang itu menjadi side effect,” ujar penulis buku The Conglomerate Mindset ini.

Konglomerat adalah orang yang berpikir besar dan jauh ke depan, katanya lagi. Dalam buku yang ditulisnya, The Conglomerate Mindset, Alzin menjabarkan bagaimana cara berpikir konglomerat, apa saja yang ada di kepalanya, dan apa saja yang mesti dilakukan untuk mewujudkan berbagai impian itu.

Bagi Alzin, semua kesuksesan dimulai dari sebuah pikiran. Karena tindakan merupakan buah dari pikiran. Karena itu seorang pengusaha perlu untuk berpikir besar. “Jadikan pikiran Anda sebagai dasar tindakan,” itulah yang ditulis Alzin dalam bukunya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version