Program Makan Bergizi Gratis dinilai tidak hanya berperan sebagai intervensi gizi untuk anak sekolah, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi daerah dalam skala besar. Sejumlah ekonom meyakini program ini memiliki potensi memicu perputaran ekonomi nasional hingga ratusan triliun rupiah, sekaligus memperkuat struktur ekonomi berbasis komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
Ekonom sekaligus mantan Direktur Program Magister Manajemen FEB UI, Harryadin Mahardika, menjelaskan bahwa konsep utama program ini bukan semata memberikan makanan sehat kepada pelajar, melainkan menghadirkan efek berganda yang menyentuh berbagai sektor. Dengan alokasi anggaran sekitar Rp300 triliun per tahun, ia memperkirakan Program Makan Bergizi Gratis dapat menghasilkan multiplier effect hingga tiga kali lipatnya.
“Program ini memberi nutrisi, tetapi dampak yang lebih besar justru muncul dari perputaran ekonomi riil di tingkat lokal. Dengan proyeksi anggaran yang mencapai Rp300 triliun, potensi dampak tidak langsung bisa mencapai Rp900 triliun,” ujar Harryadin dalam keterangan tertulis, Minggu, 16 November 2025.
Dampak Ekonomi Meluas ke Berbagai Sektor
Salah satu dampak langsung yang sudah terlihat adalah penciptaan lapangan kerja. Saat ini terdapat sekitar 22 ribu dapur yang beroperasi untuk mendukung program. Setiap dapur mempekerjakan sedikitnya 30 orang, sehingga total serapan tenaga kerja mencapai lebih dari 600 ribu orang.
Di Kota Surakarta misalnya, 73,7 persen pegawai di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan warga sekitar, terutama ibu rumah tangga. Kehadiran mereka tidak hanya membuka peluang kerja baru, tetapi juga turut meningkatkan daya beli masyarakat karena upah yang diberikan sedikit lebih tinggi dari UMR setempat.
“Setahu saya, pegawai SPPG di berbagai daerah mendapat upah harian yang bila dihitung total justru lebih besar dari UMR wilayah masing-masing. Dengan begitu, pendapatan masyarakat ikut meningkat,” jelas Harryadin.
Efek ekonomi lainnya terlihat pada sektor pertanian dan peternakan. Dalam konsep ideal program ini, SPPG diwajibkan membeli bahan baku dari produsen lokal. Ini membantu memotong rantai distribusi yang biasanya panjang dan merugikan petani serta peternak. Kini, mereka bisa menjual langsung kepada SPPG dengan harga lebih baik.
Harryadin memberikan gambaran, satu SPPG yang mengeluarkan Rp10 ribu untuk 3.000 porsi per hari mampu menciptakan perputaran uang hingga Rp30 juta per hari di tingkat lokal. Untuk Kota Surakarta yang memiliki 19 SPPG, total perputaran ekonominya mencapai Rp570 juta setiap harinya.
Kontribusi ke Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Selain petani dan peternak, sektor jasa juga kebagian manfaat. Peralatan dapur seperti kompor industri, mesin pengolah makanan, hingga kendaraan angkut membutuhkan perawatan rutin. Kondisi itu menjadi peluang baru bagi bengkel mobil, jasa servis elektronik, serta penyedia logistik lokal.
Tidak hanya itu, pembangunan dapur untuk menopang Program Makan Bergizi Gratis turut mendorong industri konstruksi, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penggunaan material lokal. Pemanfaatan limbah dapur menjadi kompos atau pakan ternak juga membuka peluang nilai tambah bagi petani dan peternak.
Dari seluruh rangkaian dampak tersebut, Harryadin memperkirakan kontribusi program terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 0,15 sampai 0,20 persen. Ia optimistis tambahan dorongan dari Program Makan Bergizi Gratis dapat membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak ke kisaran 5,1 hingga 5,2 persen pada akhir tahun.







