Bisnis Terasa Mandek? Coba Evaluasi Strategi Komunikasi untuk UMKM Ini!

0
6
Bisnis Terasa Mandek? Coba Evaluasi Strategi Komunikasi untuk UMKM Ini!
Bisnis Terasa Mandek? Coba Evaluasi Strategi Komunikasi untuk UMKM Ini! (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Strategi Komunikasi untuk UMKM sering dianggap sebagai urusan sederhana: balas chat, jawab pertanyaan, lalu tawarkan produk. Padahal, cara sebuah bisnis berbicara kepada pelanggan bisa menentukan apakah percakapan berlanjut atau berhenti begitu saja. Di Berempat.com, kami melihat banyak UMKM sudah punya produk bagus dan harga kompetitif, tetapi pertumbuhannya terasa mandek karena komunikasi dengan calon pembeli masih terlalu kaku, terburu-buru, atau justru tidak memberikan jawaban yang benar-benar dibutuhkan.

Perubahan ekspektasi pelanggan membuat persoalan ini semakin penting. Salesforce, melalui riset terhadap lebih dari 14.300 konsumen dan pembeli bisnis di berbagai negara, menemukan bahwa 73% pelanggan mengharapkan pengalaman yang lebih personal seiring perkembangan teknologi.

Artinya, pelanggan tidak ingin diperlakukan seperti nomor antrean. Mereka ingin pertanyaannya dipahami, kebutuhannya ditangkap, dan jawabannya relevan.

Hal ini juga menjelaskan kenapa kalimat sederhana seperti “Ada yang bisa dibantu?” kadang tidak cukup. Bisnis perlu belajar mengarahkan percakapan tanpa membuat pelanggan merasa sedang dikejar untuk membeli.

PT Mitra Mortar indonesia

Masalahnya Kadang Bukan Produk, tapi Cara Menyampaikannya! Begini Strategi Komunikasi untuk UMKM yang Perlu Dicoba

Bayangkan seorang pelanggan bertanya melalui WhatsApp, “Kak, ini harganya berapa?”

Respons pertama yang muncul mungkin hanya, “Rp150 ribu.”

Jawaban tersebut memang benar, tetapi percakapan langsung berhenti pada angka. Tidak ada informasi tambahan yang membantu pelanggan memahami apakah produk tersebut cocok untuk kebutuhannya.

Coba bandingkan dengan:

“Harganya Rp150 ribu, Kak. Produk ini biasanya dipakai untuk kebutuhan A dan B. Kakak sedang cari untuk penggunaan pribadi atau usaha?”

Pertanyaan lanjutan membuka ruang percakapan.

Pelanggan tidak merasa sedang didorong untuk checkout. Sebaliknya, mereka mendapatkan kesempatan menjelaskan kebutuhannya sendiri.

Di sinilah Strategi Komunikasi untuk UMKM mulai memainkan peran penting. Tujuannya bukan berbicara sebanyak mungkin, tetapi membuat setiap jawaban memiliki fungsi.

Jangan Buru-Buru Menjual Sebelum Memahami Kebutuhan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah terlalu cepat mengirim katalog, daftar harga, atau promo begitu pelanggan menghubungi.

Padahal, belum tentu semua informasi tersebut relevan.

Pelanggan yang sedang mencari hadiah membutuhkan rekomendasi berbeda dengan pelanggan yang membeli untuk kebutuhan bisnis. Orang yang baru mengenal produk juga membutuhkan penjelasan berbeda dari pelanggan lama yang sudah paham spesifikasinya.

Karena itu, cobalah memakai pola sederhana:

Dengar → pahami → rekomendasikan → tawarkan.

Misalnya, setelah mengetahui kebutuhan pelanggan, penjual bisa mengatakan:

“Kalau untuk kebutuhan tersebut, saya lebih menyarankan varian ini karena ukurannya lebih praktis dan pemakaiannya lebih sederhana.”

Kalimat tersebut terasa seperti bantuan, bukan tekanan.

Pendekatan personal semacam ini juga sejalan dengan perubahan ekspektasi pelanggan. Salesforce mencatat 73% pelanggan menginginkan perusahaan memperlakukan mereka sebagai individu, bukan sekadar angka.

Strategi Komunikasi untuk UMKM yang Bisa Langsung Dipraktikkan

Komunikasi yang baik tidak harus memakai bahasa formal atau teknik sales yang rumit. Justru gaya bahasa yang sederhana sering terasa lebih manusiawi.

1. Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami

Hindari istilah teknis jika pelanggan belum tentu mengerti.

Daripada mengatakan “produk memiliki spesifikasi enhanced durability”, lebih baik menjelaskan bahwa produk tersebut “lebih tahan digunakan untuk aktivitas harian”.

Tujuannya agar pelanggan tidak perlu menerjemahkan informasi sendiri.

2. Jawab Pertanyaan Sampai Tuntas

Jika pelanggan bertanya soal harga, jangan hanya menyebut angka.

Berikan informasi yang memang kemungkinan mereka perlukan, seperti ukuran, varian, ongkos kirim, garansi, atau estimasi pengerjaan.

Ini membuat percakapan lebih efisien karena pelanggan tidak perlu bertanya satu per satu.

3. Jangan Menganggap Semua Chat sebagai Sinyal Closing

  • Ada pelanggan yang memang siap membeli.
  • Mungkin Ada juga yang masih membandingkan beberapa pilihan.
  • Ada yang sekadar mencari informasi.

Semuanya merupakan tahap yang berbeda. Memberikan waktu kepada pelanggan untuk mempertimbangkan pilihan justru dapat menciptakan pengalaman yang lebih nyaman.

Zendesk mencatat bahwa pelanggan saat ini semakin mengharapkan pengalaman layanan yang personal, cepat, dan terasa manusiawi.

4. Buat Template, tetapi Jangan Terdengar Seperti Robot

Template jawaban sangat berguna bagi UMKM yang menerima banyak pertanyaan.

Namun, jangan salin-tempel pesan yang sama untuk semua orang.

Sisakan ruang untuk menyesuaikan jawaban berdasarkan konteks pelanggan.

Misalnya, template pembuka bisa sama, tetapi rekomendasi produk dan pertanyaan berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Ukur Percakapan, Bukan Hanya Jumlah Penjualan

Komunikasi bisnis juga perlu dievaluasi.

Perhatikan pertanyaan apa yang paling sering muncul. Catat bagian mana yang membuat pelanggan berhenti merespons. Lihat pula produk mana yang paling banyak ditanyakan tetapi paling sedikit menghasilkan transaksi.

Dari sana, bisnis dapat menemukan masalah yang sebelumnya tidak terlihat.

Misalnya ternyata pelanggan sering menanyakan ongkos kirim karena informasi tersebut tidak tersedia di katalog. Atau mereka banyak bertanya soal ukuran karena foto produk tidak memberikan gambaran skala yang jelas.

Jadi, data percakapan sebenarnya bisa menjadi sumber informasi untuk memperbaiki pemasaran.

Bagi UMKM, pendekatan ini penting karena setiap interaksi memiliki nilai. Pemerintah sendiri terus mendorong digitalisasi UMKM dan peningkatan daya saing usaha kecil melalui berbagai program. Kementerian Perdagangan, misalnya, mencatat program business matching UMKM sepanjang semester I 2025 menghasilkan transaksi sebesar US$87,04 juta.

Angka tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki ruang pasar yang luas, tetapi kemampuan mengelola komunikasi dan hubungan bisnis tetap menjadi bagian penting dalam memenangkan pelanggan.

Intinya, strategi komunikasi untuk UMKM bukan tentang menjadi penjual yang paling pintar berbicara. Yang lebih penting adalah mampu membuat pelanggan merasa didengar dan memperoleh jawaban yang relevan.

Bisnis yang komunikasinya jelas akan lebih mudah membangun kepercayaan. Pelanggan tahu apa yang ditawarkan, mengerti manfaatnya, dan merasa nyaman mengambil keputusan.

Jadi, ketika penjualan terasa mandek, jangan buru-buru menyalahkan produk, harga, atau algoritma. Coba periksa kembali cara berbicara dengan pelanggan. Bisa jadi, perubahan kecil dalam cara menjawab chat, mengajukan pertanyaan, dan menawarkan solusi justru menjadi bagian penting dari Strategi Komunikasi untuk UMKM yang selama ini terlewat.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan