
Kementerian Perindustrian memastikan industri alas kaki nasional bersama sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) berada dalam kondisi siap menghadapi lonjakan permintaan masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Pemerintah menilai kapasitas produksi industri alas kaki nasional saat ini cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang setiap tahun meningkat pada periode tersebut.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, peningkatan konsumsi produk tekstil dan alas kaki merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi menjelang Hari Raya. Oleh karena itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan pelaku usaha agar produksi tetap berjalan optimal dan distribusi barang ke pasar dapat berlangsung lancar.
Menurut Agus, hasil komunikasi dengan berbagai asosiasi industri menunjukkan bahwa sektor tekstil serta industri alas kaki nasional masih memiliki kemampuan produksi yang memadai untuk merespons kenaikan permintaan masyarakat. “Momentum Ramadan dan Idulfitri memang selalu mendorong konsumsi produk sandang dan alas kaki. Saat ini kapasitas produksi nasional masih berada dalam kondisi yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (10/3).
Industri Padat Karya yang Menyerap Jutaan Tenaga Kerja
Selain berperan dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, sektor tekstil dan industri alas kaki nasional juga menjadi salah satu sektor manufaktur padat karya yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Industri ini tidak hanya berperan dalam aktivitas produksi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan tenaga kerja.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa sektor TPT mencatat pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 3,55 persen secara tahunan pada 2025. Kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional juga mencapai sekitar 0,97 persen, yang menunjukkan bahwa industri ini tetap menjadi bagian penting dari struktur manufaktur nasional.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Rizky Aditya Wijaya menjelaskan bahwa sektor TPT terus menjalankan peran sosial-ekonominya melalui penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor ini tercatat mencapai sekitar 3,96 juta orang.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2025 yang berada di kisaran 3,76 juta pekerja. Peningkatan ini mencerminkan bahwa sektor tekstil dan industri alas kaki nasional masih menjadi salah satu tulang punggung industri manufaktur dalam menyerap tenaga kerja.
Pemerintah Pantau Produksi dan Distribusi
Untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi selama Ramadan hingga Idulfitri, pemerintah melakukan sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah memantau utilisasi kapasitas produksi industri tekstil, pakaian jadi, serta industri alas kaki nasional secara berkala.
Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan produsen bahan baku, seperti serat, benang, kain, hingga material pendukung untuk industri alas kaki. Langkah ini bertujuan menjaga kelancaran pasokan bahan baku sekaligus mencegah lonjakan harga yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
Selain memastikan kesiapan produksi, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal atau thrifting yang masuk ke pasar domestik. Praktik tersebut dinilai merugikan industri dalam negeri, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah yang bergerak di sektor tekstil.
“Kami terus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal karena hal ini dapat menekan daya saing industri dalam negeri,” ujar Rizky.
Sementara itu, laporan dari pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menunjukkan adanya peningkatan produksi sejak awal 2026. Kenaikan tersebut terutama terjadi pada produk yang banyak dicari masyarakat menjelang Lebaran, seperti busana muslim, kain sarung, pakaian anak, sepatu kasual, hingga sandal.




