Koperasi Desa Merah Putih, Senjata Baru UMKM Hadapi Persaingan Pasar

0
197
Koperasi Desa Merah Putih, Senjata Baru UMKM Hadapi Persaingan Pasar
Koperasi Desa Merah Putih, Senjata Baru UMKM Hadapi Persaingan Pasar (Dok Foto: Kementerian UMKM)
Pojok Bisnis

Memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia, semangat kemerdekaan kembali dimaknai bukan hanya sebatas bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga sebagai upaya mewujudkan kedaulatan ekonomi. Salah satu langkah konkrit adalah peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) oleh Presiden RI pada 21 Juli 2025 lalu.

Sebanyak 80.081 koperasi tingkat desa dan kelurahan diresmikan sebagai wadah bersama untuk memperkuat kemandirian desa, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Presiden Prabowo Subianto menggambarkan konsep koperasi seperti seikat lidi: satu lidi rapuh, tetapi jika disatukan akan menjadi kekuatan besar yang mampu menghadapi berbagai tantangan. “Koperasi adalah alat perjuangan bagi mereka yang masih lemah. Kalau bersatu, kekuatan itu akan tumbuh, dari ekonomi yang rapuh menjadi kokoh,” ujarnya.

Bagi Kementerian UMKM, KDMP berperan sebagai agregator yang mengonsolidasikan kekuatan pelaku UMKM agar mampu bersaing. Deputi Bidang Usaha Mikro, Riza Damanik, menegaskan koperasi membuka peluang bagi UMKM untuk membentuk klaster usaha, mengakses pembiayaan dengan mudah, memperoleh bahan baku secara efisien, hingga memperluas pasar.

PT Mitra Mortar indonesia

Peran Strategis Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam Pemberdayaan UMKM

“Tantangan utama UMKM adalah keterbatasan skala usaha yang membuat biaya produksi tinggi dan produktivitas rendah. Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, UMKM bisa mendapatkan kepastian pasar, pasokan bahan baku, serta peluang tumbuh yang lebih besar,” jelas Riza.

Model ini juga memberi kesempatan bagi produk unggulan daerah untuk menembus pasar lebih luas. Di Bangka Belitung, misalnya, produksi madu lokal kini dikelola bersama dalam koperasi, dengan standar mutu, kemasan, dan pemasaran yang lebih profesional. Dampaknya, produk madu tersebut lebih mudah diterima pasar dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Hal serupa terjadi di sektor pertanian dan perikanan. Petani dan nelayan kini mendapatkan akses pupuk, benih, dan bahan baku berkualitas dengan harga terjangkau. Sebelumnya, mereka harus mencari pasokan sendiri dengan harga fluktuatif dan kualitas tidak konsisten. Melalui koperasi, seluruh proses menjadi lebih efisien sehingga pelaku UMKM dapat fokus meningkatkan produktivitas dan inovasi.

Riza optimistis, langkah ini bukan hanya menambah jumlah koperasi, tetapi juga meningkatkan kualitas dan daya saingnya di kancah global. “Kita ingin koperasi Indonesia tidak sekadar besar dalam jumlah, tetapi juga kuat, produktif, dan membanggakan,” pungkasnya.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan