
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan ruang publik transportasi melalui program Kereta IP. Inisiatif ini menghadirkan livery KAI bertema Intellectual Property (IP) lokal yang diaplikasikan langsung pada rangkaian kereta api jarak jauh. Kehadiran livery KAI tersebut menandai langkah konkret penguatan ekosistem ekonomi kreatif dengan memanfaatkan infrastruktur publik sebagai medium promosi karya anak bangsa. Melalui program ini, livery KAI tidak lagi dipahami sebatas identitas visual, tetapi juga sarana narasi kreatif yang menjangkau masyarakat luas.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan perubahan cara pandang dalam mengelola aset publik. Kereta api, menurutnya, dapat berfungsi sebagai ruang ekspresi kreatif yang memiliki daya jangkau tinggi. Dengan menjadikan badan kereta sebagai kanvas berjalan, karya IP lokal dapat tampil di ruang publik tanpa sekat, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Sebanyak 11 IP lokal terlibat dalam program ini, yakni Jumbo, Lokerserem, Belanja Ria, Pletesan, Arlo, Glek n Go, Mora Olfi, Nine to Field, Menyonisme, Skudeye, dan Kosanimal. Seluruh IP tersebut diwujudkan dalam desain visual tematik yang dipasang pada lokomotif dan bodi eksterior kereta, khususnya selama periode Natal dan Tahun Baru. Kehadiran karakter-karakter ini diharapkan mampu memperluas eksposur IP lokal serta membuka peluang ekonomi baru bagi para kreator.
Menurut Irene, peran Kementerian Ekonomi Kreatif dalam program Kereta IP adalah mempertemukan kebutuhan BUMN transportasi dengan potensi industri kreatif nasional. Kolaborasi ini dirancang untuk menghasilkan nilai tambah, baik secara ekonomi maupun kultural, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap karya dalam negeri.
Kereta Api sebagai Ruang Ekspresi Kreatif Publik
Dari sisi operator, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa program Kereta IP merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan publik yang adaptif dan bernilai tambah. KAI melihat potensi besar dalam optimalisasi aset transportasi untuk mendukung industri kreatif, tanpa mengesampingkan fungsi utama kereta sebagai sarana mobilitas yang aman dan nyaman.
Secara implementasi, livery bertema IP Jumbo diterapkan pada rangkaian KA Argo Dwipangga yang melayani rute strategis seperti Gambir, Bandung, Semarang Tawang, hingga Surabaya Pasar Turi. Selain itu, livery tematik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 juga hadir pada sejumlah layanan kereta api antar kota lainnya, termasuk KA Argo Wilis/Turangga, KA Jayabaya/Gaya Baru Malam Selatan, KA Pandalungan, serta KA Argo Dwipangga. Rute-rute tersebut dikenal memiliki tingkat mobilitas tinggi, sehingga dinilai efektif sebagai media promosi kreatif.
Dari perspektif kreator, perwakilan IP Factory Commutorline, Lokoloko, menilai kereta api sebagai ruang publik yang memiliki ikatan emosional kuat dengan penumpang. Interaksi visual yang tercipta selama perjalanan memungkinkan karakter dan cerita IP lokal hadir secara kontekstual dalam aktivitas masyarakat sehari-hari. Hal ini menjadikan kereta api sebagai medium storytelling yang inklusif lintas generasi.
Program Kereta IP sejalan dengan semangat pelayanan KAI yang berorientasi pada pengalaman pelanggan. Selama periode Natal dan Tahun Baru 2025–2026, rangkaian kereta dengan livery IP lokal diharapkan mampu memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan, sekaligus memperkuat citra transportasi publik sebagai bagian dari ekosistem kreatif nasional.




