Indeks Risiko Manufaktur, Indonesia Naik 7 Peringkat

0
138

Indonesia naik tujuh peringkat dalam hal manufacturing risk index 2019 atau Indeks Risiko Manufaktur mengenai lokasi yang paling cocok untuk industri manufaktur global. Hal ini diungkap perusahaan konsultan realestat Cushman & Wakefield meluncurkan risetterbarunya.

Penilaian dilakukan terhadap 48 negara di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA); Amerika; serta negara-negara di Asia Pasifik. Lembaga ini menghimpun data yang didapatkan dari berbagai sumber, antara lain Bank Dunia, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), dan Oxford Economics.

Indeks Risiko Manufaktur yang dikeluarkan Cushman & Wakefield memberikan penilaian dengan tiga skenario utama yaitu Baseline, Biaya, dan Risiko. Pada tahun ini peringkat Indonesia Dalam skenario Baseline, menempati posisi ke-13 tepat di atas Singapura dan di bawah Portugal.

Posisi pertama ditempati oleh China karena peran pemerintahnya yang berinvestasi serta mengadopsi teknologi. Posisi kedua ditempati oleh AS. Negara ini disebut menarik bagi para pelaku industri manufaktur terutama bagi mereka yang ingin meminimalisasi risiko politik dan ekonomi. Posisi selanjutnya ditempati oleh India, Kanada, dan Republik Ceko.

Sementara dalam skenario Biaya, Indonesia berada di peringkat ke-4 tepat di atas India dan di bawah China, Malaysia, serta Vietnam. Head of Research for Singapore and South East Asia, Christine Li mengatakan untuk skenario ini, Vietnam naik 8 peringkat dari 23 pada 2018 menjadi 15 pada 2019. Selain itu, peringkat Indonesia juga naik 7 tempat dari 20 pada 2018 menjadi 13 pada 2019.

Penilaian dalam skenario Biaya juga memberikan angka lebih tinggi bagi negara-negara dengan biaya operasi (termasuk upah buruh) yang rendah, di mana China tetap menempati posisi utama.

“Lokasi berbiaya rendah di Asia Pasifik masih menarik untuk manufaktur padat karya dan akan terus dicari mengingat daya saing biayanya,” ujar Head of Research Cushman & Wakefield for Asia Pacific, Dominic Brown.

Menurut Li negara ini terus berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk mengimbangi transformasi cepat dalam manufaktur.

“Kerangka peraturan Singapura yang kuat menawarkan kepada para produsen tingkat perlindungan yang wajar dari risiko geo-politik dan kekayaan intelektual,” sambung Li

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here