Swasembada Beras Tercapai kembali ditegaskan pemerintah sebagai capaian strategis yang mulai terlihat jelas memasuki awal 2026. Pernyataan ini merujuk pada menguatnya produksi nasional serta cadangan beras pemerintah yang menjadi tulang punggung stabilitas harga dan distribusi di berbagai daerah. Pemerintah menilai bahwa fondasi penyediaan pangan pokok kini berada dalam kondisi yang jauh lebih solid dibanding beberapa tahun sebelumnya, sehingga target Swasembada Beras Tercapai bukan sekadar klaim, tetapi didukung data teknis di lapangan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa stok beras nasional dalam situasi aman. Posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang terus terjaga menjadi elemen penting dalam mengendalikan pasokan, sekaligus memastikan program distribusi pangan berjalan tanpa hambatan.
Direktur Distribusi Pangan Bapanas, Rachmi Widiriani, menyampaikan bahwa stok beras yang dikelola Perum Bulog per 12 Januari 2026 mencapai 3,36 juta ton. Angka tersebut terdiri atas 3,23 juta ton CBP dan sekitar 129 ribu ton stok komersial.
Penguatan Cadangan dan Distribusi Nasional
Menurut Rachmi, jumlah cadangan yang ada memberikan kepastian bahwa kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi tanpa opsi impor. Fokus kebijakan tahun ini diarahkan pada kelancaran distribusi, pemerataan pasokan, serta stabilitas harga pada tingkat konsumen. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menginginkan gejolak harga terjadi di tengah upaya menjaga momentum Swasembada Beras Tercapai yang terus dikawal.
Penguatan cadangan juga berjalan beriringan dengan program stabilisasi melalui penyaluran bantuan pangan dan intervensi harga. Hingga 12 Januari 2026 pukul 04.01 WIB, realisasi Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng untuk alokasi Oktober–November 2025 sudah mencapai 96,71 persen atau sekitar 17,67 juta Penerima Bantuan Pangan. Total komoditas yang telah tersalurkan meliputi 353,5 ribu ton beras dan 70,7 juta liter minyak goreng. Pemerintah terus mempercepat distribusi untuk sisa alokasi, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang.
Meski pasokan beras nasional tergolong kuat, dinamika harga tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kelancaran logistik, permintaan musiman, hingga kondisi spesifik tiap daerah. Rachmi menjelaskan bahwa swasembada tidak serta-merta menjamin harga selalu stabil, sehingga pemantauan harian masih menjadi instrumen penting. Pemerintah pun menyiapkan langkah intervensi lewat operasi pasar dan penyediaan beras SPHP jika dibutuhkan.
Di tingkat daerah, sebagian besar pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga telah menguatkan Cadangan Beras Pemerintah Daerah (CBPD). Cadangan ini menjadi lapisan pengaman tambahan jika terjadi lonjakan harga atau kondisi darurat.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan capaian swasembada beras pada 7 Januari. Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut produksi beras sepanjang 2025 mencapai 34,71 juta ton dengan surplus sekitar 3,52 juta ton dari kebutuhan nasional.





