Intervensi Harga Beras Efektif, Daerah dengan Tren Penurunan Harga Bertambah

0
187
Intervensi Harga Beras Efektif, Daerah dengan Tren Penurunan Harga Bertambah
Intervensi Harga Beras Efektif, Daerah dengan Tren Penurunan Harga Bertambah (Dok Foto: Bapanas)
Pojok Bisnis

Badan Pangan Nasional (NFA) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di tengah dinamika pasar yang masih bergejolak. Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah Intervensi Harga melalui penyaluran beras oleh Perum Bulog, khususnya di 214 kabupaten/kota yang harga berasnya masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi, menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan dengan menghadirkan beras Bulog yang dijual di bawah harga pasar. “Jika HET beras medium di zona 1 ditetapkan Rp 13.500 per kilogram, maka Bulog hadir menawarkan harga Rp 12.500 per kilogram. Dengan begitu masyarakat memiliki alternatif lebih murah dan secara bertahap harga di pasaran dapat ditekan,” ujar Arief dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/9/2025).

Intervensi Harga dan Bantuan Pangan

Selain Intervensi Harga, NFA bersama Bulog juga mengintensifkan program penyaluran bantuan pangan (banpang) beras untuk 18,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Program ini telah terealisasi hampir 99 persen, di mana setiap keluarga mendapatkan 20 kilogram beras. Arief menekankan bahwa langkah ini bukan hanya menjaga pasokan di pasar, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat yang paling terdampak.

Arief juga menjelaskan bahwa kenaikan harga beras medium dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.500 per kilogram merupakan penyesuaian normal seiring harga gabah di tingkat petani yang kini berada di kisaran Rp 6.500–Rp 7.000 per kilogram. “Jika harga gabah naik, harga beras medium wajar ikut menyesuaikan. Yang terpenting Bulog tetap hadir dengan opsi harga lebih rendah agar masyarakat tidak terlalu terbebani,” jelasnya.

PT Mitra Mortar indonesia

Dari sisi produksi, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi aman. Hingga Oktober 2025, produksi beras diperkirakan mencapai 31,04 juta ton dan sepanjang tahun dapat menembus 34 juta ton, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.

“Yang membanggakan, tahun ini Indonesia tidak perlu impor beras. Justru stok dalam negeri melimpah berkat sinergi lintas kementerian dan lembaga di bawah arahan Presiden Prabowo,” kata Amran.

Fokus pada 214 Kabupaten/Kota

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rakor Pengendalian Inflasi menilai tren penurunan harga beras di sejumlah daerah sebagai kabar baik. Ia menyebut jumlah kabupaten/kota yang mencatat penurunan harga beras meningkat dari 51 menjadi 58 wilayah. Meski demikian, masih ada 214 daerah yang harganya belum sesuai acuan pemerintah.

“Minggu ini fokus kita adalah 214 kabupaten/kota tersebut. Upaya stabilisasi dilakukan bersama NFA, Bulog, dan Kementerian Pertanian melalui Gerakan Pangan Murah yang terbukti efektif membantu masyarakat,” ujar Tito.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan NFA, I Gusti Ketut Astawa, menambahkan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah segera digelar. “Besok (3/9/2025) seluruh daerah yang masuk daftar prioritas akan diundang bersama para pemangku kepentingan. Tujuannya jelas, melakukan intervensi stabilisasi pangan secara lebih terarah,” kata Ketut.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan